PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 66


Bu Diana tampak tersenyum bahagia dalam air mata yang masih mengalir di pipinya. Kabar yang Luna dan Rendra berikan mampu menghapus luka dalam hatinya.


"Apa ibu bahagia?" tanya Rendra sambil mengusap air mata sang ibu.


Bu Diana memukul punggung putranya tersebut, "dasar bodoh, apa yang kamu katakan? Ibu pasti sangat bahagia. Ibu sudah tidak sabar ingin mendengar tangis bayi cucu ibu. Menggendong cucu ibu. Tidak ada kebahagiaan yang mampu melebihi itu semua. Ya Tuhan, terimakasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini."


Bu Diana beralih ke Luna, ditatapnya sang menantu dengan penuh rasa sayang. "Terimakasih Luna, terimakasih kamu telah membuat hidup kami sempurna," ucapnya kemudian memeluk erat menantunya itu.


"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak ikut memeluk ku?" Dari jauh Max berkata dengan nada protes. Ya seperti itulah pemuda jomblo yang satu ini. Selalu ingin dipeluk dan haus akan kasih sayang.


"Max, bersiaplah! Kamu akan menjadi uncle," ucap bu Diana sambil tertawa bahagia.


"Apa? Kak, kalian akan menjadi orang tua. Dan aku akan dipanggil uncle Max."


"Iya Max." Rendra meyakinkan adiknya itu.


Max tertawa senang. Laki-laki itu berputar-putar mengelilingi Rendra, luna, dan juga bu Diana. Membuat semua yang ada di sana tertawa bahagia. Max masih terus berputar hingga tanpa sadar tubuhnya menabrak sesuatu.


"Aaaww" Terdengar suara teriakan. Max segera mendongak, tampak Rani tengah meringis kesakitan.


"Rani, kamu..."


"Apa yang kamu lakukan Max? Kenapa kamu menabrakku?" Tanpa babibu Rani segera mengeluarkan omelannya.


"Ah maaf, maaf Rani, aku tidak melihatmu."


"Bagaimana kamu bisa melihatku, kamu berputar seperti anak kecil." Rani masih terus mengomel sambil meringis kesakitan memegang perutnya yang terkena sundulan kepala Max.


Bu Diana, Luna, dan Rendra yang melihat kejadian ini hanya tertawa geli menyaksikan dua anak manusia yang tengah bertengkar tersebut.


"Apakah sakit?" Dengan wajah polos Max menanyakan pertanyaan tak penting itu.


"Ini sangat sakit, bodoh!"


"Ahh, bolehkah kupijat? Aku bisa memijat."


Kalimat Max membuat wajah Rani memerah, laki-laki tidak tahu malu, batinnya. Apalagi ketiga orang yang ada di tempat itu juga tertawa sambil menyembunyikan wajahnya.


"Tutup mulutmu!" serangai Rani sambil berlalu. Max hanya diam mematung sambil memandang Rani, apa aku salah? Batinnya.


"Rani, dengarkan ibu baik-baik. Sembunyikan kebiasaan buruk mu menggigit kuku ma sekarang. Tidak baik jika keponakan kecilmu nanti menirunya."


"Apa? Apa maksud ibu, Luna sedang..."


Rani melihat ke arah Luna yang kini tengah tersenyum senang. Gadis itu pun segera memeluk sahabatnya itu sambil mengucapkan selamat dan turut bahagia.


"Sayang, nanti digendong tante ya. Nanti ta te beliin es krim yang banyak. Kamu mau yang rasa apa? Nanti kita makan di taman, ok Sayang." Rani mengatakan kalimatnya di depan perut Luna. Semua orang ditempat itu merasakan sangat senang. Luna pun juga sangat bahagia melihat semua orang yang disayangi berbahagia.


"Kapan kita menikah dan memberikan kabar bahagia seperti ini ke semua orang?" Bisik Max di telinga Rani. Rani melirik Max dengan tatapan tajam, kemudian berjalan menuju dapur.


"Kenapa?" Tanya Max sambil berlari mengejar pujaan hatinya itu.


"Aku hanya akan menikah dengan laki-laki yang mencintaiku dan kucintai," jawab Rani sambil meneguk segelas air.


"Aku mencintaimu dan kamu, meskipun tidak mengatakannya tapi kamu juga sangat mencintaiku. Benar bukan?"


Uhuuk, uhuukk, Rani memuntahkan minumannya dari mulut. Gadis itu tersedak setelah mendengar pernyataan polos dan juga percaya diri dari mulut Max.


Max membantu Rani menenangkan diri. "Apakah ini artinya bukan cinta?" tanya Max sambil menatap Rani yang wajahnya sudah sangat merah seperti tomat.


