Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Melindungi


Sean menutup telinganya karena mendengar teriakan Kenzie. "Aduh kau berisik sekali. Aku tidak akan membiarkanmu melukainya. Dia akan menjadi saksiku dalam persidangan"


"Berengsek!!! Aku akan membunuhnya." Kenzie terlihat murka.


"Sudah, sudah hentikan teriakanmu. Apa kau tidak lihat ada orang tua disini. Sopanlah sedikit." Sean menoleh ke arah Hendra. Dia menghampiri Hendra.


"Ayah, apakah Ayah baik-baik saja?"


Viana terharu mendengar Sean memanggil Ayahnya dengan sebutan Ayah juga.


"Tidak apa-apa Nak. Ternyata pelindung tubuh yang Kamu berikan sangat bagus. Ayah tidak merasakan pukulannya karena tubuh Ayah terlindungi ini" tutur Hendra sambil menunjukkan tubuh bagian dalam yang terbungkus sesuatu seperti perban yang agak tebal.


"Apa? Jadi Ayah juga terlibat?" Viana terlihat tidak percaya. Bahkan Ayahnya sendiri bekerja sama dengan Sean tanpa memberitahunya.


"Maaf Vi, Ayah melakukan semua ini demi bisa menjebak mereka. Tadinya Sean melarang keras namun Ayah tetap memaksa. Tapi Kamu malah ikut-ikutan diculik." Hendra membelai kepala putrinya.


"Tunggu, tapi saat mereka memukuli Ayah, wajah Ayah lebam dan Ayah muntah darah."


"Wajah Ayah memang mejadi korban. Tapi tubuh Ayah terlindungi berkat alat canggih Sean yang dia pesan dari Amerika. Dan darah itu hanya cairan merah yang Ayah simpan didalam mulut sebelum Kenzie memukuli Ayah. Viana, suamimu adalah orang hebat. Tidak ada yang berani menyentuhnya." Hendra memberi pengertian kepada Viana.


Kini Viana tau apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin awalnya Kenzie terlihat pintar, namun Sean jauh lebih pintar darinya.


"Ya sudah ayo kita pulang. Mama, Papa dan yang lainnya juga sudah menunggu." ujar Sean. Mereka bertiga pun melangkahkan kaki keluar. Dua orang polisi datang dan membawa Kenzie.


Sial, saat sedang berjalan menuju pintu, tangan Kenzie dengan cepat mengambil sebuah pistol dan mengarahkannya ke Sean.


"Dorrrrrrr." Sebuah tembakan terdengar dari ruangan itu. Mata Sean melotot saat darah bercucuran ke lantai. Viana jatuh kepelukannya. Saat Kenzie menembakkan peluru itu, Viana langsung menghalangi tubuh Sean. Akibatnya peluru itu menembus atas dadanya.


Sean dan Hendra berteriak kencang.


"Tidaaaaak!! Vianaaaaa!!!" Sean langsung menggendong Viana keluar.


"Dorrrrr." Sebuah tembakan lagi namun kali ini korbannya adalah Kenzie sendiri. Dia menembakkan pistol ke kepalanya sendiri dan dia menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga.


*****


Sean dan Hendra membawanya ke rumah sakit terdekat namun rumah sakit tidak bisa menangani Viana. Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit khusus keluarga Armadja dengan ambulan yang berisi tim medis untuk melakukan pertolongan selama perjalanan sampai mereka tiba dirumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kini Viana sedang ada di ruang operasi.


Tak lama kemudian seluruh keluarga Armadja datang dengan tangisan dan raut kesedihan.


Alya langsung memeluk Sean.


"Sean kenapa jadi begini." Alya menangis dipelukan purtanya. Rangga tampak memeluk Raya yang sedang menangis juga.


"Aku juga tidak menyangka akan jadi begini. Tiba-tiba saja Kenzie merebut pistol polisi dan hendak menembakku namun Viana malah menolongku." Sean juga ikut menangis.


Alya tak henti-hentinya menangis. Kejadian ini mengingatkannya saat Alm kakaknya, Arya tewas tertembak ketika menyelamatkan Rangga, suaminya. Dia takut Viana akan meninggalkan mereka seperti Arya dulu.


