
Viana sedang bersiap menuju rumah ayahnya. Ia sudah mengabari Sean lewat pesan singkat. Ia berencana mengatakan pada ayahnya jika acara tersebut tidak bisa dihadiri oleh anak-anaknya. Mungkin hanya ia saja yang bisa datang kesana.
Viana pergi dengan diantar supir pribadinya. Menembus jalanan yang terjal untuk mencapai rumah ayahnya.
Karena mobil tidak bisa melewati jalan kecil di depan rumah ayahnya, maka ia berjalan kaki dan meninggalkan supir serta mobil di depan jalan. Ia menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Terdapat parit kecil di sisi kanan dan kiri, tempat Reyza jatuh dan sakit selama seminggu.
Viana sudah sampai di jalan tepat di depan rumah ayahnya. Kendaraan yang lalu lalang membuat asap mengepul dan debu berterbangan mengenai matanya. Viana mengibaskan tangan di depan wajahnya untuk menghalau debu yang sudah membuat matanya perih.
Saat kendaraan sudah lewat, Viana bermaksud berjalan mendatangi ayahnya yang terlihat sedang berada di depan rumah, mencangkul rumput liar yang menumbuhi halaman rumahnya. Namun, saat melihat ada sosok lain yang juga sedang mencangkul mirip seperti Sean, Viana lantas terkejut. Ia mengucek matanya untuk memastikan apakah pandangannya sudah normal atau belum. Pria itu memakai kaus berwarna putih, celana panjang, dan sepatu kulit seperti milik Sean.
Saat selesai mengucek mata, tiba-tiba saja ada sebuah sepeda motor melintas sambil membawa sebuah papan triplek yang menutupi pandangan Viana.
Tepat setelahnya, Viana pun bergegas menemui ayahnya.
"Viana! Kenapa tidak mengabari jika kau akan datang kesini?" tanya Hendra saat melihat Viana datang.
Viana melihat kesana kemari mencari keberadaan pria yang mirip Sean tadi.
"Cari siapa, Nak?" tanya Hendra.
"Ayah, apakah Sean tadi di sini?"
"Apa? Sean? Tidak. Mana mungkin Sean kesini, ini 'kan masih pagi, pasti dia sedang bekerja di kantornya."
"Tapi tadi aku melihat seseorang yang mirip Sean sedang mencangkul rumput bersama ayah di sini." Viana menunjuk posisi tempat orang yang mirip Sean berdiri tadi.
"Tidak, Nak. Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin Sean mencangkul di sini. Dia itu 'kan bos."
"Lalu siapa yang tadi bersama ayah di sini?"
"Oh, tadi ayah meminta bantuan anak tetangga kita. Dia sedang ke belakang mengganti cangkul yang lebih besar."
Tepat saat itu juga, pria yang dimaksud Hendra pun muncul dari belakang dengan membawa cangkul. Viana memperhatikan penampilannya. Ternyata memang persis Sean kalau dari jauh.
"Saya cuma punya satu sepatu ini saja. Ini pun sepatu KW," ucap pria itu.
"Tapi sepertinya ini sepatu asli." Viana masih memperhatikan sepatunya. Ia ingat betul sepatu yang dipakai Sean pagi ini.
"Tidak, ini sepatu KW. Saya mana sanggup beli yang asli. Bisa-bisa harus menjual sepeda motor saya untuk mendapatkan yang asli."
"Ya sudah." Viana akhirnya mengalah. Lagipula kenapa ia harus menduga bahwa orang yang mencangkul tadi adalah Sean? Benar kata ayahnya, Sean itu bos, mana mungkin mau mencangkul.
Viana pun segera mengeluarkan ponselnya lalu menelepon sekretaris Sean.
"Halo, apa Tuan Sean ada di kantor?"
"Ada, Nyonya, Tuan sedang rapat bersama klien dan ponselnya di silent."
"Baiklah terima kasih, kau seperti tahu saja kalau aku akan menanyakan ini." Viana menutup panggilan telepon itu.
"Ayah, kenapa Ayah bekerja. Sudahlah, hentikan. Ada hal yang ingin aku katakan pada Ayah." Viana mengajak Hendra ke dalam rumah.
"Ada apa, Nak?" tanya Hendra.
"Ayah, aku minta maaf, sepertinya anak-anak tidak bisa ikut kesini saat ulang tahunku. Kemungkinan hanya aku saja yang bisa datang ke sini. Maaf, Yah." Viana menunduk, ia tidak berani menatap wajah kecewa Ayahnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu, pasti suamimu ingin yang terbaik untukmu. Jangan bersedih, kita akan rayakan meski hanya berdua." Hendra tersenyum lembut. Membuat Viana merasa lebih sedih lagi. Sungguh tak tega rasanya melihat jerih payah ayahnya harus berakhir sia-sia.
"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bisa membujuk mereka."
"Iya, Nak. Ayah mengerti. Jangan menangis, melihatmu datang saja Ayah sudah sangat senang." Hendra membelai lembut rambut anaknya itu.
Viana mengangguk lalu mengusap air matanya. Ia pun ikut membantu Ayahnya membersihkan rumah untuk di dekor saat acara ulang tahunnya yang mungkin hanya dirayakan olehnya dan ayahnya saja.