
Seminggu telah berlalu. David dan Anggun sudah mulai terbiasa tinggal di rumah mewah itu. Viana pun kerap kali mengajak kedua anaknya main ke rumah Anggun.
Hari ini Viana yang menjemput David dan Sevina. Viana terlihat berdiri di depan gerbang menantikan Sevina dan David. Tak berapa lama, mereka pun muncul dengan wajah yang sama-sama masam. Viana heran melihat pemandangan itu.
"Sayang ada apa?" tanya Viana kepada Sevina saat dia sudah berada didepannya.
"Masa tadi David numpahin cat air di lukisan Sevina Ma." tutur Sevina sambil melipat tangannya.
"Aku kan tidak sengaja, Sevina. David sudah meminta maaf tante tapi Sevina malah mencoret gambar David." balas David yang juga mengerucutkan mulutnya.
"Ya tapi karena ulahmu aku jadi dapat nilai seratus." Gerutu Sevina.
"Karena ulahmu juga aku dapat nilai delapan puluh lima." ucap David semakin kesal.
"Kau dapat nilai sertus dan David delapan puluh lima? Bagaimana bisa?" tanya Viana heran.
"Bu guru bilang gambar Sevina bagus Ma karena tumpahan dari David membuat gambar itu semakin terlihat hidup. Sevina kan tidak mau mendapat nilai yang bukan hasil dari tangan Sevina sendiri." ucap Sevina sambil melirik David dengan sinis.
"Gambar David semula bagus tante. Tapi karena Sevina menumpahkan cat air itu gambar David jadi jelek dan terlihat mati." tutur David.
"Sudah sudah. Sevina, David kan sudah bilang dia minta maaf karena tidak sengaja. Tapi kenapa kau membalasnya. Tidak boleh begitu sayang." ucap Viana sambil membelai rambut Sevina.
Sevina menunduk. "Sayang, jika ada orang yang meminta maaf setelah melakukan kesalahan sengaja maupun tidak disengaja, seharusnya kau memaafkannya. Itu artinya orang yang meminta maaf adalah orang yang mau mengakui kalau dia salah. Kau tidak boleh membalasnya, karena itu artinya kau akan menjadi orang yang pendendam." ucap Viana berusaha memberi pengertian pada putrinya.
"Iya Ma. David, maafkan aku ya. Aku juga salah karena membalasmu." ucap Sevina sambil mengulurkan tangannya.
"Iya maafkan aku juga ya." ucap David membalas uluran tangan Sevina.
Viana hanya tersenyum melihat dua anak yang mudah bertengkar namun mudah juga berbaikan. Apa setelah dewasa mereka juga akan begini? Batin Viana.
Viana pun mengajak kedua anak itu pulang. Dia mengantar David, lalu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Viana langsung mengambil Reyza dan mengajaknya bermain. Sevina terlihat mengerjakan PRnya setelah selesai makan.
Pada malam harinya. Sean sekeluarga mendapat undangan makan malam di rumah Anggun karena malam ini Axel datang kesana.
Sean dan Viana serta dua anaknya sudah sampai di rumah Anggun. Tenyata Alex, Mega dan Axel sudah ada disana. Mereka disambut hangat oleh keluarga itu. Axel terlihat menggendong David dan tertawa riang. Ternyata prediksi Papanya salah. Axel bisa bersikap hangat pada keponakannya itu.
Makan malam pun dimulai. Anak-anak bermain dan di asuh oleh pelayan di rumah itu karena perut mereka masih kenyang memakan berbagai camilan saat baru sampai di rumah itu.
"Axel, bagaimana? Apa kau bahagia bertemu dengan David?" tanya Papanya.
"Tentu saja bahagia Pa. Aku bisa melihat Kevin di dalam dirinya." ucap Axel.
Anggun tersenyum. Memang David sangat mirip dengan Ayahnya. Dari segi sifat, kepintaran, maupun wajah.
"Anggun, maaf Mama harus menanyakan ini. Apa setelah bercerai dengan Erik kau akan menikah lagi?" tanya Mega.
