Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Sikap


Pagi ini Sean dan Viana sedang mengobrol di dapur setelah sarapan. Seperti biasa, Sean selalu menganggu Viana sebelum berangkat bekerja.


"Hei Nyonya, bolehkah aku melihatmu sebelum berangkat." ucap Sean.


"Untuk apa?" tanya Viana sambil menoleh kearah Sean.



"Haruskan seorang suami yang ingin melihat istrinya punya alasan?" tanya Sean balik.


"Haruskan seorang suami meminta izin kepada istrinya untuk sekadar melihat saja?" Balas Viana.


"Sekarang kau sudah pintar berdebat denganku ya." Sean mencondongkan wajahnya ke wajah Viana bermaksud mencuri satu ciuman.


Namun seketika Viana langsung menghindar dan membuat Sean hanya mencium angin. "Hei apa yang kau lakukan." ucap Sean berdecak kesal.


"Kita bukan pengantin baru Sean. Kita punya dua orang anak." ucap Viana.


"Ya tapi mereka sedang tidak ada disini kan?" tanya Sean.


"Sean." Viana menunjuk sebelah kiri bagian bawah meja. Sean melihat Reyza sedang berdiri memegangi kaki Meja.


"Ya ampun anak Papa sejak tadi tidak kelihatan." Sean berjalan dan menggendong Reyza lalu menciumnya.


"Kenapa kau pendiam sekali sayang. Papa sampai tidak menyadari keberadaanmu." ucap Sean.


"Ma-ma. I-nih Cen." ucapnya.


"Apa? Apa barusan yang dikatakannya?" tanya Sean pada Viana.


"Ini Cen." jawab Viana.


"Tidak maksudku Cen yang dimaksud dia adalah Sean begitu?" tanya Sean lagi.


"Mungkin saja." ucap Viana santai.


"Reyza siapa yang mengajarimu mengatakan itu?" tanya Sean pada Reyza.


Reyza hanya tertawa dan menarik rambut Sean kuat hingga Sean meringis kesakitan. Sean melepaskan jambakan Reyza. "Kau makan apa sayang? Kenapa kau jadi seperti Mamamu." Sean mengusap rambutnya yang masih sakit karena jambakan Reyza.


"Sudahlah. Kenapa terus menyalahkan aku." Gerutu Viana.


"Reyzaaaaaaa." Sevina terlihat berlari dan menghampiri Reyza.


"Reyza?" Kau sudah bisa bilang 'R' Nak?" tanya Viana.


"Sudah Mah." jawab Sevina.


"Sevina, apa kau sering mengajari adikmu berbicara?" tanya Sean yang masih menggendong Reyza.


"Iya Pah. Sevina sering ajak dia bicara." jawab Sevina.


"Oh ya, kata apa saja yang sering kau ajarakan padanya?"


"Banyak Pah. Emm...Opa, Oma, Mama, Sean...ups." Sevina menutup mulutnya dengan tangannya.


"Oh jadi kau yang sudah mengajari adikmu bilang Sean ya?" ucap Sean sambil melangkah mendekatinya.


"Eh tidak Pa. Sevina tidak sengaja." ucap Sevina sambil berjalan mengitari meja menghindari Sean.


"Hei, berhenti Nona Muda. Kau harus mempertanggung jawabkan ucapanmu." ucap Sean yang mengikuti langkah Sevina mengitari meja makan itu.


"Tidak Pa, Sevina tidak sengaja. Sevina minta maaf." ucapnya masih terus berjalan mengitari meja dan mempercepat langkahnya. Viana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ayah dan anak tersebut.


"Jika kau ingin minta maaf. Berhenti dan berbaliklah. Papa dan Reyza sudah merasa pusing." ucap Sean.


Sevina berhenti namun di bersembunyi dibalik tubuh Viana. "Baiklah, Papa Sevina minta maaf." ucapnya.


"Tunjukkan wajahmu Nona." ucap Sean.


Sevina menunjukkan wajahnya sekilas lalu menyembunyikannya lagi. Sean menurunkan Reyza dan mendekati Sevina. Tangannya mengulur kearah Sevina dan tersenyum.


Sevina menerima uluran tangan Sean dan Sean menariknya agar mendekat. "Apa begini caramu meminta maaf?" tanya Sean dengan tatapan lembutnya.


"Papa akan marah jika kau bersembunyi dari kesalahan." sahut Sean.


"Maafkan Sevina Pa." ucap Sevina yang masih tertunduk.


"Lain kali jangan ajari adikmu memanggil nama Papa ya." ucap Sean sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Sevina janji Pa." jawab Sevina sambil menyatukan jari kelingkingnya dengan kelingking Sean.


"Kau mau berangkat sekarang sayang?" tanya Viana.


"Ya, aku akan berangkat sekarang. Aku pergi ya." ucap Sean sambil mengecup kening Viana lalu kedua anaknya.


