Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Baikan


Seminggu kemudian, David sudah diperbolehkan pulang karena kesehatannya semakin membaik. Viana dan Sean menjemput mereka.


"Terima kasih Tuan Sean dan Viana sudah mau mengantar kami." ucap Anggun yang tengah duduk dibangku belakang dan memeluk David. Anak itu terlihat diam saja sepanjang perjalanan.


"Jangan panggil Tuan. Kau juga bagian dari keluarga kami." ucap Sean yang sedang fokus menyetir.


"Baik Sean. Aku berhutang nyawa pada kalian." ucap Anggun sambil mencium kepala David.


"Sudahlah. Yang penting sekarang David sudah pulih. Oh ya aku minta maaf Anggun. Kau tidak bisa menempati rumah lama kalian karena....." Viana menggantung kata-katanya.


"Iya aku mengerti. Pemilik rumah pasti mengusirku setelah kejadian itu. Dia tidak mau rumah sewanya menjadi tempat pembantaian lagi. Kami akan mencari rumah ditempat lain." ucap Anggun.


Sean dan Viana saling menatap. Viana tampak ragu namun dia pun membuka suara. "Anggun, sebenarnya Om Alex dan tante Mega memberikan hadiah kepadamu sebagai hadiah kelahiran David. Mereka telat memberikannya."


"Hadiah? Hadiah apa?" Anggun mengernyitkan dahinya.


"Kau akan tau nanti. Ikut kami ya." ucap Viana sembari tersenyum. Anggun hanya menatap heran.


Tak berapa lama, mobil pun sampai di sebuah rumah besar tak jauh dari rumah Sean dan Viana. Mereka pun turun. Anggun masih heran melihat rumah yang besar itu. Namun dia berpikir mungkin ini adalah salah satu rumah Sean dan Viana.


Mereka pun masuk. Ketika membuka pintu, Anggun dikejutkan dengan sambutan dari Alex, Mega, bahkan ada Sevina disana. Tertulis huruf dibalon itu berisikan kalimat WELCOME HOME dan dengan serempak mereka mengucapkan "Selamat Datang."


Alex dan Mega langsung menghampiri Anggun. Mega memeluk Anggun dan Alex memeluk David serta menggendongnya. "Cucu Opa. Aku ini Opamu Nak." ucapnya sambil mencium David berkali-kali.


David terlihat terkejut. "Tapi Opa dan Oma David sudah meninggal." ucap David dengan polosnya.


"Iya sayang, tapi kami juga Opa dan Omamu." ucap Mega yang kini beralih ke David. Dia mengusap kepala David dan menciumnya.


"Sayang, mereka memang Opa dan Omamu Nak." ucap Anggun sembari menghapus air matanya.


"Jadi David tidak sendirian lagi sekarang Ma?" tanya David.


"Tidak Nak. Kami ini keluargamu." ucap Alex.


Viana dan Sean tersenyum melihat dua keluarga kembali bersatu.


"Sevina, ayo ajak David main. Tapi ingat pesan Mama. Tidak boleh memukul, oke." ucap Viana kepada Sevina.


"Iya Ma. David, ayo kita lihat ikan di akuarium besar." ajak Sevina.


"Ayo." ucap David. Mereka pun pergi ke ruang keluarga dan melihat ikan disana. Mereka diawasi oleh pelayan yang ada di rumah itu untuk menjaga David yang belum boleh aktif bergerak karena dia baru sembuh.


Para orang tua masih berada di ruang tamu. Mereka semua duduk karena ada hal penting yang ingin di bicarakan.


"Anggun, Mama dan Papa ingin memberimu hadiah. Hadiah ini sudah kami persiapkan sejak David lahir." ucap Mega.


"Ma, Pa tidak perlu repot-repot." ucap Anggun.


"Tolong terima hadiah kami Nak. Jika kau menyayangi kami, terima lah karena hadiah ini juga dari Alex untuk kau dan Alm Kevin." ucap Mega.


"Hadiah apa Ma?" tanya Anggun.


"Rumah ini." ucap Alex.


Seketika Anggun terkejut dengan perkataan Alex yang ingin memberikan rumah besar ini sebagai hadiah. "Tapi Ma, Pa ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya." ucap Anggun.


