
Sean sudah pulang dari kantor.
Dia segera masuk ke kamarnya namun tidak menemukan keberadaan Viana.
Dimana dia?
Sean membersihkan dirinya lalu turun ke bawah untuk mencari Viana.
"Heni, dimana Nona?" Tanya Sean
"Nona Muda sedang di taman belakang Tuan" Kata Heni
"Sejak pagi dia masih di taman?" Tanya Sean
"Nona baru saja pergi ke kebun Tuan. Emmm Nona sedang berkebun Tuan" Kata Heni
Mata Sean membulat. Dia langsung pergi ke kebun belakang.
Sesampainya disana, dia melihat Viana sedang menanam bunga sambil memakai masker yang tebal.
"Viana!!!" Teriak Sean dengan gaya berkacak pinggang. Tidak lupa dengan sorotan mata tajam.
Viana terkejut dan langsung mencampakkan alat alat kebunnya. Dua berdiri dengan wajah tegangnya.
Sean menghampirinya dan mencengkram tangannya.
"Berani sekali kau berkebun tanpa seizinku" Kata Sean sambil melotot
"Aku hanya ingin mencari keringat agar aku cepat pulih" Kata Viana
"Sekarang masuk dan bersihkan tubuhmu. Sekali lagi aku melihatmu berkebun aku akan membuatmu tidur di kebun setiap malam" Ancam Sean.
"Iya" Viana hendak berjalan namun dia tersandung dan hampir jatuh namun dengan Cepat Sean menangkapnya.
"Kalau jalan lihat lihat dasar buta" Kata Sean yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya maaf" Kata Viana
"Cepat masuk" Kata Sean
Viana segera masuk dan membersihkan dirinya.
Malam pun tiba dan kini Sean dan Viana bersiap untuk tidur.
Mereka sudah merebahkan diri ke ranjang.
Viana menarik selimut dan segera memejamkan matanya.
"Kalau belum mengantuk tidak usah tidur" Kata Sean
Viana membuka matanya.
Sean mendekat.
"Aku punya peraturan baru untukmu" Kata Sean
"Apa itu?" Tanya Viana
"Siapapun yang bertanya padamu tentang statusmu, kau harus bilang bahwa kau punya pasangan. Entah itu suami atau tunangan kau harus mengatakan itu" Kata Sean
"Baik" Kata Viana
"Bagus sekarang tidur lah" Kata Sean
Viana kembali memejamkan matanya.
Lama kemudian dia merasakan sesak. Saat dia membuka mata ternyata Sean sedang memeluknya erat.
Viana kesulitan melepaskan pelukan Sean. Malah sekarang Sean menaikkan kaki kanannya di atas kaki Viana.
Viana semakin kesuliatan.
Dia memilih diam, namun tiba tiba dia merasakan sesuatu bergerak menyentuh di pahanya.
Apa itu?
Dia terus bergerak dan membuat Viana tidak nyaman.
Tiba tiba tangan Sean berada di atas dadanya.
Viana menggeser tangan Sean dan tangannya bergerak ke atas dadanya.
"Sean aku tau kamu sadar, lepaskan tubuhku" Kata Viana
Sean membuka matanya. Dia tidak melepaskan pelukannya.
"Memangnya kenapa kalau aku memeluk istriku, apa kau marah?" Tanya Sean
"Tidak, bukan itu" Kata Viana
"Dan sekarang jika aku mengajakmu bercinta apa kau akan menolak?" Sean menatap viana dengan penuh hasrat. Tangannya masuk ke dalam baju Viana.
"Sean lepaskan" Viana mengeluarkan tangan Sean namun Sean malah semakin gila.
Sean pun mulai melakukannya namun dia berhenti kala melihat ada darah yang keluar.
Sean melepasnya. Dia menatap Viana dengan serius. "Bukannya kita pernah tidur bersama? Kenapa masih ada darah?" yanya Sean yang kini membalut tubuhnya dengan selimut begitu juga dengan Viana.
"Sean maafkan aku" Kata Viana dengan tatapan bersalah. Bahkan dia langsung memalingkan pandangannya karena tidak ingin melihat tatapan kemarahan dari Sean.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sean sambil menatap tajam. Viana terdiam, dia bingung harus bilang apa.
"Sebenarnya a...aku