
"Kakaaaaaak" Raya berlari dan menghambur ke pelukan Viana.
"Hei jangan sembarangan memeluk istriku. Lagi pula aku kakakmu bukan dia"
Sean melepas pelukan Raya dari Viana. Raya mendengus kesal dan melipat tangannya didada sambil memajukan bibirnya.
"Raya apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Kamu cantik sekali" Puji Viana.
"Benarkah? Terima kasih kakak ipar. Kakak juga cantik" Puji Raya.
Sean merasa risih mendengar percakapan membosankan mereka. Dia memilih duduk di sofa ruang keluarga. Rasanya dia menjadi semakin lelah saja melihat kedatangan Raya yang memang banyak bicara dan sangat manja. Apalagi Papa mereka memperlakukan Raya bak ratu. Semua serba mewah dan sempurna.
"Untuk apa kau kesini?" Tanya Sean setelah Raya dan Viana duduk di sofa.
"Mama dan Papa pergi ke rumah Oma Laura, jadi aku pergi ke sini saja, selagi aku libur kuliah" Kata Raya dengan tingkah centilnya.
"Kenapa kau tidak ikut saja" Sean melirik sinis.
"Aku bosan mendengar omelan Oma Laura" Kata Raya sedikit memajukan bibirnya. Bukan rahasia lagi jika Raya sering kena omel Oma Laura karena tingkahnya yang terbilang manja. Berbeda dengan Sean dan Zein yang sangat mandiri dan itulah yang di sukai Oma Laura.
Viana tidak ingin membahas itu. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Raya bagaimana kuliahmu?." Tanya Viana.
"Lancar kak." Kata Raya sembari tersenyum.
"Rambut kamu cantik sekali kamu habis perawatan ya?." Tanya Viana.
Sean semakin jenuh mendengar basa-basi tidak penting Viana. Jelas sekali dia hanya mengalihkan pembicaraan.
Tidak bisakah kita lewatkan ini? Oh ayolah Viana aku sudah tidak sabar ingin bertarung denganmu di ranjang. Gumam Sean yang tiba-tiba tersenyum mengingat apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Bagus ya kak? Aku pakai shampo dari Mama. Kakak juga pakai kan?." Tanya Raya sambil memamerkan rambut panjang yang nyatanya memang indah.
"Sudah cukup basa-basinya Ra, pergi lah ke kamar. Kami harus istirahat" Celetuk Sean yang memang terlihat tidak sabar.
Raya menatap sebal ke arah Sean.
"Aku akan ke kamar kalau kakak Ipar yang menemaniku tidur" Ucap Raya masih memandang kesal.
"Apa? Enak saja. Aku suaminya. Dia lebih berhak tidur bersamaku daripada bersamamu" Kata Sean tak mau kalah.
"Ayolah Kak, temani aku" Raya memandang Viana dengan tatapan memelas.
"Sean, tidak apa-apa kan kalau aku menemani Raya. Ini kan hanya sesekali, aku juga ingin dekat dengannya" Kata Viana dengan tatapan lembut.
Ayolah Sean aku sangat lelah untuk bertarung denganmu malam ini. Gumam Viana.
"Terserah kalian" Sean mendengus kesal meninggalkan Raya dan Viana di sofa.
Viana tersenyum lega karena malam ini dia tidak akan bertarung dengan Sean. Ada rasa sedikit bersalah dalam hatinya karena dia harus menolak keinginan Sean secara tidak langsung. Harusnya seorang istri tidak boleh menolak permintaan suami. Tapi apalah daya jika suaminya seperti Sean yang mengaku sangat candu kepada istrinya.
Viana dan Raya segera ke salah satu kamar yang ada di rumah itu. Raya terlihat antusias mengobrol dengan Viana. Dia terlihat begitu polos dan lucu. Sangat cocok dengan Viana. Karenanya Raya sangat menyukai Viana walaupun pada awalnya dia tidak menyukainya. Namun saat melihat kakak kandungnya begitu bahagia dengan Viana, dia menepis semua rasa tidak sukanya pada Kaka Iparnya tersebut.
Sean merebahkan dirinya ke ranjang. Dia mengelus sisi ranjang yang biasa di tempati Viana.
"Ah jadi begini rasanya ditinggal istri" Sean menatap langit kamarnya dengan tatapan kosong. Tiba-tiba sebuah senyuman terpancar dari wajahnya.
"Kau memang cocok dengan si cerewet itu. Mungkin setelah ini aku akan gila karena mendengar percakapan bodoh dan membosankan antara kalian berdua. Tapi aku senang karena kau juga menyayangi adikku." Ucap Sean pelan.
Malam ini dia memang kesal karena Raya telah menggagalkan rencana pertarungannya dengan Viana. Tapi di sisi lain dia sangat senang karena Raya menerima Viana dengan baik. Bahkan dia terlihat sangat menyukai Viana.
"Ah tapi tetap saja karena si cerewet itu aku jadi tidur sendiri" Sean kembali mendengus kesal. Mungkin harusnya Raya datang di hari lain saja. Karena malam ini Sean harus kembali menahan hasratnya.