Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Penyerangan


Hari ini adalah jadwal kedatangan Om Niko dan tante Lia yang tak lain adalah Om dan tante Alm Kevin yang hendak mengambil David


Sean dan Viana juga ada di rumah Anggun. Menemaninya menghadapi orang-orang gila harta itu.


Terdengar suara bel pintu. Pelayan rumah Anggun membukanya. Dan benar saja, mereka adalah si mata duitan yaitu Niko dan Lia. Umur mereka sekitar limah puluhan. Niko bertubuh tambun dan pendek sedangkan Lia bertubuh kurus dan tinggi. Benar-benar seperti angka sepuluh. Pengacara dan polisi tidak tampak. Mungkin hanya acaman mereka saja saat berkata akan membawanya.


Setelah dipersilakan masuk dan duduk.


Raut wajah Niko dan Lia terlihat tidak suka dengan kehadiran Sean dan Viana.


"Anggun, kami pikir ini adalah urusan keluarga. Tapi kenapa ada orang lain?" tanya Niko dengan tatapan yang seakan mengusir itu.


"Mereka adalah ipar dari Axel yang merupakan adik Mas Kevin Om." jawab Anggun.


"Lantas kenapa mereka ada disini?" tanya Niko semakin meninggikan nada suaranya.


"Saya hanya datang mengunjungi calon besan saya." ucap Sean dengan entengnya.


"Apa? Besan?" Niko dan Lia sama-sama terkejut.


"Kami sepakat akan menjodohkan David dengan anak pertama saya Sevina setelah mereka dewasa. Oh ya, ini ada surat perjanjian perjodohannya." Sean menyerahkan surat itu. Niko dan Lia membacanya.


"Apa-apaan ini. Mana ada surat perjanjian perjodohan!" Apa kalian ingin membodohi kami??" Niko terlihat sangat emosi.


"Tentu saja ada. Kami Armadja. Apa yang tidak bisa kami lakukan? Kalau anda keberatan. Saya bisa memanggil Papa saya kemari." ucap Sean dengan nada yang masih tenang.


"Saya akan membawa masalah hak asuh David ke ranah hukumu!!" ucap Niko dengan tatapan tajam.


"Oh ya sebelum itu saya punya sedikit hadiah untuk anda. Dengar ya. Ehmmm Niko Pramudya. Tanggal lahir xxxx. Alamat xxx. Jabatan Direktur utama PT CCC telah melakukan tindak pelecehan terhadap karyawan wanita pada tanggal dua puluh empat september tahun xxx. Ditahun yang sama tepatnya pada tanggal lima belas april, Niko Pramudya melakukan aksi suap ke hakim untuk menutupi tindak penggelapan pajak. Pada tanggal dua puluh enam agustus tahun xxx Niko Pramudya terbukti melakukan tindak kekerasan dengan pemukulan satu karyawan hingga koma." Sean mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum sinis.


Niko dan Lia sontak kaget dengan penuturan Sean yang sebenarnya adalah rahasianya selama ini. "Kau!! Dari mana kau tau semua itu. Kau pasti menyuap salah satu orang kepercayaanku kan. Dasar curang. Aku juga akan melaporkanmu!" Ancam Niko.


"Anda lupa siapa Armadja? Hal begini akan sangat mudah kami dapatkan. Tidak masalah jika anda melaporkan saya atas tindakan peretasan di perusahaan anda. Tapi saya bisa dengan mudah bebas. Sedangkan anda akan semakin menumpuk lemak di penjara." ucap Sean sambil memperhatikan lipatan lemak di tubuh Niko.


Niko terlihat begitu kesal. "Kau yang mulai ya." Niko menekan ponselnya dan tak lama kemudian datanglah segerombolan orang-orang bertubuh kekar. Mereka berjumlah 10 orang.


Sean ingin menelepon para pengawalnya namun dengan segera salah satu anak buah Niko merampasnya. Sean tidak terpikir Niko akan senekat ini dan dia tidak membawa pengawal dari rumah.


