
“Permisi..”, sapa seorang perawat yang masuk ke kamar perawatan Luna. Rendra yang masih memejamkan mata segera terbangun.
“Ibu Luna, kami akan mengambil sample darah Ibu untuk di cek,” ujar perawat tersebut sambil mempersiapkan beberapa jarum suntik yang diletakkannya di atas tempat tidur Luna.
“Hahh, saya mau disuntik?” kata Luna dengan wajah cemas, pandangannya tertuju pada jarum suntik di sebelahnya.
“Iya Bu, saya ambil sekarang ya.” Perawat itu mulai meraih tangan Luna.
Tapi Luna segera menghindar dan menarik tangannya, “Sus, bisa enggak kalau ambil darahnya enggak usah pakai jarum suntik. Ada cara lain mungkin,” ucap Luna polos yang pastinya membuat Rendra dan perawat yang ada di situ tertawa geli.
Ya, ketakutan Luna sejak kecil adalah dengan jarum suntik. Jangankan diambil darah, petugas imunisasi di sekolahnya dulu pun harus berlari mengejar Luna terlebih dahulu sebelum berhasil memasukkan jarum itu ke tubuh Luna.
“Mana bisa Bu Luna, kami harus mengambilnya dengan jarum terlebih dahulu,” ucap perawat itu dengan menahan tawa.
“Tidak, tidak mau.”
“Ayolah Lun, jangan seperti anak kecil! Berikan tangan kamu!” perintah Rendra. Namun Luna malah menatap Rendra sambil berkaca-kaca. Terlihat sekali jika gadis itu kini tengah ketakutan.
Rendra tertawa kecil melihat kepolosan sang istri. Dengan tangannya yang kekar laki-laki itu memegang kedua pipi Luna dan menatapnya tajam, “tenanglah, semua akan baik-baik saja,” ucapnya. Kemudian membenamkan wajah Luna di dada bidang miliknya dan mengelus rambut panjang gadis itu.
Perlakuan ini membuat Luna melayang. Gadis itu seperti terbang bersama burung-burung di angkasa. Ah Rendra, taukah dirimu jika ini semua mampu membuat Luna merasa sangat tenang dan nyaman dan melupakan semuanya.
“Auu..,” Luna berteriak dan melepaskan pelukan Rendra. Terlihat perawat sedang memasang plester di lengannya.
“Sudah, sudah selesai. Ternyata Ibu minta dipeluk dulu ya baru mau diambil darah. Nyaman banget ya, sampai enggak kerasa waktu diambil darahnya” Goda perawat sambil cekikikan kemudian pergi.
Luna hanya terdiam dan menunduk, malu sekali rasanya. Namun tak bisa dipungkiri jika dirinya juga merasa sangat senang. Hingga tanpa sadar senyum mengembang terlukis di wajahnya.
“Ngapain kamu senyum-senyum? Mau dipeluk lagi?” goda Rendrasambil kembali berusaha memeluk Luna.
Tapi kali ini gadis itu berusaha menolak, “apaan sih, dasar om-om mesum,” ucapnya sambil tertawa.
*****
“Tuh makanya jangan suka begadang. Udah tahu kalau suka begadang jadi gampang kambuh sakitnya. Itu pasti karena kamu suka nontonin tuh si drama korea,” omel Ibu Luna saat mereka sedang berbicara melalui panggilan
video.
“Banyak tugas Bu, ngerjain tugas ini anaknya.” Luna berusaha membela diri.
Sementara Rendra yang tengah memotong buah untuk Luna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan pertengkaran ibu dan anak tersebut. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi, tapi entahlahsetiap bertemu atau bahkan berbicara lewat telepon, mereka selalu bertengkar.
“Ibu ke sini dong,” rengek Luna.
“Ibu ingin sekali menemani kamu di sana Nak, tapi ada banyak yang harus ibu selesaikan di sini. Musim panen telah tiba, jadi ibu harus mengawal para petani di kebun teh,” ucap ibu dengan suara pelan yang pastinya sangat berat untuk mengucapkan kalimat tersebut di hadapan putrinya.
“Ibu jangan khawatir, ada Rendra di sini. Rendra akan selalu menjaga Luna dengan baik,” jawab Rendra sambil menampakkan dirinya ke dalam frame kamera panggilan video.
“Ibu apaan sih..”
“Pasti Bu,” jawab Rendra sambil mengecup kening Luna.
“Ibu tenang kalau begitu, baiklah ibu tutup dulu ya teleponnya,” pungkas ibu sambil menutup sambungan telepon.
Sementara Luna menatap Rendra tajam, ditambah wajah pucat pasinya membuat gadis itu menjadi terlihat menyeramkan.
“Luna, ada apa?” tanya Rendra.
“Dasar mesum, siapa suruh cium kening?” teriak Luna yang sepertinya lupa dengan sakit yang dideranya.
“Ooh, itu ada ibu. Kan biar lebih meyakinkan gitu. Biar ibu enggak khawatir, kan kasihan kalau ibu juga terus-terusan mikirin kamu.”
Alasan yang masuk akal. Namun masih membuat Luna tidak terima. Tatapan gadis itu masih seperti singa yang akan menyerang mangsanya.
Cuupp, kembali sebuah kecupan mendarat di pipinya. Luna kembali terkejut. Gadis itu hanya bisa menganga melihat keberanian Rendra. Tanpa bisa menolak atau bahkan menghindar.
“Yang tadi biar ibu enggak khawatir, kalau yang ini untuk almarhum ayah agar tidak khawatir juga,” kata Rendra sambil tertawa kemudian berlari keluar kamar, sebelum bom atom di hadapannya meledak.
“Ihhhh, dasar mesum,” racau Luna setelah Rendra pergi. Namun tak lama gadis itu pun mengulumkan senyum manis dari bibirnya. Memegang pipi yang tadi dicium oleh Rendra dengan malu-malu.
*****
Hari ini adalah hari ke enam Luna dirawat di rumah sakit. Tidak sekalipun Rendra meninggalkan istrinya. Rendra merawat Luna dengan sangat baik. Bahkan laki-laki itu rela mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit, demi
bisa selalu menemani Luna.
Tak jarang secara bergantian para karyawan datang ke rumah sakit untuk meminta tanda tangan atau membicarakan masalah pekerjaan. Sehingga Rendra meminta ruang khusus yang terhubung dengan ruang perawatan Luna agar dirinya bisa bekerja dan menemani istrinya. Dan Luna pun dapat beristirahat dengan nyaman.
“Kamu pergi saja ke kantor,” kata Luna setelah Rendra mematikan panggilan telepon dengan orang kantornya.
“Lalu kamu?”
“Aku mau pulang, aku bosan di sini,” jawab Luna sekenanya.
“Kamu masih belum sehat, dokter bilang akan memberimu antibiotik lagi. Bersabarlah!” Kata Rendra yang masih sibuk dengan ponselnya. Wajah cemas laki-laki itu menandakan jika ada sesuatu yang terjadi.
“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Luna.
Rendra memandang istrinya dengan tersenyum, kemudian meletakkan ponselnya. “Tidak ada apa-apa, istirahatlah!” ujar Rendra sambil mengambil posisi tidur di samping Luna dan memeluk istrinya.
Luna tidak menolak, entahlah gadis itu tidak kuasa untuk menolak pelukan suaminya saat ini. Rendra terlihat sangat cemas, mungkin ini bisa sedikit memberikan rasa tenang untuknya. Meski tak bisa Luna pungkiri, bahwa berada di pelukan Rendra juga membuat dirinya sangat nyaman hingga tertidur pulas.