Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Episode Spesial - Kerja keras


Beberapa hari kemudian, Sean datang setelah mendapat kabar dari Alena bahwa ia sudah bisa mulai menjahit baju untuk Viana.


Sean pun selalu melakukan pekerjaan di kantor dengan cepat agar ia bisa membagi waktu di butik Alena tanpa menimbulkan kecurigaan Viana.


"Sudah siap?" tanya Alena yang kini sedang berdiri di samping Sean yang tengah duduk di depan mesin jahit manual.


"Apakah harus memakai ini? Kenapa tidak pakai mesin jahit yang canggih saja?"


"Sean, jahitan dari mesin jahit manual lebih bagus daripada memakai mesin jahit canggih. Kita bisa melihat jika ada kesalahan di bagian yang terjahit. Dan juga, sentuhan tangan dan goyangan kakimu akan membuat semua itu menjadi lebih berharga." Alena menjelaskan.


"Hmm, baiklah. Darimana aku harus memulai."


Alena pun membimbing Sean untuk menjahit kain yang sudah membentuk pola.


Dengan perhalan, Sean mengerjakannya. Ia sangat berhati-hati sampai-sampai waktu dua jam hanya untuk menjahit pola menjadi dua puluh persen saja.


Memang, Sean dan Alena menjadwalkan untuk menjahit dalam waktu dua jam. Sehingga Viana tidak akan curiga.


"Nyonya, a-ada Tuan Rangga dan Nyonya Alya di luar mencari Anda." Seorang pegawai butik datang dan melapor dengan wajah tegang.


"Apa?" Alena dan Sean sama-sama terkejut.


"Astaga, aku hampir lupa. Aku memang ada janji dengan papa dan mamamu untuk bertemu hari ini." Alena menepuk dahinya.


"Astaga!" Sean pun menjadi panik. "Bagaimana ini?"


"Begini saja, kau keluarlah dari pintu belakang. Kau tadi naik taksi kan?"


"Iya, ya sudah, aku pergi dulu. Simpan hasil jahitan ku." Sean pun langsung pergi keluar lewat pintu belakang. Namun, setelah melewati tembok berpagar, kakinya tersandung dan ia terjatuh ke jalan yang terdapat kubangan karena habis hujan. Pakaiannya pun sangat kotor. Air keruh juga ikut memoles wajahnya.


Namun, ketika sudah sampai di kantor, ia baru menyadari bahwa jas serta dompet yang ada di dalamnya tertinggal di ruangan Alena.


"Ahh, kenapa aku sial sekali." Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun mencari ponselnya dan menyadari bahwa ponselnya juga berada di dalam jasnya.


"Pak, bawa saya masuk ke dalam kantor," ujar Sean.


"Maaf, Pak, saya tidak berani, nanti kena marah bagian keamanan seperti waktu itu."


"Kalau begitu ijinkan saya turun untuk mengambil uang dulu."


"Maaf, Pak, saya tidak bisa percaya begitu saja kalau Bapak akan kembali."


"Tapi saya adalah pemilik perusahaan ini. Cari saja di pencarian Sean Armadja."


Sang supir mencari di internet dan membandingkan wajah Sean dengan di foto. "Maaf, Pak, kalau bermimpi jangan terlalu tinggi. Anda memang sedikit mirip, tapi Sean Armadja tidak se-burik Anda."


Sean melotot saat dibilang burik oleh sang supir. Ia pun melihat ke arah kaca dan benar saja, penampilannya sangat berantakan karena terjatuh tadi. "Kalau memang Anda Sean Armadja, izinkan saya melihat kartu identitas Anda."


"Dompet ku tertinggal di butik. Begini saja, ayo kita masuk ke dalam, saya yakin keamanan tidak akan menahan mu."


"Maaf, saya tidak akan mengambil risiko. Kalau tidak punya uang, ganti saja dengan barang, Tuan."


"Aku punya uang, tapi tertinggal." Sean semakin ngotot.


"Itu alasan klasik yang sering saya dengar dari orang yang ingin naik taksi gratis."


Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyesali karena tidak menghapal nomor pengawal dan supirnya. Kalau saja ia hapal, tentu saat ini pengawal atau supirnya bisa ia hubungi. Ia juga menyesali karena naik taksi dengan sopir yang bebal seperti ini.