"Anggun. Kami mohon. Sudah cukup selama ini kau menderita. Kami sebagai orang tau Kevin harusnya bertanggung jawab padamu. Mengertilah Nak. Kami akan sedih jika kalian harus berganti tempat tinggal atau jauh dari kami. Kami hanya ingin kau menerima hakmu. Rumah ini telah menjadi milikmu dan Kevin sejak David lahir." ucap Mega dengan tatapan penuh permohonan.


"Kalian akan lebih aman jika berdekatan dengan rumah mereka. Dan David bisa bermain dengan Sevina setiap hari." ucap Mega.


"Iya, Anggun. Aku sangat senang jika kau tinggal disini. Jadi aku akan memiliki teman di komplek ini. Kita akan sering-sering mengobrol." ucap Viana antusias.


Anggun tersenyum. "Baiklah. Aku juga senang kita bisa berdekatan. Kau orang yang sangat baik. Aku yang senang bisa sering-sering mengobrol denganmu setiap hari." ucap Anggun.


"Jadi kau mau kan tinggal disini?" tanya Alex.


"Aku mau Pa. Terima kasih Pa, Ma." ucap Anggun sembari melempar senyuman.


"Syukurlah. Dengan begitu Mama dan Papa tidak akan khawatir lagi. Axel juga akan datang kesini seminggu lagi." ucap Alex.


"David pasti senang bertemu dengan orang yang memiliki watak yang hampir sama sepertinya." ucap Anggun.


"Hahaha ternyata cucuku sediam pamannya." Alex tertawa jika membayangkan Axel dan David bertemu.


Bayangan Alex saat David dan Axel bertemu.


Axel : Hai David apa kabar?


David : Baik Om. Om apa kabar?


Axel : Baik.


David : Oh


Axel : Ya


David : .......


Axel : .......


Alex kembali tergelak. "Sudah lah Pa. Anak dan cucu sendiri kok di ejek sih." ucap Mega yang heran melihat tingkat suaminya itu.


"Tidak Ma. Hanya saja Axel memang si mulut besi." ucap Alex.


"Dia pasti akan membuka mulut besinya jika bertemu dengan keponakan yang sangat dia rindukan." ucap Mega.


"Iya Ma, kau benar. Dan setelah itu mulut besi Axel akan kembali tertutup dan hanya terdengar kata Oh dan Hmm hahaha." Alex kembali tergelak.


Mega hanya bisa menggelengkan kepalanya. Saat Axel masih disini, Alex suka sekali menggodanya. Dia bahkan sering melemparkan ular mainan kepada Axel agar dia membuka suara. Terkadang dia juga memaksa Axel berkaraoke dirumahnya dengan alasan melatih rahang dan mulut agar tidak bisu. Dan sekarang, David yang akan menjadi bulan-bulanannya jika dia juga sediam Axel. Mungkin sekarang belum terlihat jiwa mulut besinya. Namun beranjak remaja, mungkin dia akan sama seperti Axel yang bermulut besi setelah remaja.


Sean, Viana dan Anggun menahan tawa melihat Alex tergelak seperti itu.


"Sudah ah, aku mau menemani David dan Sevina main. Ayo Ma." ucap Alex sambil menarik tangan Mega dan mengajaknya menemui Sevina dan David yang sedang menggambar ikan didalam akuarium.


"Anggun, bulan depan persidangan Erik. Kita akan datang dengan kau sebagai korban dan aku sebagai saksi. Dan apa kau tidak ingin ber...." Viana menggantung kalimatnya karena merasa tidak enak mengatakannya.


"Viana tolong bantu aku mengurus perceraianku dengan Erik." ucap Anggun dengan serius.


"Aku akan membuatnya menjadi mudah. Dia tidak akan bisa mempersulitnya." ucap Sean.


"Terima kasih Sean. Kalian memang orang yang baik." ucap Anggun.


Mereka tersenyum pada Anggun. Wanita tegar ini akan segera kehilangan beban hidup dan penderitaannya. Mereka akan menjamin kebahagiaan Anggun dan David.