"Benar Alya. Dia wanita yang sangat baik. Allah pasti melindunginya. Ayo kita sholat bersama-sama dan mendoakan semoga operasi Viana berjalan lancar." ujar Dirga.


Semua setuju dengan ide Dirga. Mereka semua ke mushola yang ada didalam rumah sakit itu. Sedangkan Raya tidak ikut dan tetap didepan ruang operasi karena sedang PMS.


45 menit kemudian mereka sudah kembali. Wajah mereka tampak lebih tenang daripada sebelumnya. Mereka masih menunggu kabar dari ruang operasi. Alya masih saja mondar-mandir sedangkan Sean terus menunduk menyesali dirinya yang tidak bisa menjaga istrinya sendiri. Viana benar-benar menepati janjinya pada Alm Lusi untuk melindungi Sean, namun dia gagal menyadarkan Kenzie yang kini sudah tiada bahkan Viana sendiri pun belum tau tentang berita ini.


1 jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Semua mendekatinya dan menantikan jawabannya. Sang dokter tersenyum lembut.


"Peluru itu sudah dikeluarkan. Beliau sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya tinggal menunggunya sadar." ujar Dr. Hanif.


"Terima kasih ya Allah." Sean mengucap syukur karena Istrinya selamat. Allah telah mengabulkan doanya.


"Dokter bolehkan kami melihatnya?" tanya Sean penuh harap.


"Boleh, tapi hanya satu orang dan satu kali ini saja hari ini." ujar Dr. Hanif.


Semua melihat Sean dan mengangguk. Sean pun memasuki ruangan itu.


Dia duduk disamping Viana dan memegang tangan Viana.


"Hei, bangunlah. Apa kau mau membalas dendam padaku. Baiklah kau menang. Sekarang aku benar-benar sudah menangis karenamu. Bukan hanya aku saja. Mama, Papa dan yang lain pun juga menangis." Sean mengusap air matanya.


"Bodohnya aku. Harusnya aku bisa melindungimu. Dan kenapa kau begini? Apa kau tau bahwa aku sangat mencintaimu. Ditambah lagi kau melakukan ini membuatku bisa mati tanpamu. Apa kau malaikat berkedok manusia ha?" Sean mencium punggung tangan Viana.


"Kau harus bangun. Aku belum memberi hukuman padamu karena ternyata kau melakukan suntikan pencegah kehamilan. Kau kira aku bodoh ha? Seenaknya saja Kau melakukan itu."


Sean mengelus kepala Viana lalu mencium keningnya mesra. "Cepat sadar ya sayang, aku mencintaimu."


Sean melangkahkan kakinya keluar namun langkahnya terhenti saat suara lemah memanggilnya.


"Sean."


Sean menoleh, dia telah mendapati Viana yang sudah sadar. Sepertinya suara Sean membangkitkan semangatnya untuk kembali sadar.


Sean tersenyum senang lalu memanggil dokter untuk memeriksa Viana. Dr. Hanif datang dan memeriksanya. Keluarga Armadja yang lain juga ikut masuk karena tidak sabar ingin melihat menantu kesayangan mereka.


"Alhamdulillah, Nona Viana sudah sadar dan dia baik-baik saja." ucap Dr. Hanif.


Semua bernafas lega dan menunjukkan raut wajah gembira. Mereka saling berpelukan. Sean mendekati Viana dan mencium keningnya. "Ternyata Kau sangat suka jika Aku marah. Berjanjilah jangan lakukan itu lagi." ucap Sean sambil tersenyum lembut.


"Viana, sayang hiks. Kamu baik-baik saja kan sayang." Alya memeluk menantunya itu. Dia bersyukur Viana baik-baik saja.


Viana mengangguk lemah dan mencoba teesenyum untuk sekadar menenangkan mertua kesayangannya itu.


"Nona Viana masih butuh istirahat. Sebaiknya tunggu diluar saja ya, Tuan, Nyonya." ujar Dr. Hanif saat menyadari ruangan itu terlalu banyak orang. Mereka pun menurut lalu melangkah keluar.


"Terim kasih telah sadar, Aku bisa mati tanpamu. Istirahatlah." Kali ini Sean mencium bibirnya lalu pergi keluar ruangan itu dengan sebuah senyuman.