
Luna menghembuskan nafas panjang saat melangkahkan kaki masuk ke rumah besar yang beberapa hari ini dirinya tinggalkan. Gadis itu sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi hal-hal yang pasti akan dialaminya di sini.
“Aku pasti akan kembali mengambil semuanya untukmu Mas,” ucap Luna. Inilah yang membuat dirinya menjadi lebih kuat.
“Hai mama, selamat pagi,” ucap Luna saat melihat ibu mertua tirinya itu tengah membaca majalah di taman depan sambil meneguk segelas teh.
Uhuuk, uhuuk, uhuuk, bu Fatma tampak sangat terkejut hingga tersedak.
“Mama hati-hati!” kembali Luna berucap kali ini dengan aksen tersenyum namun jahat.
“Kenapa kamu di sini hah?” tanya bu Fatma dengan ketus setelah mengusap mulutnya dengan tisu.
“Aku pulang Ma, Luna sudah pulang. Menantu cantik Mama sudah pulang, apakah mama merindukanku?”
“Tutup mulut kamu! Untuk apa kamu kembali ke rumahku?”
“Ini rumahku Ma, ini rumah Mas Rendra suamiku. Jadi ini adalah rumahku, rumah Luna.”
“Ini rumah saya dan Ryan.”
“Hanya 70%, 30% bagian rumah ini masih menjadi milik saya. Dan nantinya rumah ini juga akan kembali menjadi milik saya.”
Bu Fatma menyeringai, namun wanita itu hanya diam. Dia tidak bisa berkata apa-apa saat ini selain membiarkan Luna masuk ke dalam rumah.
Luna masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tersenyum saat melihat dekorasi di kamar ini masih tetap sama. Ya, Luna baru mendapat kabar dari bi Inah jika kamar miliknya dan Rendra akan dibongkar oleh bu Fatma dijadikan kamar utama bagi dirinya. Itu salah satu alasan yang membuat Luna juga ingin segera pulang ke rumah ini.
Tidak akan dia biarkan tangan kotor bu Fatma menyentuh barang-barang miliknya dan juga suaminya.
Luna meletakkan tubuhnya di tempat tidur. Ingatannya masih tidak bisa lepas dari wanita gila yang tadi ditemuinya. Kenapa wajah perempuan itu tidak asing baginya. Kenapa dirinya seperti melihat orang lain di sosok perempuan itu. Dan tatapan itu?
Mas Rendra, iya tatapan wanita itu seperti tatapan mas Rendra. Ah aku pasti salah, ucapnya sambil berusaha membuang fikiran itu dari otaknya.
Drrt, drrt, drrt, ponsel Luna berbunyi.
Gadis itu segera mengambil ponsel di tasnya dan tampak nama BU INGGIT di layar.
“Ada apa bu Inggit?” tanya Luna yang sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Bu, Tuan Ryan akan menjual seluruh saham perusahaan ini.”
“Apa?” Luna sangat terkejut mendengar laporan dari sekeretaris suaminya itu. Gadis itu sudah merasa jika Ryan akan melakukan sesuatu yang buruk kepada perusahaan. Tapi ini, ini semua di luar dugaannya. Bahkan dirinya tidak mengira bahwa Ryan akan melakukan hal bodoh itu.
Luna segera mengambil tasnya. Kemudian segera bergegas untuk pergi ke kantor.
“Mau kemana kamu?” seru bu Fatma saat melihat Luna hendak pergi kembali.
Luna tersenyum menyeringai kemudian mendekati sang ibu mertua, “menggagalkan niat buruk putramu,” jawabnya dengan tegas.
“Halo Ryan,” ucap bu Fatma setelah melakukan panggilan telefon. “Gawat, Luna telah kembali. Sekarang dia
sedang menuju ke kantor. Kamu harus hati-hati Ryan. Luna bukan lawan yang mudah. Mama melihat sebuah kekuatan baru dari matanya. Dia berbahaya Sayang. Ah, mama tidak mengerti apa yang kamu katakan Ryan, mama hanya ingin semua harta ini tetap menjadi milik kita.”
