PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 8


Malam ini sangat indah, saat kita melihat ke langit tampak sebuah bulan sabit yang ditemani oleh bintang di tengahnya. Mereka seperti dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Bercanda bersama, saling cerita, membuat list kehidupan masa depan.


Apakah iya seperti itu? Bukankah bulan lebih besar dari pada bintang? Apa bisa mereka menjalani hidup bersama. Pemikiran-pemikiran absurd yang muncul di otak Luna membuat dirinya tersenyum seorang diri. Sama seperti Rendra dan aku, kami berbeda. Selera humor kami berbeda, usia kami jauh berbeda, batin Luna kemudian.


Prangg…


Luna dikejutkan oleh suara benda pecah belah. “Apa itu?” fikirnya yang membuat gadis itu segera beranjak untuk melihat sumber suara yang dia yakini berasal dari tempat kerja Rendra.


Betapa terkejutnya gadis itu kala melihat tangan dan kaki Rendra yang berlumuran darah disertai pecahan-pecahan kaca di dekat suaminya.


“Mas Rendra kenapa?” teriak Luna sambil berlari mendekati Rendra. Laki-laki itu seperti tidak memiliki tenaga sama sekali, dia hanya duduk dan pandangannya kosong.


“Mas Rendra…,” teriak Luna lagi sambil mengangkat tubuh Rendra sekuat tenaga dan meletakkan tubuh besar itu di sofa.


Melihat wajah Rendra yang seperti ini, Luna tahu benar jika laki-laki sedang tidak baik-baik saja. Dengan cepat gadis itu mengambil kotak P3K dan segera mengobati luka di tangan dan kaki Rendra. Sementara Rendra hanya memperhatikan Luna.


“Ini diminum dulu!” kata Luna sambil memberikan segelas air putih untuk Rendra, “Mas Rendra istirahat ke kamar saja, aku bersihkan ini dulu.”


“Luna,” ucap Rendra sambil menggenggam tangan Luna saat gadis itu hendak beranjak.


“Ayo kita ke kamar bersama, biar bik Inah yang membersihkan ini semua besok,” ucap Rendra. Luna mengangguk, tidak sedikit pun terbersit di otaknya untuk menolak permintaan Rendra. Mungkin rasa empati yang dia miliki lebih besar dari ego dalam dirinya.


Luna membantu Rendra berjalan menuju kamar, kondisi kaki Rendra yang terluka membuat gadis itu harus membopong tubuh suaminya. Dan dari sini pun dia tahu jika ternyata Rendra memiliki bentuk tubuh yang sangat atletis. Gadis itu bisa merasakan lekukan-lekukan six pack di perut suaminya, sedikit **** menurutnya. Meskipun


tidak secara langsung mereka bersentuhan, tapi entah mengapa ada hal berbeda yang Luna rasakan.


“Sudah, terimakasih Luna,” ucap Rendra saat mereka sudah sampai di tempat tidur Rendra.


“Sexi,” ucap Luna tanpa sadar.


“Apa?”


“Ah tidak, tidak,” jawab Luna gugup kemudian bergegas meninggalkan Rendra. Bodoh, bagaimana bisa dirinya terbawa suasana seperti ini.


Sementara Rendra hanya tersenyum manis melihat kelakuan istrinya. Ingin sekali laki-laki itu memeluk sang istri dan memadu kasih dengannya. Tapi tidak, cintanya lebih besar dari pada nafsu di dalam diri.


*****


Keesokan harinya Luna bangun lebih awal. Dia benar-benar menyetel alarm otaknya untuk hal ini. Luna tidak ingin membunyikan alarm ponselnya, karena dia tidak mau Rendra terbangun karena itu.


Gadis itu pergi menuju dapur, hari ini dia bertekad untuk membuat sarapan. Jika biasanya Rendra yang selalu menyiapkan sarapan untuknya, kali ini dirinya lah yang akan membuat makanan. “Aku pasti akan kelaparan jika tidak memasak,” ucapnya lirih. Meskipun dalam hati kecilnya, gadis itu juga ingin memasak makanan lezat untuk


Rendra.


