
Keesokan paginya, Sean menyuruh pengawal naik mobilnya menuju kantor seakan-akan sedang mengantarnya.
Sedangkan dua mobil pengawal akan mengawal Viana. Mobil yang ditumpangi Viana masih terpasang penyadap agar Gilang dapat mengetahui lokasinya.
Dan yang masuk ke mobil itu sebenarnya hanya Daniel seorang. Suara Viana berasal dari sebuah sambungan telepon. Daniel keluar bukan karena di dorong Viana, melainkan keluar sendiri. Tindakan-tindakan Viana adalah pemikiran Gilang dari efek obrolan suara Daniel dan Viana. Mereka berhasil menipu Gilang yang mengira mobil yang masuk ke jurang berisi Viana di dalamnya.
Sedangkan mobil pengawal yang bertabrakan dengan mobil minibus adalah rekayasa. Minibus itu adalah suruhan Sean. Dan mereka tidak bertabrakan, hanya saling menyentuh di bagian depan dengan efek suara tabrakan dari speaker di dalam mobil tersebut. Sean memang mengutus minibus itu untuk melewati jalur yang berlawanan arah dari mereka guna menemukan Gilang dan tetap berada di belakang truknya.
Flashback Off
Gilang tak percaya mendengarnya. Ia sudah susah payah menyiapkan semua ini, namun rencananya gagal karena kebodohannya sendiri. "Berengsek!" Gilang memukul aspal dengan tangan kirinya. Kini ia hanya seperti pecundang di hadapan Sean.
"Meskipun kau menang, aku tetap kalah siasat karena membiarkan mobilmu hancur. Harusnya kau tidak berkorban apapun untuk menangkap ku. Aku jadi merasa sangat spesial sekali. Kau jadi terlihat seperti pecundang." Gilang tersenyum mengejek. Ia berharap Sean akan terpancing emosi dan memukulinya agar ia juga terkena tidak pidana penganiayaan.
Benar saja, Sean langsung mencengkram kerah baju Gilang. Namun bukannya meninju, Sean malah tersenyum padanya. "Asal kau tahu, mobil itu tidak hancur. Karena aku sudah mendesainnya sedemikian rupa agar saat terjatuh, busa pengamanan dari mobil itu aktif dan membuat mobil tidak tergores sedikitpun. Kau memang bodoh." Menepuk pundak Gilang dan menggeleng penuh prihatin.
Gilang sangat frustrasi. Ia berteriak seperti orang gila bahkan sampai membenturkan kepalanya ke jalanan. Pengawal segera mencegahnya melakukan bunuh diri dengan menahan tubuhnya agar tidak berontak.
Hingga saat polisi datang, Gilang pun langsung di bawa ke kantor polisi.
"Apa maksudnya ini?" Gilang terlihat bingung.
"Aku sudah menyiapkan sebuah tempat usaha untukmu jika kau bebas. Karena aku memahami kau melakukan semua kejahatan mu dulu atas paksaan. Tapi sayangnya kau malah berbuat seperti ini."
Gilang menatap Sean tidak percaya. Bagaimana dia bisa sebodoh ini mengira kalau dengan menghancurkan Sean, maka ia akan merasa puas. Nyatanya tidak, ia malah menghancurkan dirinya sendiri.
Gilang hanya diam membisu saat polisi membawanya pergi.
"Benarkah kau melakukannya?" tanya Viana.
"Ya, bagaimana pun juga aku pernah berteman dengannya. Aku tidak ingin kisah mama dan papa terulang. Dimana musuh mereka menghancurkan mereka hanya karena uang."
"Tapi dia malah menyia-nyiakan kesempatan itu dengan tindakan bodohnya."
"Sudahlah, ayo kita ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Biarkan sebagian pengawal menunggu mobil kita diangkut ke atas. Dan minggu depan, kita akan berziarah ke makam ibu." Sean merangkul bahu Viana menuju mobil dan segera pergi ke kantor polisi.