Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Tidak Sopan


Hari ini hari minggu. Sevina sedang berlatih bersama Viana ditaman belakang. Mereka baru saja menyelesaikan lari pagi keliling rumah yang besar dan luas itu. Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka.


Selesai berlari, mereka mulai berlatih dengan samsak. Viana terlihat begitu cekatan dalam melatih Sevina. Sedangkan tak jauh dari sana, dua orang Ayah dan anak sedang memperhatikan mereka. Dialah Sean dan Reyza. Sean sedang duduk memangku Reyza sambil menikmati biskuit dan susu juga teh.


"Lihat lah Reyza sebentar lagi kita tidak butuh pengawal. Ada Mama dan Kak Sevina yang berkekuatan monster." ucap Sean pada Reyza.


"Kakak, Mamah apa? tanya Reyza.


"Mereka sedang berlatih untuk membasmi kejahatan yang ada di muka bumi ini." jawab Sean.


Reyza yang tidak mengerti ucapan Sean hanya diam dan terus menikmati biskuitnya.


"Oke selesai sampai disini." ucap Viana sambil melempar handuk kecil yang langsung ditangkap oleh Sevina. Mereka mengelap keringat yang membasahi tubuh mereka.


Viana dan Sevina berjalan menghampiri Sean dan Reyza. "Apa kalian sudah selesai berlatih?" tanya Sean.


"Sudah. Apa kalian juga sudah selesai menghibah kami?" tanya Viana.


"Sudah, Reyza begitu antusias mendengarkan." jawab Sean.


"Reyza, Apa yang Papa katakan tentang kami?" tanya Viana kepada putra keduanya.


"Montel Mah." ucap Reyza.


"Apa kau tidak bosan memanggilku monster? Memangnya kau mau dipanggil suaminya monster?" Gerutu Viana sambil memimum air mineralnya.


"Tidak sayang. Aku hanya bercanda." ucap Sean sambil memegang tangan Viana.


"Oh ya, bagaimana dengan keberangkatan kita ke Amerika?" tanya Viana.


"Kita akan berangkat dua hari lagi. Aku juga tidak sabar melihat keponakanku. Aku penasaran apakah dia cerewet seperti Raya atau pendiam seperti Axel." ucap Sean.


"Baiklah, aku akan izin pada gurunya besok." ucap Viana.


Sean mengangguk dan mereka menghabiskan hari itu dengan bersantai.


Keesokan harinya, Viana menjemput Sevina pulang sekolah. Saat ini dia sedang berada di ruangan guru Sevina.


"Selamat pagi Nyonya Viana. Ada yang bisa saya bantu." ucap Fira yang merupakan wali kelas Sevina.


"Selamat pagi. Begini Bu saya ingin meminta izin karena Sevina tidak masuk selama seminggu karena kami sekeluarga ingin menjenguk tante Sevin yang baru melahirkan." tutur Viana.


"Oh, silakan Nyonya. Sebentar saya tuliskan dulu surat izinnya ya Nyonya" ucap Fira sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih Bu." ucap Viana.


"Permisi." sapa seorang wanita di ruangan itu. Viana menoleh dan dia terkejut karena yang datang adalah Lisa, teman SMA nya dulu yangs sering membulinya. Saat dia baru menikah dengan Sean, Lisa juga pernah menghinanya di Mall saat bersama Raya.


"Ya Nyonya ada yang bisa saya bantu." tawar Fira.


Lisa menduduki kursi disamping Viana. Dia juga terkejut dengan keberadaan Viana disana. "Saya ingin mempermisikan anak saya selama seminggu. Kami ingin berjalan-jalan ke Eropa. Maklum saja selama liburan suami saya yang merupakan pemilik kapar pesiar terbesar di Asia tidak bisa mengajak kami berlibur." ucap Lisa sambil melirik Viana yang tidak berkespresi sedikit pun.


"Maaf Nyonya. Jika alasannya untuk jalan-jalan kami tidak bisa memberi izin." ucap Fira.


"Oh iya kami sekalian mau menjenguk mertua saya yang tinggal di Spanyol." ucap Lisa.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya Nyonya Lisa dan Nyonya Viana. Saya tinggal dulu. Saya akan membuatkan surat izinnya dulu." ucap Fira yang beranjak dari kursinya dan pergi ke ruangan lain untuk membuat surat izin itu.


"Hai Viana apa kabar?" tanya Lisa sambil menaikkan tali tas brandednya. Mungkin dia ingin pamer kepada Viana.


"Baik." jawab Viana singkat.


"Kau tidak berubah ya. Tetap saja seperti ini." ucap Lisa dengan senyuman mengejek.


"Terima kasih." Viana membalas senyumannya.


"Aku dengar anakmu suka sekali memukul temannya." ucap Lisa.


"Entahlah aku lupa namanya. Sudah lah kau tidak perlu marah. Sebaiknya kau ajari saja anakmu cara bertingkah laku yang baik. Dia kan perempuan, harusnya kau mengajarinya bagaimana cara bertingkah lemah lembut. Bukan malah menjadi tukang pukul sepertimu." ucap Lisa sambil memandang remeh.


