
“Lun, malam ini Mas akan pergi makan malam dengan klien. Apa kamu mau ikut?” tanya Rendra tiba-tiba.
Luna yang masih merasa kikuk dengan apa yang telah terjadi tadi pagi hanya melirik Rendra sekilas tanpa memberikan jawaban. Mulutnya terasa kelu jika harus berucap di hadapan laki-laki itu. “Apa-apaan ini? semakin berani saja,” gumamnya dalam hati, “eh apa itu? Mas, sejak kapan dirinya membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan Mas untukku.”
“Ikut aja yuk, nanti sekalian kita berkencan,” goda Rendra.
Luna segera menggelengkan kepala dengan keras. Melihat ekspresi Luna, membuat Rendra tertawa. “Baiklah, kalau begitu aku akan pulang lebih cepat,” imbuh Rendra.
“Idih siapa yang peduli mau pulang cepat, enggak pulang juga enggak masalah,” Luna kembali bergumam.
“Tapi Lun, sejak tadi pagi kamu tidak makan. Kamu kenapa? Tidak enak badan?” Kembali Rendra membuka obrolan.
“Tidak, hanya tidak ingin makan.”
“Jangan seperti itu! Nanti kamu bisa sakit. Atau mau Mas bungkusin makanan dari luar?” tawar Rendra.
Luna kembali menggeleng sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rendra benar, Luna memang sedikit tidak enak badan. Gadis itu merasa demam, pusing dan lemas. Tapi mengeluh di depan Rendra hanya akan membuat dirinya lemah di hadapan om-om itu. “Apakah typusku kambuh lagi?” fikirnya, “ini pasti karena sering begadang,” sesal Luna.
Ya, akhir-akhir ini Luna sangat sering tidur larut. Alih-alih mengerjakan tugas kuliahnya, gadis itu selalu menunggu Rendra pulang terlebih dahulu. Tidak nyaman baginya, jika harus tidur sebelum melihat wajah suaminya itu.
Seringkali Rendra memintanya untuk tidur lebih awal, tapi Luna selalu menolak, “siapa yangakan mengerjakan tugas-tugas ini kalau aku tidur lebih awal?” katanya. Sementara Rendra hanya tersenyum melihat ulah sang istri, dia tahu benar jika Luna memang tengah menunggunya. Dari CCTV terlihat jelas apa yang Luna kerjakan.
Tapi Rendra hanya bisa menghela nafas panjang. Akhir-akhir ini banyak sekali masalah di kantor. Beberapa pesaingnya berusaha menjatuhkan melalui segi dan celah manapun. Hingga Rendra sedikit kuwalahan di buatnya. Inilah yang membuat laki-laki itu tidak memiliki waktu untuk menemani Luna.
Rendra mendekati Luna, wajah pucat gadis itu membuat Rendra yakin jika sang istri tidak sedang baik-baik saja. Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke kening Luna untuk memeriksa keadaannya. Sementara Luna hanya menurut, tidak ada penolakan darinya.
“Kamu sakit Lun? Badan kamu demam.”
“Enggak, enggak apa-apa.”
“Kita ke dokter sekarang!”
“Enggak usah Mas Rendra, bentar lagi juga sembuh. Udah kamu berangkat aja sana!” kata Luna lirih. Semakin lama gadis itu merasa semakin tidak berdaya.
Rendra segera mengambil ponsel dan mulai menelpon seseorang. Dari jauh Luna bisa mendengar jika Rendra tengah menelpon sekretarisnya untuk merescedule makan malam hari ini.
“Ternyata om-om itu sweet juga,” batin Luna dengan hati berbunga.
“Kita ke dokter sekarang ya Lun,” ajak Rendra sambil membantu Luna untuk bangun.
“Kamu enggak jadi dinner?”
“Tidak.”
“Kenapa? Kita bisa ke dokter besok pagi.”
“Tidak ada yang lebih penting dari pada kesehatanmu,” jawab Rendra yang berhasil membuat Luna menunduk malu.
“Enggak usah, bisa jalan kok,” ucap Luna yang sudah kepalang malu. Gadis itu berusaha bangkit dan melangkahkan kakinya.
Namun semua berubah menjadi gelap, Luna jatuh pingsan.
*****
Jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Di ruang perawatan mewah tampak Rendra dengan wajah cemas duduk di samping istrinya. Tangan laki-laki itu tak Berhenti mengganti kompres yang dia letakkan di kening Luna. Suhu tubuh Luna yang terus naik membuat kondisi gadis itu sangat memprihatinkan.
Tak jarang Luna mengigau, memanggil nama almarhum ayahnya bahkan memanggil nama teman-teman dan guru-gurunya di masa kecilnya.
“Keadaan ini wajar dialami oleh penderita typus dengan demam yang sangat tinggi,” ucap dokter saat mengecek keadaan Luna. “Saya sudah memberikan obat untuk menurunkan demamnya. Lebih baik Tuan Rendra beristirahat malam ini”
“Tidak dok, bagaimana saya bisa beristirahat sementara keadaan Luna seperti ini?”
“Saya mengerti Tuan. Baiklah, saya akan pergi. Panggil kami jika Tuan membutuhkan sesuatu,” pungkas dokter itu seraya pergi meninggalkan Luna dan Rendra.
Rendra mencium punggung tangan Luna sangat dalam. Sama sekali tidak pernah terfikir bahwa, rasanya akan sepedih ini saat melihat orang yang kita cintai harus terkulai lemah di kamar perawatan rumah sakit.
“Luna, cepat sembuh Sayang,” ucapnya lirih.
“Mas Rendra,” ucap Luna dengan mata terpejam. Rendra memandang istrinya, dirinya mengira itu adalah bagian dari igauan Luna.
“Mas Rendra sakit,” Luna terisak yang membuat Rendra menyadari, jika Luna tidak sedang mengingau.
“Apa yang sakit?”
“Kepalaku sakit sekali.”
“Tenanglah, aku akan memijatnya.”
Keadaan Luna benar-benar membuat Rendra hancur. Laki-laki yang setiap hari terlihat maskulin itu, kini tampak acak-acakan sambil tangannya memijat kepala Luna. Apapun Rendra lakukan demi membuat Luna merasa nyaman, bahkan semalaman laki-laki ini tidak bisa memejamkan mata.
Luna berusaha membuka mata yang terasa sangat panas. Kepalanya terasa berat hingga susah sekali untuk digerakkan.
“Dimana ini?” batinnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Gadis itu berusaha mengumpulkan ingatan.
“Mas Rendra,” ucap Luna lirih kala melihat sang suami tengah terlelap tidur sambil duduk di kursi kecil dan menggenggam tangannya.
Luna menatap Rendra dengan seksama. Rasa lelah tergambar jelas di raut laki-laki itu. Dan genggaman tangannya seperti tidak ingin melepaskan untuk selamanya.
Gadis berwajah pucat itu mengulumkan senyum manis kala ingat bagaimana semalaman Rendra menjaganya. Laki-laki itu terus berada di sisinya, memijat kepala, mengganti kompres, bahkan memijat kakinya.
“Kenapa kamu baik sekali?”