
Sean sudah sampai di Amerika.
Saat itu pukul 12 siang waktu Amerika.
Dia segera pergi ke rumah Oma Laura sebelum Oma Laura mengomelinya terlebih dahulu.
"Omaaaaa" Panggil Sean saat sudah masuk ke dalam rumah Oma Laura.
"Seaaaan " Oma Laura menghambur memeluk Sean.
"Oma sangat merindukanmu" Kata Oma Laura
"Aku juga rindu pada Oma" Kata Sean
"Tapi kenapa hanya kamu? Mana Zein?" Tanya Oma Laura
"Memangnya Zein juga kesini Oma?" Tanya Sean
"Iya kamu tidak tau? Dia juga melakukan perjalanan bisnis kesini. Oma pikir kamu sudah tau, apa Papamu tidak memberi tahumu?" Tanya Oma Laura
Sean menggeleng.
"Begitu lah kalau sudah tua. Pikun" Gerutu Oma Laura
"Omaaaa"
Tiba tiba suara Zein mengagetkan mereka.
"Zein sayaaaaang" Oma Laura memeluknya dan menciumnya.
Sean sedikit cemburu melihatnya. Dari dulu Oma Laura lebih sayang pada Zein dari pada dirinya. Itu wajar karena cintanya pada Dirga sangat lah besar. Lagi pula Zein orang yang sangat patuh dan tidak seketus Sean.
Sean menghela nafas pelan, dia tersenyum.
Dia menyadari bahwa Zein memang pantas di sayangi. Sifatnya yang lembut dan menyayangi semua orang membuatnya menjadi anak emas. Bahkan Zein belum pernah sekalipun di jewer oleh Oma Laura. Tidak seperti dirinya yang sering kali di jewer bahkan di pukul oleh Oma Laura karena kenakalannya.
"Sudah lah Zein, apa aku harus membuatkanmu susu juga?" Tanya Sean
"Diam lah" Kata Zein
"Ya sudah ayo kita makan siang, kalian pasti lapar" Kata Oma Laura
Mereka berdua menurut dan makan siang bersama.
"Sean kapan kamu akan meninggalkan wanita itu?" Tanya Oma Laura tiba tiba.
Sean langsung tersedak.
"Oma kenapa bicara seperti itu? Sean baru saja menikah" Kata Zein
"Kenapa? Oma tidak suka jika dia mempunyai istri dari berdarah miskin dan sembarangan" Kata Oma Laura
"Tapi aku mencintainya Oma" Kata Sean
Zein menatap lekat ke arah Sean.
Dia jujur
"Apa yang bisa kau dapatkan dari cinta ha?" Tanya Oma Laura
"Oma hanya ingin yang terbaik untuknya. Dan kamu Zein jangan coba coba berpacaran dengan gadis miskin" Ucap Oma Laura.
Zein menunduk. Dia tidak mampu berkata lagi karena pada dasarnya dia sedang mencintai seorang gadis yang tidak sederajat dengannya.
Selesai makan, Zein dan Sean memutuskan untuk istirahat di kamar masing masing dan mengganti baju. Besok mereka baru akan memulai pekerjaannya. Jadi hari ini mereka akan istirahat.
Zein sedang duduk lesu di kursi kamarnya.
Tok Tokk Tokk
Suara ketukan di pintu kamar Zein.
"Masuk" Ucap Zein
Sean masuk ke kamar itu. Dia menatap Zein yang sedang tersenyum sedikit memaksa.
"Sudah lah jangan bodohi aku. Katakan siapa gadis itu" Kata Sean yang berdiri di depan pintu
"Pergilah" Kata Zein sambil melirik dengan tatapan sinis.
"Kau bisa membohongi semua orang tapi tidak padaku" Kata Sean yang masih berdiri di hadapannya sambil tersenyum
"Urusi saja urusanmu" Kata Zein
"Lyana memang wanita yang baik dan pintar" Kata Sean
"Iya dia juga cantik" Kata Zein keceplosan
"Ya ya ya, jadi apa kau sudah menyatakan perasaanmu?" Tanya Sean yang sejak dulu memang mengetahui perasaan Zein terhadap Lyana.
Zein menggeleng.
"Aku tidak berani mengatakannya. Itu akan mempengaruhi persahabatan kami dan ancaman Oma barusan sudah membuatku sadar bahwa aku dan Lyana tidak akan bisa bersama" Zein menunduk sedih
"Om Dirga orang yang baik. Dia tidak akan memandang orang dari hartanya" Kata Sean mencoba menghibur
"Kau beruntung karena saat ini sudah bersama orang yang kau cintai" Kata Zein
"Iya aku memang beruntung" Jawab Sean sambil tersenyum.
Sangat beruntung.
"Pergi lah, kabari istrimu kalau kau sudah sampai" Kata Zein
"Kau benar, aku belum mengabarinya" Kata Sean yang melangkah hendak keluar.
Namun sebelum keluar dia menoleh dan berkata.
"Zein, perjuangkan lah cintamu. Aku akan mendukungmu"
Zein tersenyum kecil.
"Pergi lah sialan" Zein hendak melempar bantal namun Sean sudah keburu menutup pintu kamar itu dan berlari ke kamarnya.