"Tangkap mereka dan buat Anggun menandatangani surat penyerahan hak asuh David." Perintah Niko.


Sementara itu...


"David, apa kau dengar suara gaduh dibawah?" tanya Sevina.


"Iya aku dengar. Ayo kita lihat. Reyza kau disini saja ya. Dibawah banyak ulat." ucap David yang sudah tau bahwa Reyza sangat takut dengan ulat. Tujuannya bilang begitu agar Reyza tidak takut untuk turun kebawah.


Reyza mengangguk. Dia tetap berada dikamar David dan bermain dengan mainan David.


"Kita kunci saja." ucap Sevina. Dia masih khawatir Reyza akan ikut turun ke bawah. David mengangguk dan mengunci kamarnya dari luar.


Mereka menuju ujung tangga dan melihat kekacauan apa yang ada di bawah. "Sevina, siapa mereka? Lihat Mamaku ditangkap. Aku harus menolongnya." ucap David dengan raut wajah khawatir.


Jika David ikut bersamaku, itu hanya akan merepotkanku. Batin Sevina.


Sevina menarik David mendekat ke kamarnya dan membisikkan sesuatu. "David, aku punya rencana. Bagaimana kalau......" Sevina membuka kunci kamar dan mendorong David kedalam lalu menguncinya kembali. David berteriak dan menggedor-gedor pintu. Lalu dia teringat dengan ponsel Mamanya yang tadi di pinjamkan padanya. Dia memeriksa nomor telepon rumah Sevina di buku kecilnya. Dapat, dia pun segera menelepon ke rumah Sevina dan memberi tahu kekacauan yang ada di rumahnya.


Sevina turun perlahan mendekati seorang pria yang memegangi Anggun. Dari belakang, dia menendang kaki pria itu dengan kuat. "Aaarrrghhhh." Terdengar pekikan dari pria itu. Dia memegangi kakinya yang sangat sakit. Anggun pun terlepas dan dia berlari ke arah Sevina.


"Sevina kenapa kau keluar Nak. Ayo naiklah ini berbahanya." ucap Anggun.


Belum sempat Sevina menjawab Pria tadi menghampirinya dan hendak menangkap Anggun lagi. Sevina melangkah ke depan Anggun dan menghadapi pria itu. Dia memukul kaki dan perut pria itu.


"Aaaarggghhhh. Hei anak kecil. Kenapa tenagamu seperti monster." Pria itu terlihat memegangi perutnya dan meringis kesakitan.


"Sevinaaaa. Pergi!!!" Teriak Viana dari kejauhan. Dia terlihat sedang berkelahi dengan seorang pria.


Bukannya pergi, Sevina malah berlari kearahnya dan menendang kaki pria yang hendak menyerang Mamanya dari belakang. Pria itu mengaduh dan memegangi kakinya. Tak puas dengan itu, Sevina menaiki meja dan kini posisinya sudah seimbang dengan pria tadi. Sevina pun memukuli wajah dan dadanya hingga pria itu jatuh ke lantai.


Tiba-tiba sekelompok orang datang dan menangkap mereka semua. Sekelompok orang itu adalah pengawal Sean yang di telepon David tadi. Mereka juga sudah menangani anak buah Niko yang berjaga di luar rumah. Kini Niko, Lia dan semua anak buahnya telah berhasil di lumpuhkan.


Sean menarik kerah baju Niko. "Aku sudah bersikap baik dan kau malah menyiram bensin diatas bara. Dasar tidak berguna." ucap Sean dengan tatapan tajam.


"Aku akan membalas kalian." ucap Niko dengan berang.


Tak berapa lama, polisi pun akhirnya datang. Mereka menangkap mereka semua. Sean menyerahkan bukti kejahatan Niko selama ini.


Mereka pun dibawa ke kantor polisi guna mempertanggung jawabkan kejahatannya. Tidak disangka malam ini mereka akan bertempur dengan Niko. Entah setan apa yang merasukinya sehingga dia senekat ini.