
Beberapa bulan kemudian.
Kehamilan Luna sudah memasuki bulan ke lima. Perut gadis itu pun sudah terlihat membuncit. Namun bukan Luna namanya jika tidak mempermasalahkan hal-hal yang wajar seperti ini.
"Mas," panggilnya kepada sang suami yang tengah sibuk di depan laptop.
Rendra hanya melirik istrinya sekilas kemudian kembali memperhatikan layar laptopnya.
"Mass," panggilan kedua yang pastinya dengan nada dan juga volume yang berbeda.
"Iya, ada apa Sayang?" Kali ini Rendra memandang Luna sepenuhnya. Pengalaman-pengalaman terdahulunya, satu panggilan lagi akan membuat hidupnya bagai di neraka.
"Ada apa Luna? Kamu ingin makan apa?" Laki-laki itu berusaha menjadi suami yang selalu siaga. Siaga dengan keinginan-keinginan istrinya. Dan akan selalu berusaha untuk memenuhinya. Meskipun harus mendaki gunung, lewati lembah, menyebrang samudra, bahkan menerjang badai.
"Mas, kenapa aku jadi gendut sekali? Baju-baju ku pada enggak muat," rengek Luna.
Rendra menghela nafas panjang. Setelah setiap hari dirinya dihadapkan dengan nama-nama makanan dari seluruh penjuru dunia, kenapa sekarang dirinya harus mendengar hal ini?
"Namanya juga hamil Sayang. Pasti gendut lah. Nanti kita beli baju baru ya." Kata Rendra, kemudian kembali menatap layar laptopnya. Laki-laki itu mengira kalimatnya bisa menenangkan sang istri. Hanya masalah beli baju apa susahnya.
"Ihh, Mas Rendra kok gitu sih? udah enggak sayang lagi ya sama aku, udah enggak cinta lagi ya sama aku. Karena aku gendut, jadi udah enggak cantik lagi gitu. Kamu gitu ya mas, gampang banget cintanya ilang."
"Lhah, enggak gitu Luna. Kamu cantik kok. Kamu masih sangat cantik. Cuma kalau hamil kan memang berubah jadi gendut Sayang."
"Tuh kan, mas Rendra bilang aku gendut. Pasti sekarang mas Rendra lirik-lirik cewek yang lebih muda, yang lebih cantik, lebih **** dari aku."
"Enggak Sayang, bukan begitu maksud mas." Rendra masih berusaha menjelaskan, namun air mata Luna sudah mengucur jatuh dengan begitu deras.
"Mas Rendra udah enggak sayang lagi sama luna." Teriak gadis itu kemudian berjalan cepat keluar dari ruang kerja suaminya.
"Luna.." Rendra mengejar istrinya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Max dan Rani yang sepertinya memperhatikan dirinya sedari tadi.
"Tuan Rendra, biar aku saja yang menemani Luna." Rani menawarkan diri. Rendra pun hanya bisa mengangguk menyetujui tawaran Rani dengan berat hati. Lagipula jika dirinya yang maju belum tentu Luna akan tenang.
Setelah Rani pergi, max tertawa dengan keras sambil melihat ke arah Rendra.
"Ngapain kamu tertawa?" Rendra menyeringai, sementara max masih terus tertawa.
"Tuan Rendra, seorang penulis terkenal, pengusaha sukses, konglomerat muda, pebisnis handal tak terkalahkan adalah seorang laki-laki yang sangat takut dengan istrinya." Max mengatakannya sambil terus tertawa.
"Tutup mulutmu!" Seringai Rendra kemudian berjalan kembali menuju ruang kerjanya.
"Aku kadang heran denganmu kak, kamu memiliki segalanya, rumah mewah, bisnis, penggemar, tapi kenapa kamu bisa sebucin itu dengan kak Luna? Banyak sekali gadis-gadis di luar yang lebih cantik, bahkan lebih anggun dari kak Luna yang pecicilan itu."
Rendra tersenyum mendengar pertanyaan Max. Laki-laki itu meneguk air putih di gelas yang disediakan di meja kerjanya kemudian memandang sang adik.
"Aku selalu senang saat melihat kalian bersama. Cinta kalian seperti tidak akan pernah lekang oleh waktu. Mungkin aku tidak pernah menyaksikan cinta yang tulus, orangtua ku pun tidak pernah mengajariku hal itu. Tapi dari kalian berdua aku belajar banyak hal kak. Ketulusan dan cinta adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Terimakasih telah menyadarkanku jika cinta yang tulus itu benar-benar ada."
Rendra menepuk punggung adiknya. Laki-laki itu tahu benar apa yang tengah dirasakan oleh Max. Masa lalu yang buruk masih melekat di diri Max.
"Kamu bener enggak bohong kalau mas Rendra masih cinta sama aku meskipun aku gendut?" Tanya Luna kepada Rani setelah Rani memberikan beberapa kalimat tauziah.
"Ngapain juga aku bohong. Lagian kan yang bikin kamu gendut dia. Kalau dia berulah ya tinggal giniin aja." Rani mengeluarkan sikutnya dan juga bergaya dengan kuda-kuda jurus karate yang pernah dipelajarinya. Hal ini membuat Luna tertawa.
"Nah gitu dong ketawa." Balas Rani kemudian memeluk sahabatnya itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehamilan adalah hal yang berbeda yang dirasakan oleh seorang calon ibu. Mulai dari ngidam, moodswing, dan lain-lain. Jika orang-orang disekitar tidak memahami hal ini, bagaimana seorang calon ibu akan menghadapi kehidupan yang juga baru baginya.
*****
"Sayang, kamu mau ditemenin buat ke mall?" Tanya Rendra saat sang istri tengah memakaikan dasi untuknya.
"Enggak perlu, kamu ada rapat penting hari ini Mas."
"Minta Rani atau ibu untuk menemanimu!"
"Ibu sedang tidak enak badan mas, biarkan ibu istirahat." Jawab luna.
"Mungkin kolesterol ibu naik lagi. Kamu ajak Rani saja ya."
"Boleh, jangan khawatir Sayang!"
"Baiklah, mas pergi dulu ya. Sayang, papi berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik ya sama mami. Jangan rewel!" Rendra berbicara sambil mencium perut Luna.
"Iya papi, siap!" jawab Luna yang aksen bicaranya dibuat seolah-olah dia adalah bayi.
Rendra pun berangkat bekerja setelah sebelumnya mengecup mesra kening dan bibir Luna. Itupun jika Max tidak berteriak-teriak mungkin Rendra masih akan terus mencium sang istri.
"Haduh, capek banget sih!" kata Luna sambil meletakkan beberapa paper bag belanjaanya di lantai. Gadis itu duduk di kursi sambil memesan makanan.
Akhirnya sang calon ibu baru tersebut pergi seorang diri ke mall. Tidak sampai hati bagi Luna untuk mengajak rani, sahabatnya tersebut untuk pergi. Karena Rani pun juga tengah sakit. Salah makan membuat gadis itu harus bolak balik 10 kali pagi ini ke kamar mandi.
"Ini makanannya Mbak." Seorang waiter mengantarkan makanan pesanan Luna. Luna menerimanya dan langsung memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Seperti tidak makan tiga hari, gadis itu sangat lahap memakan makanannya.
Namun tiba-tiba pandangannya teralihkan saat melihat dua orang tamu restoran yang baru saja masuk. Seorang laki-laki dan perempuan. Laki-laki muda dan seorang perempuan setengah baya. Keduanya tidak memperhatikan Luna. Namun Luna memperhatikan dengan jelas kedua tamu tersebut.
"Bu fatma"