Setelah Sean pergi. "Sevina, bersiaplah kita akan ke sekolah." ucap Viana.


"Iya Ma." sahut Sevina. Dia melangkah ke kamarnya dan mengambil tasnya.


Viana pun langsung mengantarnya bersama supir sedangkan Reyza ditemani pengasuhnya.


Diperjalanan.


"Sayang Mama harap kamu jangan memukul teman kamu lagi." ucap Viana sambil mengusap rambut putrinya.


"Tapi jika dia bersalah Sevina harus memukulnya Ma." ucap Sevina.


"Sayang, tidak baik membalas seseorang dengan kekerasan."


"Tapi Ma..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus menurut mengerti?" Viana mengacungkan jari telunjuknya sebagai peringatan untuk Sevina. Sevina hanya mengangguk pelan.


Sesampainya di sekolah, Viana dan Sevina turun. Viana hanya akan mengantarnya sampai gerbang sekolah saja. "Ingat ya sayang, jangan nakal." ucap Viana kembali mengingatkan.


"Iya Ma." jawab Sevina.


Sevina hendak masuk namun seorang anak laki-laki seusianya menarik rambutnya dan membuatnya mundur ke belakang. Viana terkejut melihat tindakan bocah laki-laki tersebut. "Aduuuuh. Kenapa kau menarik rambutku Deni." Gerutu Sevina pada bocah laki-laki itu.


"Memangnya kenapa? Kau mau mengadu. Haaa dasar tukang mengadu." ejek bocah yang bernama Deni.


"Minta maaflah padaku." ucap Sevina dengan tegas.


"Minta maaf? Enak saja. Weeee." Deni menjulurkan lidahnya sambil berjoget seperti ayam mengejek Sevina.


Sevina mengepalkan tangannya erat. Dia hendak melangkah dan memukul Deni namun Viana menahannya. "Ma kenapa ditahan. Lihat dia mengejek Sevina." ucap Sevina kesal.


"Apa kau lupa janjimu pada Mama tadi? Mama setuju mengajarimu bela diri bukan untuk ini. Jika kau masih bersikeras memukulnya Mama tidak akan pernah mengajarimu bela diri. Apa kau masih ingat prinsip Mama?" tanya Viana.


"Bela diri bukan untuk kekerasan." ucap Sevina.


Karena itu acuhkan saja siapapun yang mengejekmu, mengerti?" ucap Viana.


Sevina mengangguk. "Masuk dan belajarlah sayang. Ingat, jika kau ingin memukul seseorang, kau bisa mengucapkan selamat datang pada guru les pianomu." ucap Sevina.


"Tidak Ma. Baiklah, Sevina akan ingat nasehat Mama." ucap Sevina. Dia menyalim tangan Viana lalu masuk kedalam sekolah elite itu.


Viana menatap kepergiannya sambil tersenyum.


"Permisi Nyonya. Apakah anda Mamanya Sevina?" tanya seorang wanita bernama Monika.


"Benar, ada apa Nyonya?" tanya Viana.


"Saya ibunya Deni. Tadi saya melihat Deni menarik rambut Sevina. Saya minta maaf atas tindakan anak saya. Maklum saja dia masih kecil." ucap Monika.


"Tidak apa-apa Nyonya. Saya mengerti." ucap Viana.


"Oh ya sebaiknya anda mengajari anak anda bagaimana menjadi anak perempuan yang beradab dan tidak terlalu kasar. Lihat saja tadi anak saya hampir dipukul oleh Sevina." ucap Monika.


Air muka Viana berubah. Dia sangat kesal mendengar penuturan Mamanya Deni yang tidak terima dengan apa yang hendak dilakukan Sevina tadi. "Baik saya mengerti. Dan sebaiknya anda juga mengajari anak anda bagaimana sopan santun terhadap orang tua. Lihat saja, dia menarik rambut Sevina dan mengejeknya tepat didepan saya. Walaupun Sevina sedikit kasar, tapi dia tidak pernah bersikap tidak sopan didepan orang tua seperti anak anda. Saya sebagai orang tua akan sangat malu jika anak saya melakukan itu." ucap Viana sambil tersenyum sinis karena Monika langsung terlihat kesal.


Monika ingin menjawab tapi Viana langsung pergi ke mobilnya. Namun sebelum masuk mobil dia menoleh. "Jika anak anda mengganggu anak saya lagi, maka kalian harus berhadapan dengan suami saya." ucapnya sambil tersenyum lalu masuk ke mobil meninggalkan Monika yang berdecak kesal. Namun apa daya, suaminya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Sean Armadja. Kini dia menyesal karena sudah menyinggung perasaan Viana. Jika tadi dia diam saja setelah meminta maaf tentu ceritanya tidak akan begini.