
Hari ini keluarga Armadja sudah mendarat di Amerika. Mereka adalah Rangga, Alya, Sean, Viana, Sevina, Reyza, Zein, Lyana dan Zevin. Sedangkan Dirga dan Celin sudah berada disana lebih dulu sepulang dari perjalanan bisnis. Mereka dijemput oleh supir Oma Laura menuju rumah megahnya.
Sesampainya disana, Oma Laura menyambut mereka dengan pelukan hangat begitu juga dengan Opa Erlangga yang langsung merebut Zevin dari gendongan Zein. Oma Laura juga merebut Reyza dari gendongan Sean. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Dimana Raya Mam?" tanya Rangga.
"Putrimu ada di kamar utama rumah ini." jawab Oma Laura.
"Bukankah kamar utama di rumah ini adalah kamar Mami." ucap Rangga.
"Mami ingin yang terbaik untuk Raya." ucap Dirga yang baru muncul dari dalam lift bersama Celin.
"Mami terlalu memanjakannya." ucap Rangga.
"Dia cucu Mami. Terserah Mami mau memanjakannya atau tidak." ucap Oma Laura sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Iya Mami sayang. Duduk lah." Membimbing Oma Laura duduk di sofa dan disusul yang lainnya. Rangga mengambil Reyza dan memberikannya pada Alya. "Katanya Mami sakit. Apakah sudah sembuh." ucap Rangga sambil memijat bahu Oma Laura.
"Hanya rematik saja." jawab Oma Laura.
"Makanya Mami jangan sibuk ke butik terus." ucap Rangga.
"Mami tidak bisa hanya berdiam diri dirumah saja. Itu sangat membosankan." Gerutu Mami.
"Kan sudah ada anak Raya Mi." Imbuh Alya.
"Anak Raya baru berumur beberapa hari dan kalian menyuruh Mami bermain dengannya?"
"Ya setidaknya Mami bisa melihatnya setiap hari." ucap Rangga.
"Melihat saja. Mami ingin sekali anaknya cepat besar dan Mami bisa bermain dengannya. Bagaimana kalau Zein atau Sean tinggal juga disini." pinta Oma Laura tiba-tiba.
Zein dan Sean saling bertatapan.
"Tidak bisa Oma. Sevina sudah sekolah dan kami tidak mungkin memindahkannya kesini." ucap Sean.
"Kalau kami juga tidak mungkin Oma. Zevin masih terlalu kecil untuk pindah kesini." ucap Zein.
"Lihatkan, Zein dan Sean masih tidak mau kesini." Oma Laura memasang wajah kesal.
"Bukan tidak mau Mi. Kita harus memikirkan anak-anak mereka yang tidak terbiasa dengan iklim yang berbeda di Indonesia." ucap Dirga sambil memegang tangan Oma Laura. Tatapannya begitu teduh dan suara lembutnya sangat menenangkan.
"Iya baiklah sayang." ucap Oma Laura sambil tersenyum.
Semua memaklumi ikatana antara Dirga dan Oma Laura sangatlah kuat. Walaupun Dirga bukan lah darahnya namun kasih sayangnya terhadap Dirga amat lah besar.
"Baiklah, yang mau melihat anak Raya. Kalian harus antri ya tidak boleh semua sekaligus." ucap Celin.
Mereka semua mengangguk. Mereka memutuskan untuk mengantri dari yang lebih tua dulu. Pertama Rangga dan Alya. Setelah mereka keluar giliran Zein dan Lyana yang akan masuk namun Sean protes.
"Aku lebih dulu karena aku lebih tua darimu." ucap Sean.
"Ya Pak Tua, aku tau. Tapi di silsilah keluarga kita, aku lebih tua darimu karena aku anak dari Papa Dirga yang merupakan kakak Om Rangga." ucap Zein.
Sean berdecak kesal. Viana berusaha mengingatkannya tentang arti sabar.
"Sebaiknya kita Sholat Dzuhur berjamaah dulu. Ayo." Ajak Alya yang langsung di balas anggukan dari Sean dan Viana juga Sevina. Zein dan Lyana sudah Sholat terlebih dahulu sebelum supir Oma Laura menjemput mereka.
Oma, Opa dan Axel juga ikut. Dirga menjadi Imam. dalam Sholat itu. Mereka pun melaksanakan Sholat Dzuhur.
