
Kamu begitu cantik, apalagi saat marah.
Kembali sebuah cuplikan kalimat dalam novel “De Luna” mampu membuat Luna melayang. Tapi kali ini tanpa senyum manis yang menghiasi wajahnya. Air mata yang membersamai kepergian Rendra bagai tak bisa kering dari mata gadis itu. Setiap saat, setiap waktu, saat ingatan tentang Rendra muncul, air mata itupun dengan mudah mengalir kembali.
Cepat sembuh sayang! Tidak kah kamu tahu, aku lebih sakit melihatmu seperti ini.
Luna menghembuskan nafas panjang. Mencoba kembali mengingat moment-moment saat bersama Rendra, moment yang awalnya sangat tidak dia harapkan. Tapi kini sangat dirindukannya.
Aku tahu kamu mencintaiku. Kapan kamu mau jujur dengan hatimu?
“Aku mencintaimu mas, aku sangat mencintaimu.” Kembali Luna histeris dan berteriak. “Kenapa kamu pergi mas? Kenapa kamu meninggalkanku?”
“Luna sadar nak, sadar sayang,” ucap ibu Luna yang segera datang saat mendengar teriakan putrinya. “Sudahlah sayang, ini semua adalah takdir. Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik untuk Rendra dan kamu nak.”
“Tapi kenapa harus secepat ini bu? Bahkan mas Rendra belum tahu bahwa aku sangat mencintainya,” ungkap Luna sambil menangis di pelukan sang ibu.
“Rendra tahu nak, suamimu pasti tahu semuanya. Dan kini, dia pasti akan sangat sedih melihatmu seperti ini,” hibur sang ibu.
Inilah kehidupan, saat hati harus menerima kenyataan, penyesalan baru datang. Kehilangan seseorang yang dicintai, memberikan rasa sakit yang tiada tara. Kenapa penyesalan selalu datang di belakang?
Kini setiap langkah yang ditinggalkan, hanya memberikan rasa sesal yang dalam. Jika bisa mengulang waktu, mungkin Luna akan kembali ke masa lalu dan mengatakan jika dirinya sangat mencintai Rendra. Menebus semua kesalahan-kesalahannya dan berjanji untuk selalu mencinta.
Tapi saat ini, cinta yang dirasa bagai butiran debu yang terpenjara di dalam toples yang hampa. Yang hanya mampu mewarnai ingatan, membakar relung hati untuk menambah sakitnya luka.
*****
Tujuh hari setelah kepergian Rendra.
Luna duduk di kursi panjang yang selalu Rendra pakai setiap malam untuk tidur. Saat ini, kursi tersebut adalah spot favoritnya. Setiap malam gadis itu tidur di kursi tersebut. Di tempat itu, Luna bisa merasakan aroma parfum Rendra yang masih melekat. Aroma itu mampu membuat Luna merasa tenang. Melalui aroma itu pula, Luna bisa merasakan jika Rendra masih bersamanya hingga kini.
“Lun, bagaimana keadaanmu nak?” tanya ibu Luna yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Ibu,” jawab Luna sambil menyunggingkan senyum. Sudah pasti itu adalah senyum palsu, yang Luna berikan untuk sang ibu agar beliau tidak cemas memikirkannya. “Semua sudah selesai bu?” tanya Luna. Ibu hanya
mengangguk sambil tersenyum.
Acara kirim doa tujuh hari kepergian Rendra baru saja selesai. Para asisten rumah tangga masih sibuk dengan pekerjaannya di belakang. Luna yang sudah tidak mampu membendung air mata, hanya bisa berjalan menuju kamar dan membiarkan semua berjalan tanpa dirinya.
“Kamu harus kuat Luna. Bukan ini yang Rendra harapkan darimu nak. Rendra pasti akan sangat bersedih melihatmu seperti ini, Lun.”
Luna memandang sang ibu sekilas. Tidak berani menatap lama, karena bendungan air mata di pelupuk matanya telah membuat pandangannya kabur.
“Fikirkan yang lain Luna, perusahaan Rendra membutuhkanmu dan juga keluarga Rendra saat ini. Hidup terus berjalan nak.”
