
Hari yang direncanakan pun tiba. Hari ini, Pak Ngatiran akan bertemu dengan pria tua yang merupakan suami Stevi bernama Didi.
Didi adalah pria berusia lima puluh tahun, seorang perjaka tua yang nasibnya mirip Pak Ngatiran, yaitu menikah terlambat. Namun bedanya, Didi menikah dengan daun muda, sedangkan Pak Ngatiran menikah dengan janda yang umurnya lima belas tahun lebih tua darinya, yaitu Munaroh, atau yang kita kenal dengan nama Mbah Mona.
Pak Ngatiran bertemu dengannya dengan iming-iming daerah di desanya yang bisa dijadikan usaha pertambangan.
Maka, jadilah dua orang tua itu bertemu di sebuah warung remang-remang. Bukan untuk berbuat maksiat, tetapi agar pembicaraan mereka aman. Terlebih lagi, ternyata Didi memang sangat suka tempat seperti itu.
Pak Ngatiran tengah gelisah karena beberapa gadis bahenol yang mempunyai tubuh belang, wajah putih, leher hitam, dada pelangi. Lengkap dengan lipstik dan alis tebal. Tak lupa dengan pakaian minim seperti kekurangan bahan.
"Bisakah kalian pergi dulu? Kalian buka tipe saya. Tukang bersih-bersih di kantor desa saya pun lebih cantik dari kalian."
Sontak ucapan Pak Ngatiran membuat para wanita itu pergi dengan berbagai cibiran dan hinaan untuk Pak Ngatiran.
"Kenapa Bapak marah? Mereka hanya melakukan pekerjaannya. Saya sering kesini. Selain murah, wajah saya juga tidak akan terekspos oleh siapapun." Didi meletakkan satu puntung rokok yang telah ia hisap ke dalam sebuah asbak yang terbuat dari kayu.
"Saya memang genit, tapi saya harus jaga image. Bisa hancur reputasi saya sebagai kepala desa jika ada warga yang tahu kelakuan kadesnya."
"Jadi bagaimana? Apakah daerah di desa Bapak bisa menjadi lahan pertambangan saya? Setelah saya selidiki, ternyata lokasi di sana sangat tepat."
"Sabar dulu, Pak. Santai saja dulu, kenapa terburu-buru." Pak Ngatiran mengambil satu puntung rokok, lalu menghisapnya perlahan. Namun, baru satu hisapan, ia sudah terbatuk-batuk.
"Sudah, sudah, Pak. Kalau tidak kuat merokok, jangan dipaksa." Didi mengingatkan.
"Bapak sudah punya cucu?" tanya Didi.
"Sudah, tapi cucu angkat, karena istri saya sudah sangat tua untuk punya anak. Maklum, saat menikah, saya berumur lima puluh tahun, dan dia berumur enam puluh lima tahun."
Didi tertegun mendengar ucapan Pak Ngatiran. "Bapak 'kan kepala desa, kenapa tidak menikah dengan yang lebih muda saja?"
"Saat itu saya hanya diberi waktu satu bulan untuk mencari istri. Karena tidak ada pilihan, saya menikahinya, daripada jabatan saya lengser karena saya belum menikah."
"Oh, sayang sekali, ya."
"Hmm, tapi saya bahagia dengan pilihan saya. Lagipula, bagaimana cara saya mendapatkan wanita muda jika harta saja tidak mampu menolong wajah saya?"
"Pak Ngatiran terlalu merendah. Banyak cara yang bisa Bapak lakukan untuk menggaet wanita muda."
"Caranya bagaimana? Tidak mungkin 'kan saya melakukan tindak kriminal. Bisa-bisa saya masuk penjara." Pak Ngatiran bergidik ngeri.
"Saya bisa." Didi membanggakan dirinya. "Saya telah menjebak istri saya dengan menyimpan video aibnya di masa lalu. Dengan begitu, dia akan bertekuk lutut memohon untuk dinikahi." Tersenyum puas.
"Wah, hebat sekali." Pak Ngatiran berdecak kagum. Sepertinya orang yang ada di depannya ini membuatnya terkesan. Namun sayang, dia bukanlah orang seperti itu.