Rani segera berlari meninggalkan Max, jika dirinya masih di sana bisa-bisa tubuhnya melayang ke angkasa karena tak tahan dengan kata-kata Max. Tidak bisa dipungkiri, Rani pun juga memiliki rasa untuk pemuda itu. Meskipun masih sedikit, tetapi dirinya merasa bahagia saat berada di dekat Max.


"Ehh, ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" Luna yang tengah melihat Rani dari jauh segera mendekat dan bertanya.


"Ah enggak kok, enggak. Siapa yang senyum-senyum sendiri? Emang aku gila." Dengan sedikit salah tingkah Rani menjawab pertanyaan Luna. Tidak akan dibiarkan sahabatnya itu tahu apa yang dirinya rasakan saat ini. Jika tidak, hal Luna akan mempermalukan nya.


"Idih, wajahnya merah kayak gitu." Luna mulai meledek setelah memperhatikan Rani. Apalagi dilihatnya dari jauh Max juga tengah senyum-senyum sendiri.


"Enggak, merah, merah kenapa? Aa, mungkin kena sinar matahari kali. Iya, mungkin tadi kan di luar panas."


"Ooh, panas. Panasnya gara-gara mas yang itu ya." Luna menunjuk ke arah Max. Hal ini membuat Rani merasa sangat malu. Bikin sekali, kenapa diri ya tidak bisa menyembunyikan hal ini dari Luna.


"Bagaimana, bagaimana kamu tahu?" tanya Rani masih dengan tersipu.


"Bodoh, aku sudah mengenalmu sejak kecil."


"Lalu bagaimana lun?"


"Apanya?"


"Apa Rendra dan bu Diana mengizinkan?"


Luna terbahak mendengar pertanyaan polos sahabatnya itu. Sejak kapan Rani menjadi gadis semanis ini.


"Hmm, sebenarnya sih tidak. Tapi berhubung kamu sahabatku jadi...."


"Ihh, apaan sih lun.." Rani mulai kesal dengan sahabatnya yang terkesan tidak serius.


Luna terus saja tertawa, "aku yakin kalian berdua pasangan yang sangat cocok. Max adalah pemuda yang sangat tepat untukmu. Semoga kalian berdua selalu diberikan kebahagiaan."


Rani tersenyum senang, kemudian memeluk sahabat terbaik nya itu.


*****


Luna tidak bisa memejamkan mata. Hari sudah sangat larut, bahkan hampir mendekati pagi. Suara halus nafas sang suami yang biasanya membuat dirinya nyaman, kini tidak lagi.


"Mas," rengek Luna membangunkan Rendra.


"Maass," rengeknya lagi saat Rendra masih belum membuka mata.


"Hmm, ada apa?" Balas Rendra sambil memeluk Luna.


"Aku tidak bisa tidur."


Rendra tersenyum sambil menghela nafas panjang dan membuka mata. Diletakkan kepala Luna di atas lengannya.


"Apa yang kamu fikirkan? Tidak ada yang perlu kamu cemas kan Sayang. Tidurlah!"


"Aku tidak memikirkan apapun Mas."


"Lalu?" Meskipun dengan mata yang hampir tidak bisa terbuka laki-laki itu masih setia mendengar keluhan sang istri.


"Aku ingin makan."


Rendra tersenyum mendengar ucapan Luna. Tidka apa-apa, mungkin bayi diperutnya sedang kelaparan.


"Aku akan menghangatkan makanan untukmu." Laki-laki siaga idaman pada wanita itu dengan sigap segera bangkit dari tempat tidurnya.


Akan tetapi Luna menarik tangannya, dengan wajah memelas gadis itu berkata, "aku ingin makan lontong balap Mas."


"Apa?" Rendra terkejut, sementara Luna hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.


"Ok, besok aku akan membelikannya untukmu." Dengan gemas Rendra mencubit pipi Luna dan mempersiapka diri untuk tidur kembali.


"Eh eh eh, tapi aku kan pengennya sekarang Mas."


""Ini dini hari Sayang, mana ada penjual lontong balap jam segini."


"Ya harus ada. Nanti anaknya ngileran lo. Nanti dia bilang gini, Papi jahat enggak beliin mami lontong balap."


"Enggak mungkin Sayang." Jawab Rendra kemudian meletakkan kembali tubuhnya di tempat tidur.


Namun tak lama terdengar suara tangisan, "kamu jahat banget sih Mas. Kamu enggak sayang sama aku, kamu enggak sayang sama anak kamu." Luna menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan balon.


"Luna, lun.."


"Aku mau lontong balap sekarang Mas," kata Luna yang masih terus menangis.


Rendra pun memegang kepalanya dengan dua tangan. Apa ini? Apakah seperti ini memiliki istri yang sedang hamil?


"Baiklah, Mas akan mencarinya." Ucap Rendra frustasi.