
Sesampainya di rumah, Sean menggendong Raya menuju kamarnya karena tidak ada gunanya membangunkannya.
Setelah itu dia dan Viana segera naik ke atas dan membersihkan diri.
Butuh waktu lama untuk membersihkan tubuh Sean. Viana sampai ikut membantu menggosok bagian yang terkena noda hitam. Beruntung Sean tidak berbuat macam-macam padanya.
Setelah selesai, Sean mengganti bajunya.
Viana ingin menaruh jam tangan Sean di laci namun seketika dia terkejut melihat sebuah botol plastik kecil berisi butiran pil di dalamnya. Viana membaca nama obat itu lalu meletakkannya lagi.
"Apa kau sudah meletakkan jamnya?." Tanya Sean yang sudah selesai mengganti bajunya.
"Sudah." Jawab Viana.
"Ya sudah ayo tidur." Ajak Sean.
Viana mengangguk dan ikut merebahkan dirinya ke ranjang.
Itu tadi obat apa ya? Kenapa Sean tidak pernah mengatakan apapun. Jika Sean ingin menyembunyikannya dariku tidak mungkin dia meletakkannya di tempat yang gampang aku temui. Sebaiknya aku tanya saja. Gumam Viana.
"Sean."
"Hmmm."
Sean sudah menutup matanya namun telinganya masih mendengar.
"Obat apa yang ada di lacimu?" Tanya Viana.
Sean membuka matanya. Dia baru ingat bahwa tadi Viana membuka laci untuk menaruh jam tangannya dan melihat obatnya.
"Itu obat-obatan terlarang." Ucap Sean.
"Apa????" Viana bangkit dari posisinya. Dia tidak percaya jika Sean memakai obat-obatan seperti itu.
"Sean." Viana mengguncang tubuh Sean karena tak ada respon dari Sean.
Sean membuka mata lalu bangkit dari tidurnya.
"Itu obat terlarang jika kau yang meminumnya." Ucap Sean.
"Ha? Sean katakan lah jangan berbelit-belit." Kata Viana sedikit memaksa.
"Sudah lah." Sean hendak membaringkan tubuhnya namun Viana keburu menarik tangannya.
"Katakan." Viana menatap penuh kekhawatiran.
"Hei santai lah. Sebenarnya itu obat untuk mengontrol gairah bercintaku yang terbilang sangat tinggi." Ucap Sean.
"Ga...gairah bercinta?." Viana mengernyitkan dahi.
Sean mengakhiri penjelasannya. Viana tampak prihatin. Sean sampai melakukan itu demi dirinya.
"Sean kamu tidak harus melakukannya." Ucap Viana lembut.
"Aku harus melakukannya. Aku tidak ingin jika kelak kau hamil, hal itu akan menyakitimu." Kata Sean dengan tatapan lembut.
"Hamil?". Viana terkejut dengan kata-kata Sean.
"Ya, aku menginginkan seorang anak dari dalam sini." Sean menyentuh perut Viana.
Viana tersenyum senang, namun seketika senyumnya hilang saat mengingat apa tujuannya menikahi Sean. Saat ini tentu dia tidak bisa mengandung anak Sean. Dia harus fokus mencari keberadaan kakak tirinya. Dia tidak bisa hamil sekarang jika kakak tirinya masih mengincar Sean. Jika dia hamil, bisa-bisa keselamatan calon anaknya akan ikut terancam.
"Se. semoga saja ya." Kata Viana tersenyum walau dalam hatinya sangat bimbang.
Sean hendak meminum obatnya namun Viana menghalanginya.
"Tunggu, tadi kamu bilang punya gairah bercinta yang tinggi. Maksudku, kamu gampang tergoda kepadaku. Apakah itu berlaku juga untuk wanita lain? Apa kamu juga bergairah saat melihat wanita seksi diluar sana. Dan Lidya? Apa kamu....."
Sean menutup mulut Viana sebelum dia mengatakan lebih banyak hal negatif tentangnya.
"Dengar, berani sekali kau berkata begitu. Jika aku tidak mencintaimu aku pasti sudah meremukkan semua tulangmu ini."
"Sean aku hanya bertanya."
"Bertanya apa? Kau baru saja menuduhku." Sean menatap kesal.
"Jawablah Sean, aku mohon." Tatapan memelas.
"Dengar lah Nona Muda, aku bukan lah pria murahan. Meskipun aku punya gairah bercinta yang tinggi, tapi aku tidak sembarangan menyentuh wanita selain istriku." Tukas Sean.
Viana tersenyum.
"Sudahlah hentikan jangan diminum lagi. Kita akan cari cara lain. Setiap obat pasti ada efek sampingnya." Kata Viana.
"Oh jadi kau mau menggodaku ya." Sean tersenyum nakal.
"Apa? Menggoda? Tidak Aku hanymmmmppp."
Belum selesai Viana berbicara, Sean sudah mel*mat habis bibirnya. Viana ingin mendorongnya namun melihat Sean begitu bernafsu dia mengurungkan niatnya. Dia membiarkan Sean menyalurkan hasratnya. Daripada Sean melirik wanita lain. Ah tidak, Sean tidak begitu. Orang yang sulit jatuh cinta pasti akan sulit juga untuk berpaling.
Selesai dengan itu semua Sean menggendong Viana ke kamar mandi. Viana terlihat lelah sampai-sampai dia tertidur di dalam bathup yang berisi air hangat. Sean menyabuni tubuhnya membilasnya hingga bersih kemudian menggendongnya keluar dan memakaikan bajunya.
Dia memandangi wajah Viana yang sedang tertidur pulas.
"Kau benar-benar istri kesayanganku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu." Sean mengecup lembut kening Viana lalu menyelimuti tubuhnya. Dia tertidur dengan posisi tangan yang memeluk tubuh Viana.