“Eh tapi masak apa? Gimana masaknya? Emang aku bisa.” Kebodohan permanen yang kerap membuat gadis itu meratapi nasibnya. “Bukankah ada youtube, aku akan memasak sambil memutar video.”


Luna pun memulai aksinya. Dengan gaya khas seorang koki, gadis itu mulai memainkan alat dan bahan-bahan makanan yang ada di dapur. “Kalau cuma kayak gini sih gampang,” katanya sambil menari-nari kegirangan.


Sementara dari kejauhan tampak sepasang mata sedang memperhatikannya. Rendra memperhatikan seluruh gerak gerik istrinya sambil menahan tawa. “Eh garamnya kebanyakan itu,” ucap Rendra lirih sambil terus menahan tawa.


“Ah iya, maaf aku belum sempat..”


“Aku sudah memasak, Mas Rendra langsung aja sarapan di bawah. Semua sudah siap di meja.”


“Iya, kamu sudah sarapan?”


“Belum, nanti saja. Aku sekalian siap-siap ke kampus,” balasnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Hei apa-apaan ini? Haruskah aku makan makanan gagal itu seorang diri?” fikir Rendra yang kemudian tersenyum senang setelah mendapatkan sebuah ide.


“Loh kok belum ke bawah?” tanya Luna setelah keluar dari kamar mandi.


“Ah, kakiku sakit sekali untuk berjalan. Biar nanti saja bik Inah yang membawa makanan untukku,” jawab Rendra memulai aksinya.


“Oh iya, biar aku saja yang bawain makanannya. Kalau nunggu bik Inah bakal kesiangan.”


“Ah tidak Luna, aku akan belajar berjalan.”


“Eh jangan, nanti kakinya malah tambah parah.”


“Jika tidak digerakkan, akan kaku dan memperlama proses penyembuhan Luna. Atau bisakah kamu


membantuku ke meja makan?” pinta Rendra memberanikan diri.


Luna sedikit terpojok dengan permintaan itu. “Menolak Rendra di saat seperti ini, ah jahat sekali diriku. Tapi jika kubantu, pasti aku akan merasa aneh dan....” Luna ragu.


“Tidak usah Luna, aku akan berlatih sendiri,” kata Rendra menyadarkan Luna dari lamunanya.


“Aku akan membantumu,” kata Luna yang kini pun juga telah menggandeng tangan suaminya. Rendra merasa sangat senang.


Hal yang dirasakan Luna tadi malam kembali dirasakannya. Ada rasa aneh dalam tubuhnya saat tubuh itu menempel dengan tubuh Rendra. Seperti sebuah getaran yang membuat Luna semakin nyaman dan semakin tertarik kepada pria ini.


Aroma parfum yang sama, aroma parfum yang mampu membuat Luna melayang. Luna sangat menyukainya. Perjalanan dari kamar ke meja makan sangat dinikmati olehnya, meskipun dalam diam.


“Luna makanlah bersamaku! Aku akan kerepotan jika kamu tidak di sini. Tanganku masih sangat sakit untuk meraih sesuatu,” pinta Rendra.


Luna hanya mengangguk. Tampak sedikit manja memang, tapi biarlah. Semoga hanya hari ini saja, batinnya.


Ini pertama kalinya Luna makan bersama Rendra, dengan makanan yang dia masak sendiri. Dengan tenang Rendra menyantap makanannya. Luna yang melihat cara makan Rendra merasa yakin bahwa masakannya sangat enak. Dia pun melakukan hal yang sama.


Uhuk, uhuk, uhuk, Luna tersedak.


“Ada apa Luna? Minumlah!”


“Makanannya kenapa asin sekali? Ini tidak enak,” kata Luna sambil berlari memuntahkan makanannya.