Semua terkejut mendengar pertanyaan Mega namun Anggun bersikap tenang dan biasa saja. "Tidak Ma. Aku hanya ingin fokus bekerja dan mengurus David. Aku tidak mau jika dia memiliki Ayah tiri yang seperti Erik. Aku sudah tidak percaya lagi pada lelaki Ma." ucap Anggun dengan wajah sedih.
"Kau masih muda Nak. Kau harus meneruskan hidupmu. Tidak mungkin kau hidup menjanda selamanya." ucap Mega.
"Tidak Ma. Aku hanya ingin fokus pada David." ucap Anggun sekali lagi.
Sean dan Viana menghembuskan nafas lega.
"Ma, sudahlah kenapa kau memaksanya. Jika Anggun ingin berfokus pada David biarlah. Itu bagus. Artinya dia ingin membuat David bahagia. Dia juga pasti juga trauma karena perlakuan Erik yang sebelumnya seperti apa." ucap Alex menengahi mereka.
"Iya Mama paham. Anggun maafkan Mama ya." ucap Mega dengan tatapan bersalah karena sekarang Anggun jadi terlihat bersedih.
"Oh ya, bulan depan di sekolah Sevina dan David akan diadakan pentase seni. Mereka akan bermain drama." ucap Viana mencoba mencairkan suasana.
"Benarkah? Drama apa?" tanya Anggun yang terlihat antusias.
"Pendekar Kesiangan." ucap Viana.
Semua mengernyitkan dahi saat mendengar judul drama yang akan dibawakan Sevina dan David. "Apakah cerita seperti itu ada?" tanya Sean.
"Ini drama komedi dan aksi. Sevina akan menjadi pendekar. Dia akan menunjukkan atraksi bela diri disaat drama itu berlangsung dan David akan menunjukkan kemampuan bermain gitarnya di penghujung acara." ucap Viana.
"Aku baru mendengarnya Vi." ucap Anggun.
"Mereka akan mengumumkannya seminggu lagi." ucap Viana.
Anggun mengangguk mengerti. "Tunggu! Tadi kau bilang bermain gitar? David?" tanya Axel. Yang lain juga menunjukkan reaksi yang sama.
"David bisa bermain gitar sejak setahun lalu. Aku juga tidak mengerti kenapa dia begitu cepat belajar padahal dia hanya belajar dari video di youtube." ucap Anggun.
"Dia benar-benar anak Kevin. Cucuku itu benar-benar jiplakan dari Papanya." ucap Alex berdecak kagum.
"Benar, Kevin sangat cepat menangkap pelajaran sejak kecil. Dia selalu menjadi nomor satu dariku." ucap Axel.
"Itu karena kau yang terlalu bodoh." ucap Alex.
"Papa tidak pernah berubah." Axel menghela nafas panjang. Sejak kecil memang Kevin lah yang menjadi anak emas di keluarganya. Dia begitu cerdas karena ketekunannya dalam belajar.
"Hahaha kau benar, sejak dulu aku memang selalu mengejekmu hahaha." Alex tergelak.
"Sudahlah Pa. Mama tidak tau tapi semenjak Papa menikah dengan Mama sifat cueknya seketika berubah menjadi begini." ucap Mega sambil memegangi kepalanya.
"Ternyata cinta bisa membuat seseorang berubah ya tante." celetuk Viana.
"Benarkah? Apa Papa seperti ini karena terlalu cinta sama Mama?" tanya Mega menatap Alex.
"Tentu Ma. Papa sangat mencintai Mama." ucap Alex sambil memegang tangan Mega dan tersenyum padanya.
"Oh ayolah Ma, Pa ini memalukan." ucap Axel yang tidak habis pikir melihat tingkah laku Mama dan Papanya yang terlalu lebay.
"Bilang saja kau iri karena Raya sedang di Amerika. Kasihan sekali kau jablay." ucap Alex yang membuat semua yang ada disitu tertawa termasuk Anggun. Dia senang memiliki keluarga yang sangat hangat dan menyayangi David. Karena itulah dia tidak mau menikah lagi karena dia takut akan kehilangan kehangatan dari mereka.