"Aku yang tau bagaimana putriku. Sebaiknya kau jangan ikut campur." ucap Viana kesal.


"Aku kan hanya mengingatkanmu saja." ucap Lisa.


Tak berselang lama, Fira kembali dengan dua surat ditangannya. Dia menandatangani surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop.


"Mamaaaa." Anak Lisa yang bernama Selly datang memasuki ruangan itu sambil berlari dan menghambur ibunya.


"Eh sayang, sudah selesai belajarnya." ucap Lisa sambil mencium kening anaknya.


"Sudah Ma. Tadi Selly langsung keluar saja saat teman-teman masih bernyanyi. Selly bosan lagunya begitu terus." ucap Selly.


Lisa terlihat salah tingkah dengan ucapan anaknya itu.


Tak berselang lama terdengar seseorang mengetuk pintu yang terbuka itu. "Assalamualaikum." ucap Sevina yang terlihat berdiri di ambang pintu.


"Waalaikumsalam." jawab Viana dan Fira kompak.


"Sayang, sudah selesai belajarnya." ucap Viana sambil mengusap rambut Sevina.


"Sudah Ma. Tadi Sevina bernyanyi bersama teman-teman. Seru loh Ma, tapi tadi ada yang langsung keluar sebelum lagunya selesai. Eh itu dia Ma." Menunjuk Selly. "Selly kenapa kau keluar tadi?" tanya Sevina.


"Terserah aku. Aku bosan dengan lagunya." ucap Selly.


"Tidak boleh begitu Selly, kita harus menghormati Bu guru yang masih ada didalam kelas." tegur Sevina.


"Untuk apa aku menghormati. Kata Mamaku gaji mereka kan dari kita. Jadi kita bisa sesuka hati kita." ucap Selly.


Wajah Lisa langsung memerah. Tidak disangka kegiatan Ghibahnya dengan teman-teman sosialitanya didengar oleh anaknya. "Selly sudah ya. Ayo kita pulang." ucap Lisa sambil mengambil amplop yang masih berada ditangan Fira.


Viana melongo melihat reaksi Lisa yang sama tidak sopannya dengan anaknya. Setelah Fira menyerahkan amplop itu, Viana langsung mohon diri setelah sebelumnya Sevina menyalim tangan Fira.


Viana sudah sampai di luar sekolah. Dia mencari supirnya yang tak terlihat. "Kemana dia?" ucap Viana masih melihat kesana kemari.


"Apa kau perlu tumpangan?" tanya Lisa yang tiba-tiba datang menghampirinya.


"Tidak terima kasih." sahut Viana.


"Ayolah naik ke mobilku yang mewah ini." ucap Lisa sambil menunjuk mobil mewah miliknya.


"Tidak, aku akan menunggu supirku saja." ucap Viana.


"Kemana mobilmu? Apa sedang masuk bengkel?" tanya Lisa.


"Sayang." Suara seorang pria yang dikenal Viana. Ternyata dia adalah Sean yang baru keluar dari mobil mewahnya.


Sean yang sangat tampan membuat para Ibu-Ibu yang sedang mejemput anak mereka terpana. "Apa kau yang menyuruh supirku pulang?" tanya Viana.


"Iya, agar aku bisa menjemput kalian." jawab Sean sambil menggendong Sevina.


"Anak Papa semakin besar rupanya ya." ucap Sean sambil mencium kening putrinya.


"Apa kau tidak bekerja?" tanya Viana lagi.


"Aku ada meeting 2 jam lagi. Dan aku akan menggunakan 2 jam itu untuk makan siang bersama kalian di rumah." ucap Sean sambil merangkul bahu Viana dan menuntunnya masuk. Sean menurunkan Sevina dan membukakan pintu mobil untuk Viana. Sedangkan Sevina duduk di bangku belakang.


"Maaf ya Lisa aku tidak bisa menerima tawaranmu karena suamiku sudah menjemputku. Suruh lah suamimu menjemputmu agar kau tidak memaksa orang lain ikut bersamamu dan mengusir rasa kesepianmu." ucap Viana sambil menaikkan kaca mobil dan meninggalkan senyuman ejekan untuk Lisa.


Mobil pun melaju. Lisa terlihat sangat kesal dengan apa yang dia lihat. Suami Viana terlihat begitu mencintai Viana sampai rela membuang waktu santainya demi bisa makan siang bersamanya.


Berbeda dengan Hans suaminya yang jarang sekali ada waktu untuknya. Jika ada waktu luang, Hans lebih memilih pergi bersama teman-temannya. Kali ini dia kalah lagi dengan Viana. Bukan satu kosong, melainkan dua kosong. Dua kali dia membuat dirinya malu karena ulahnya sendiri.


Sementara itu, Sean masih menanyakan perihal kata-kata Viana tadi. Viana menjelaskan panjang lebar dan akhirnya Sean mengerti mengapa Viana begitu. Dia juga merasa bangga pada Sevina yang berperilaku sopan dan menasehati Selly layaknya orang dewasa.