
Sean berjalan masuk ke gerbang kantor dengan penampilan seperti seorang yang habis kena rampok. Memang, kantornya menjorok ke dalam. Ia harus melewati lahan kosong tanpa alas kaki untuk sampai ke gerbang.
"Tuan." Seorang penjaga keamanan terkejut melihat kondisi Sean.
"Berikan pada sopir sialan itu ongkos taksi ku," ujar Sean dengan wajah datar.
"Baik, Tuan." Seorang penjaga keamanan langsung menghampiri taksi tadi dan memberikan sejumlah uang. Dan tak berselang lama, ia pun kembali dengan sepatu Sean.
"Ini, Tuan. Sopir tadi meminta maaf dan jika bertemu dengan Anda lagi, beliau akan memberikan tumpangan gratis selama setahun. Katanya beliau memohon kemurahan hati Tuan untuk tidak menuntutnya."
"Sudahlah, aku lelah dan tidak peduli." Sean memakai sepatunya kembali. "Berikan jaket mu." Sean meminta jaket yang sedang dipakai oleh keamanan.
"Tuan, saya bisa mengambilkan baju ganti untuk Tuan."
"Aku tidak punya waktu untuk menunggu. Berikan." Sean menadahkan tangan sambil menatap datar.
Keamanan langsung memberikan jaket pada Sean untuk menutupi noda yang mengotori bajunya.
Sesampainya di depan pintu kantor, Sean menyuruh pengawalnya untuk mengambil jas dan dompetnya setelah memastikan orang tuanya sudah pulang.
Sepanjang berjalan di lobi kantor, semua mata yang melihat kondisi Sean terbelalak. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sean memakai jaket keamanan dan juga wajah yang sangat kusam.
Sean hanya berjalan lurus menuju lift khusus. Namun sebelum pintu tertutup, ia sempat berkata. "Jika masih ingin kerja, lupakan yang kalian lihat sekarang."
Semua langsung mengangguk ketakutan.
Sean yang sudah sampai di atas langsung memasuki ruangannya. Ia membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti baju.
Ia merebahkan dirinya ke atas sofa sembari memijat kepalanya. Tak berselang lama, matanya terpejam dan terdengar dengkuran halus.
Satu jam kemudian, Sean terbangun karena seseorang menepuk pipinya dengan sedikit keras.
"Sean! Hei, Sean, bangun."
"Zein, apa yang kau lakukan?" tanya Sean.
"Ini, aku membawakan jas, ponsel, dan dompet yang kau tinggalkan di butik Alena." Zein menyerahkan benda-benda itu pada Sean.
"Hah? Darimana kau bisa tahu?" tanya Sean.
"Tadi aku ke sana bersama orang tuamu. Mereka meminta aku mencarikan pakaian yang orang tuaku suka."
"Orang tuamu?"
"Ya, mama dan papa akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka sebulan lagi, jadi om dan tante ingin memberikan pakaian sebagai hadiah."
Sean menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia sudah lelah mengasihani dirinya sendiri hari ini.
"Kenapa kau tadi ke sana?" tanya Zein.
"Aku ingin memesan pakaian untuk kami gunakan di hari ulang tahun pernikahan orang tuamu."
"Tadi kau seperti orang yang tidak tahu akan hal ini." Zein menata heran. "Dan bagaimana bisa kau meninggalkan benda-benda penting ini? Sepanjang jalan, ponsel mu terus berdering karena Viana terus memanggil."
"Apa?" Sean langsung memeriksa ponselnya. Dan benar saja, ada empat belas panggilan tak terjawab dari 'Istriku Sayang'. "Mati aku." Sean menepuk dahinya.
"Tenang saja, tadi aku sudah mengangkat di panggilan ke lima belas."
"Apa? Apa yang kau katakan?"
"Aku bilang ponsel mu tertinggal di butik Alena."
Sean serasa ingin pingsan saja. Zein sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Kejujurannya selalu membuat Sean dalam kesulitan.