Wanita itu melemparkan ponselnya ke sova dengan marah. Kali ini dirinya merasa takut. Tatapan Luna tidak seperti tatapan Luna beberapa hari yang lalu. Ada sebuah kemarahan besar dalam setiap tatapan dan juga ucapan dari bibir gadis itu. Itulah yang membuat bu Fatma merasa cemas.
*****
“Apa ini?” ucap Luna sambil melemparkan beberapa berkas kepada Ryan yang tengah duduk santai di meja kerja Rendra sambil meneguk minuman keras dari botol di tangannya.
Ryan tersenyum, laki-laki itu tahu jika Luna akan melakukan hal tersebut.
“Hai kucing kecilku, kamu sudah kembali Sayang?”
“Tutup mulut kotormu itu Ryan!”
“Uust, uust, kamu memang kucing kecil liarku.”
“Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini Ryan. Aku masih memiliki hak atas semua property dan aset perusahaan ini. Jadi kamu tidak bisa semudah itu menjualnya.”
“Tidak masalah Luna, itu bukan hal penting. Investor besarku besok akan datang dan membeli semua saham perusahaan ini. Dan kamu, kamu jangan khawatir Sayang. KamI hanya tinggal memilih, hidup mewah dan bahagia bersamaku atau menjadi gembel di sini.”
“Bajingan kamu Ryan,” umpat Luna.
“Luna Sayang, dengar, dengarkan aku!” Ryan berusaha menenangkan Luna dan meminta gadis itu untuk mendengarkan penjelasannya.
“Esok investor kaya itu akan datang, dia akan membeli semua saham dengan harga yang fantastis.”
“Kamu sangat bodoh Ryan, apa yang akan terjadi dengan puluhan karyawan di sini jika kamu menjual sahamnya hahh? Kamu sama sekali tidak memikirkan mereka.”
“Masa bodoh, untuk apa Luna? Kamu pun juga tidak wajib memikirkan mereka. Dengarkan aku, kita akan untung besar Sayang. Bahkan kita akan untung jauh berkali-kali lipat lebih besar jika kita menjualnya dari pada kita menjalankan bisnis ini. Fikirkanlah Sayang!”
Luna terdiam, bukan menyutujui pendapat Ryan. Namun gadis ini masih tidak bisa menelisik jalan fikiran laki-laki di hadapannya. Luna tahu benar bisnis di perusahaan ini. Secara kasat mata pun gadis itu bisa menghitung dan mengambil kesimpulan bahwa apa yang Ryan baru saja katakan itu salah, salah besar. Itu tidak mungkin terjadi.
“Baiklah kucing kecilku, aku akan memberimu penawaran menarik. Setelah aset ini terjual, kamu akan mendapatkan bagianmu. Adil bukan?” ucap Ryan berharap gadis di depannya menyetujui usul yang dia berikan.
“Aku tidak menyangka Ryan, uang membuatmu buta. Uang membuatmu bodoh. Apa kamu pernah menghitung berapa omset dan juga laba perusahaan ini? apa kamu juga pernah menghitung berapa kerugian yang akan diterima jika kamu menjual saham perusahaan ini?”
Ryan tersenyum menyeringai. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ryan sama sekali tidak tahu menahu apapun tentang perusahaan ini. Yang diketahui oleh laki-laki rakus itu hanya uang yang besar. Dan yang Luna katakan tentang laba, omset, dan lainnya, laki-laki itu sama sekali tidak memahami.
Ah persetan dengan Luna, untuk apa aku berfikir hal tidak penting seperti itu. Setelah hari ini, aku akan mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidupku. Aku mendapatkan harta yang melimpah, aku akan bersenang-senang. Fikir Ryan.
“Apapun yang kamu katakan Luna, kamu hanya pemegang 30% saham perusahaan. Nilai yang sangat kecil,” ucapnya sambil tersenyum menyeringai kemudian pergi meninggalkan Luna.