Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Strong Couple


4 pria kini mengepung Viana dan Sean yang berada di tengah. Mereka berlaga punggung dan mengepalkan tangan dia atas tanda siap menerjang.


"Vi, kembali lah ke mobil" Kata Sean tanpa menoleh.


"Tidak, aku tidak mau meninggalkanmu. Segores pun aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu" Ucap Viana juga tanpa menoleh.


Sean tersentuh dengan kata - kata Viana. Jika saja mereka tidak sedang bertarung, tentu Sean sudah memeluk dan menciumnya.


Para pria itu berlari serempak hendak menyerang mereka.


Sean segera berbalik mengangkat tubuh Viana lalu berputar. Kaki Viana menendang tubuh mereka selama putaran itu. Beruntung pakaian yang di bawakan pelayan tadi adalah setelan celena dan kemeja sehingga memudahkan Viana untuk leluasa bergerak.


....Brukkkkk....


Para pria itu jatuh setelah terkena tendangan dari kaki Viana. Mereka terlihat mengaduh kesakitan karena kaki Viana begitu kuat dan membuat dada mereka sesak bahkan ada yang sudah tergeletak dengan nafas tersenggal senggal. Tak puas dengan itu, Viana mendatangi mereka dan memukuli salah satunya. Sean menarik tubuh Viana.


"Sudah Vi, kau bisa membunuhnya" Kata Sean.


Tak lama kemudian, para pengawal Sean datang dan menangkap mereka. Mereka di ikat dalam 1 ikatan. Sean langsung menelpon polisi. Selagi menunggu polisi datang, Sean menginterogasi mereka.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?" Sean mencengkram kerah baju salah satu pria itu.


"Tidak ada, kami hanya tidak senang karena kau menggedor pintu mobil kami" Kata Pria itu.


"Jangan kau pikir aku bodoh. Tidak sembarang orang bisa bertindak seperti itu padaku apalagi kau yang duluan mencari masalah. Aku tidak yakin kau tidak mengenalku. Sekarang katakan atau aku akan mencari keluargamu dan melenyapkan mereka" Ancam Sean.


"Jangan aku mohon. Sebenarnya yang menyuruh kami adalah......Lidya" Ucap Pria itu.


Sean melepaskan cengkramannya, matanya menyorot penuh dendam dan kebencian.


30 menit kemudian, polisi datang. Mereka segera menangkap para pria itu. Sean dan Viana juga ikut ke kantor polisi karena Sean ingin bertemu Lidya langsung. Dia mendapat kabar dari pengacaranya bahwa Lidya sudah di kantor polisi. Viana tercengang melihat begitu cepat polisi menangkap Lidya. Tentu saja karena sang pelapor adalah seorang keturunan Armadja.


Setelah tiba di kantor polisi, Sean melihat Lidya sedang di interogasi oleh salah satu polisi. Dia langsung masuk ke ruang intergogasi hendak mencekik Lidya namun Viana segera menarik tangannya sebelum Sean melakukan itu.


"Sean, tenangkan dirimu" Viana masih memegangi lengan Sean.


Lidya terkajut melihat Sean seperti orang kesetanan yang siap membunuhnya.


"Apa maksudmu?" Lidya tidak mengerti dengan apa yang Sean katakan.


"Tuan, tenang lah" Ucap salah satu polisi.


"Diam!!! Atau aku akan membuatmu kehilangan pangkatmu!!!" Ancam Sean.


Polisi itu langsung diam. Bagaimana pun dia adalah Sean Armadja yang bisa melakukan apa saja. Termasuk membongkar hal yang bersifat pribadi dan tabu. Dia bisa saja menyelidiki mereka yang mungkin saja pernah melakukan kecurangan dalam pekerjaan.


Sean kembali menatap Lidya tajam.


"Katakan" Ucap Sean.


Tadi dia menyuruhku diam kan?. Gumam polisi itu.


"Begini bu, ada 4 orang pria yang menyerang Tuan dan Nona Muda di jalan, dan mereka mengaku bahwa mereka adalah suruhan anda" Kata Polisi itu.


"Apa? Aku tidak menyuruh siapapun. Dimana mereka?" Ucap Lidya seperti tidak terima.


Polisi membawanya keluar ruangan dan mempertemukan mereka. Para pria itu langsung mengenali Lidya dan memohon maaf.


"Nyonya, maafkan kami telah gagal dan terpaksa membongkar ini semua" Ucap pria 1.


"Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian. Aku bersumpah tidak mengenal mereka!!!" Teriak Lidya.


"Jangan begitu Nyonya. Nyonya menelpon kami setelah Nyonya di permalukan di cafe. Nyonya meminta kami menghajar mereka di jalan. Tuan saya mohon bebaskan kami. Kami hanya disuruh" Ucap Pria itu.


Sean menatap tajam ke arah Lidya.


"Berikan hukuma seberat beratnya pada Lidya. Bila perlu penjarakan seumur hidup" Sean menarik tangan Viana lalu berjalan menuju keluar.


Sepanjang berjalan, mereka mendengar teriakan Lidya yang sedikit memilukan.


"Sean, bukan aku pelakunya. Lepaskan aku, aku harus menjaga anakku. Dia tidak punya siapa siapa selain aku!!!!" Tangisan Lidya pecah di ruangan itu. Polisi menariknya dan memasukkannya ke dalam sel. Begitu juga dengan keempat pria tadi yang di masukkan di sel yang berbeda.