
Siang harinya Sean dan Viana berangkat untuk makan siang. Sean mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran tak jauh dari kantornya.
Setelah memesan dan makanan datang, mereka langsung menyantapnya.
Ketika tengah asyik menyantap makan siangnya tiba-tiba ada seseorang menyapa mereka.
"Sean." Sapa Gilang.
"Gilang, lama tidak bertemu? Apa kabar?." Sean berdiri dan menjabat tangan Gilang.
"Baik, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." Ucap Gilang.
"Ayo bergabung lah bersama kami." Tawar Sean.
"Tidak, aku tidak ingin mengganggu." Tolak Gilang.
"Tidak, ayolah." Bujuk Sean.
Gilang akhirnya mengalah dan bergabung bersama mereka. Setelah makanan yang di pesannya datang, Gilang langsung menyantapnya.
"Bagaimana dengan bisnismu?" Tanya Sean.
"Lancar, bahkan beberapa minggu yang lalu aku baru membuka cabang di Amerika." Ucap Gilang.
"Wah hebat sekali. Kau memang pembisnis yang hebat." Puji Sean.
Viana yang mendengarkan hanya tersenyum melihat keakraban mereka. Tak ada rasa curiga pada Gilang karena tidak ada bukti bahwa Gilang adalah musuh dalam selimut. Hanya Dio yang kini menjadi tersangka satu-satunya.
"Hahaha kau berlebihan, tapi terima kasih sudah mengatakan itu." Ucap Gilang.
"Oh ya Raya sedang berada di rumahku. Apa kau mau berkunjung ke rumahku? Pagi tadi dia baru saja menanyakan kabarmu." Ucap Sean.
"Raya? Adikmu yang imut itu ya. Hahaha, pilih lah laki-laki yang lebih baik dariku. Dia terlalu muda dan cantik.untukku" Ucap Gilang di sela tawanya.
"Jangan percaya diri dulu. Aku hanya bilang berkunjung lah ke rumahku. Bukan menjadi adik iparku." Kata Sean.
"Hahaha kau sama sekali tidak bisa di ajak bercanda." Tawa Gilang semakin lebar.
"Apa aku begitu menggelikan?" Sean merasa risih di tertawakan.
"Tidak, tidak maaf. Aku akan berkunjung nanti malam. Ah atau kita double date saja bagaimana?" Usul Gilang.
"Tadi ku dengar kau bilang dia terlalu muda dan cantik." Kata Sean mengingatkan.
"Tidak apa-apa kan jika aku merubah pikiranku sekarang." Ucap Gilang.
"Terserah kau saja. Bagaimana Vi, apa kau mau makan malam bersama?" Tanya Sean yang kini beralih ke Viana.
"Boleh. Itu ide yang bagus." Sahut Viana.
"Baiklah, jam 7.30 kita bertemu di restoran xxx. Aku akan memesan meja untuk 4 orang." Ucap Gilang.
"Oke." Kata Sean.
Mereka segera menghabiskan makanannya. Setelah selesai, mereka kembali ke kantor masing-masing.
***
Sore harinya Sean dan Viana pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Sean dan Viana langsung di sambut hangat oleh Raya.
"Ada apa ini." Sean merasa aneh dengan sikap Raya.
"Tidak ada aku hanya ingin menyambut kakak dan kakak ipar saja." Ucap Raya.
"Iya kak" Jawab Raya sambil tersenyum senang.
"Pantas saja. Kalau begitu hentikan aktingmu dan carilah baju yang bagus untuk kau pakai nanti malam." Ujar Sean.
Raya mengangguk dan segera ke kamarnya. Didalam kamarnya sudah berserakan belasan gaun yang barusan dia pesan dari butik temannya. Sejak mendapat kabar dari Gilang, dia langsung memesan baju-baju itu. Karena baginya bertemu Gilang adalah hal yang langka apalagi sampai makan malam. Dia harus berpenampilan sempuran.
Sean dan Viana sudah berada di kamar. Sean menghamburkan diri di sofa.
"Sean kamu tidak mandi?" Tanya Viana.
"Sebentar lagi." Kata Sean.
"Ya sudah aku mandi dulu ya." Kata Viana.
Sean mengangguk dan mengikuti Viana ke kamar mandi.
"Sean kenapa ikut?" Tanya Viana yang kaget melihat keberadaan Sean di dalam kamar mandi.
"Tiba-tiba aku ingin mandi juga." Kata Sean yang langsung membuka semua pakaiannya.
"Apa? Baiklah aku akan keluar." Ucap Viana hendak melangkahkan kakinya. Sean menarik tangannya dan membuatnya jatuh ke pelukan Sean. Sean membuka satu persatu pakaian Viana dengan lembut dan sesekali jemarinya yang nakal menyentuh bagian sensitif Viana.
"Sean tangannya jangan nakal." Viana memukul pelan tangan Sean yang kini meraba dadanya.
"Maaf aku tidak bisa mengendalikan tanganku." Kata Sean yang lagi-lagi tangannya bermain di bagian itu.
"Lihat kan jadi berdiri. Kau harus tanggung jawab." Kata Sean yang kini mulai mencium bibir Viana.
Viana yang sudah hapal dengan gerak-gerik Sean hanya pasrah saja.
Setelah selesai dengan semuanya, mereka langsung bersiap-siap. Karena ulah Sean membuat mereka begitu lama di kamar mandi sehingga saat selesai mandi, hari sudah gelap.
Sean dan Viana sudah selesai berpakaian. Sean memakai setelan jas berwarna hitam.
Sekarang di sedang duduk di kursi kamarnya dan sedang memperhatikan Viana yang terlihat sangat cantik.
Viana sendiri menggulung rambutnya sehingga terlihat lebih dewasa dan elegan.
"Sudah siap?." Tanya Sean.
Viana mengangguk tersenyum.
"Ayo." Ajak Sean sambil merangkul bahu Viana menuju lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah mereka begitu takjub melihat kecantikan Raya.
Raya terlihat sedang duduk menunggu mereka.
"Raya kamu cantik sekali." Puji Viana.
"Terima kasih kak." Ucap Raya.
"Ya sudah ayo." Ajak Sean.
Mereka pun segera berangkat dengan 1 mobil dan mobil pengawal di belakang mereka.