“Ibu..” Luna memeluk sang ibu erat. Dia telah kehilangan dua orang laki-laki yang sangat dia cintai. Perempuan yang dipeluknya saat inilah satu-satunya tempat baginya untuk terus bertahan.
“Tetaplah di sini bu.”
“Maafkan ibu, sayang. Ibu ingin sekali menemanimu dan terus bersamamu. Tapi kamu sudah dewasa Luna, kamu harus bisa menghadapi ini semua. Ingatlah, perjalananmu masih sangat panjang. Di depan kamu akan banyak menghadapi masalah, bahkan yang lebih berat. Ibu selalu menyayangimu Luna, datanglah jika kamu membutuhkan ibu, Ibu akan selalu ada untukmu.”
“Ibu…” Kembali Luna memeluk sang ibu. Ibunya benar, ini bukanlah akhir. Bahkan ini adalah babak baru dari apa yang akan terjadi.
*****
“Non Luna ada yang ingin bertemu,” kata bi Inah saat Luna mulai akan menyantap sarapannya. Gadis berpakaian rapi tersebut memandang asistennya dengan tatapan bingung, seraya bertanya dalam diam, siapa yang ingin menemuiku?
“Ada dua orang laki-laki di depan. Mereka adalah pengacara Tuan Rendra,” imbuh bik Inah yang sepertinya tahu pertanyaan dalam hati majikannya itu.
Luna segera menyelesaikan makannya, meminum air putih di sampingnya, kemudian berjalan menuju ruang tamu.
“Anda mencari saya?” tanya Luna heran. Terang saja, baru pertama kali gadis itu bertemu laki-laki tersebut.
“Ibu Luna, maaf menganggu waktunya. Saya Toni dan ini rekan saya Herman, kami adalah tim pengacara dari almarhum Tuan Rendra,” laki-laki itu menjelaskan.
“Iya, ada apa bapak-bapak mencari saya? Apa ada masalah?” tanya Luna dengan wajah kebingungan.
“Baiklah, kedatangan kami kemari untuk memberikan surat wasiat dari Tuan Rendra. Tuan Rendra mewariskan seluruh harta kekayaan, rumah, dan segala aset perusahaan untuk Ibu Luna. Dan kini ibu berhak untuk mengatur dan mengelola semua aset Tuan Rendra.
“Ah tidak bapak, sepertinya anda salah. Suami saya masih memiliki saudara dan juga ibu. Jadi tidak mungkin jika saya yang berhak atas semua kekayaan milik suami saya.”
“Tidak bu Luna, dalam surat wasiat ini tertulis jelas bahwa ibu Luna lah yang mendapatkan seluruh hak waris. Bukan ibu Tuan Rendra atau bahkan saudaranya. Ibu Luna bisa melihat surat ini.” laki-laki itu memberikan surat wasiat Rendra kepada Luna.
Luna terdiam beberapa saat, membaca dengan teliti bunyi surat tersebut. Dimana di bagian bawah terdapat tanda tangan Rendra dan juga materai yang menandakan jika surat ini sah.
“Tapi Pak saya…”
“Tuan Toni, Luna benar, anda mungkin salah. Rendra masih memiliki saudara dan juga ibu. Dia pasti membagi surat wasiat itu juga terhadap adik-adiknya kan.” Tiba-tiba perempuan setengah baya datang.
“Mama…,” ucap Luna dengan wajah berbinar saat melihat ibu mertuanya berdiri di depan pintu rumah itu.
“Saya ingin anda mengecek sekali lagi Tuan, saya tidak mau ada kekeliruan. Tidak mungkin putra saya mewariskan seluruh hartanya untuk gadis ini,” ucap ibu Rendra sambil mendelik ke arah Luna.
Luna yang sedari tadi ingin menjabat tangan dan memeluk mertuanya tersebut seketika berubah fikiran. Kenapa mama bersikap seperti itu? batinnya.
“Ma, mama apa kabar?” Luna mendekati ibu mertuanya hendak menjabat tangan dan juga memeluk. Namun perempuan itu seperti menghindar, dia sama sekali tidak menghiraukan menantunya itu.
“Saya minta sekali lagi, tolong periksa kembali surat wasiat itu Tuan!” imbuh perempuan itu sambil menjauhkan dirinya dari Luna.