Setelah selesai, Zein dan Lyana juga ternyata sudah selesai. Kini giliran Sean, Viana dan Sevina. Sedangkan Reyza tidak ikut masuk karena sedang tidur.
Mereka memasuki kamar itu dan melihat Raya sedang duduk diatas ranjang sambil memangku anaknya.
Viana menggendong anaknya yang masih sangat kecil itu. "Wah lucu sekali keponakan tante. Mirip banget sama Papanya ya." ucap Viana gemas sambil membelai pipi halus bayi Raya.
"Bagaimana rasanya menjadi Ibu? Enak kan? Bergadang setiap malam." Sindir Sean.
"Aku punya suami siaga kakak. Dia yang selalu menenangkan anak kami saat tengah malam. Aku hanya bertugas menyusuinya. Sedangkan mengganti popok dan mendiamkan menjadi urusannya." ucap Raya.
Sean menatap Axel. "Maaf jika Raya sering membodohimu. Tapi pahamilah, dia istrimu yang harus kau cintai." ucap Sean dengan tatapan serius.
"Kakak, aku tidak membodohi Axel. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai suami. Yaitu meringankan beban istri. Aku kan habis melahirkan, wajar jika aku mengandalkannya. Kau dulu juga begitu kan kak." ucap Raya.
Sean mengingat-ingat saat Sevina baru lahir. Setiap malam dia selalu menjaga Sevina dan membiarkan Viana istirahat. "Oh iya ya aku juga dulu begitu. Berarti kau tidak di bodohi. Kau hanya membantu istrimu merawat anak kalian." ucap Sean.
"Nah itu baru benar." ucap Raya menimpali.
"Aku salut pada kalian berdua. Sean dan Axel karena menjadi suami siaga. Karena pada umumnya para suami hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka menuntut istri agar bisa mengurus suami, anak dan rumah sekaligus. Karena itulah banyak para istri yang mengalami syndrom baby blues bahkan sampai tega menyakiti bayi mereka sendiri." tutur Viana.
"Iya kak. Aku juga sering membaca berita seperti itu. Para istri banyak yang mengalami tekanan sehabis melahirkan. Bagaimana tidak? Sudah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan, kelelahan karena bergadang, dan setiap hari harus mengurus rumah dan suami. Aku jadi ikutan kesal sama suaminya." ucap Raya dengan wajah sebal.
"Mereka hanya para suami bodoh yang hanya ingin nikmat dan senangnya saja. Tidak mau tau dan mengerti kondisi istri. Kami lah para lelaki hebat yang bisa menggantikan tugas istri saat merawat bayi." ucap Sean dengan bangganya.
Axel hanya tersenyum dan mengangguk saja mendengarnya.
"Raya, jika kau sudah pulih ajaklah dia ke setiap acara arisan rempongmu itu agar dia mau membuka mulut besinya." ucap Sean.
Viana dan Raya tertawa mendengarnya. "Sudahlah sayang, jangan menggodanya." ucap Viana.
Axel hanya mengulum senyuman saja. Memang dirinya sudah sejak dulu seperti itu. Mau bagaimana lagi? Sedangkan Alex papanya juga begitu dan tidak berubah sampai sekarang. Sevina menyerahkan bayinya pada Axel agar dimasukkan ke box bayi karena dia sudah tertidur pulas.
"Mama, buat adek lagi ya untuk Sevina." ucap Sevina tiba-tiba.
Mata Viana terbelalak mendengarnya. "Sayang, kau kan sudah punya Reyza." ucap Viana.
"Sevina mau dua Ma." ucap Sevina.
"Iya saran Sevina boleh juga. Aku setuju untuk..Awwww." Sean meringis kesakitan saat dirasakannya pinggangnya sakit karena Viana mencubitnya.
"Hentikan omong kosongmu sayang. Kau tidak tau bagaimana susahnya hamil dan melahirkan." gerutu Viana.
"Sevina, adeknya satu saja ya. Nanti minta adiknya sama Om Zein dan tante Lyana saja. Mereka pasti mau memberi. Nanti adikmu akan bertambah lagi." ucap Sean.
Sevina mengangguk. Dia izin keluar untuk menemui Zein dan Lyana agar membuatkannya adik. Sean hanya bisa cekikikan membayangkan eskpresi Zein dan Lyana saat Sevina meminta adik. Karena pada kenyataannya, anak mereka Zevin sangatlah aktif dan mereka agak kerepotan menjaganya. Mungkin karena anaknya menuruni watak Lyana yang super aktif dan lincah.