Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Menculik Viana


Saat tengah malam, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Suara angin di luar rumah terdengar riuh. Sean terjaga saat angin dingin merasuki kulitnya yang tidak berbalut selimut. Dia menoleh ke arah jendela kamarnya yang ternyata terbuka sedikit.


"Ah aku lupa menutupnya karena yang biasa menutup kan Viana."


Sean berjalan gontai menuju jendela dan menutup lalu menguncinya. Sean kembali merebahkan dirinya ke atas ranjang. Dia menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Namun nihil, hawa dingin yang tadi menggerayangi tubuhnya benar-benar telah kembali membangunkan hasratnya. Sean melirik jam besar di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam


"Sepertinya Raya sudah tidur."


Sean seperti sedang memikirkan sebuah rencana. Dia tersenyum lalu beranjak dari ranjangnya. Dia pergi ke kamar Raya. Sebelumnya dia melihat CCTV untuk mengetahui kamar mana yang di tempati Raya dan Viana. Sesampainya di depan pintu, dia mencoba membuka pintu kamarnya namun terkunci. Sean tidak kehabisan akal. Dia mengambil kunci cadangan yang ada di laci lemari tak jauh dari kamar Raya.


Setelah mendapatkan kunci, dia mencoba membuka kamar itu.


Berhasil. Kamar itu terbuka. Sean menangkap sebuah pemandangan yang menyejukkan mata. Viana dan Raya sudah tertidur lelap dengan wajah damai. Sean melangkah mendekati sisi ranjang kamar itu. Dia berhenti tepat di samping Viana. Dia tersenyum memandangi istrinya yang sedang tidur pulas.


Perlahan Sean membuka selimut yang membalut tubuh Viana. Dia mengangkat tubuh Viana secara perlahan. Setelah memastikan Viana berada dalam gendongannya, Sean melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu keluar. Setelah pintu tertutup Sean kembali menguncinya. Agak memakan waktu karena dia melakukan itu sambil menggendong Viana. Setelah memastikam pintu benar-benar terkunci, dia kembali melangkah menuju kamarnya dengan menggunakan lift. Sepertinya Viana memang benar-benar lelah sehingga guncangan demi guncangan yang di rasakannya saat Sean menggendongnya tidak membangunkannya sedikitpun.


Setelah sampai di kamarnya, Sean meletakkan Viana ke atas ranjang dengan perlahan dan selembut mungkin. Jika saja Sean masih sekasar dulu, mungkin sekarang dia sudah melempar tubuh Viana ke lantai.


Viana sudah terlentang di atas ranjang. Mata Sean terus menyapu setiap inci bagian tubuhnya yang kini membuat bagian bawahnya menegang dan mengeras. Entah apa yang membuatnya menjadi begini. Rasanya berhubungan intim dengan istrinya adalah rutinitas yang harus dia lakukan setiap hari.


Sean mulai menyentuh bagian sensitif Viana. Meraba setiap leluk bagian tubuhnya dan ini membuat Viana merasa kegelian. Sesekali dia terlihat menggeliat saat merasakan sentuhan Sean di semua bagian sensitifnya.


Viana akhirnya membuka matanya.


"Hai Sean" Viana tersenyum saat melihat suaminya ada disampingnya.


"Hai" Sean tersenyum.


Viana memejamkan matanya lagi, namun seketika dia kembali membuka mata. Dia menoleh dan mengerjabkan matanya berkali-kali. Masih Sean yang dia lihat. Dia mengucek matanya dan itu benar-benar Sean suaminya.


Viana bangkit dari tidurnya. Dia melihat sekeliling kamar dan benar ini adalah kamar mereka.


"Sean, kenapa aku ada disini?." Tanya Viana.


"Kenapa ini kan kamarmu." Ucap Sean.


"Tidak, maksudku tadi aku tidur dengan Raya."


Viana benar-benar ingin menuntut penjelasan. Dia bingun dengan apa yang terjadi. Saat terlelap dia berada di kamar Raya, namun saat membuka mata dia berada di kamar Sean.


"Bisa di katakan aku sudah menculikmu" Ucap Sean.


"Apa? Menculik? Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Dan suami mana yang menculik istrinya sendiri dari kamar adiknya." Kata Viana.


"Apa kau mau protes?." Sean mendekatkan wajahnya ke Viana. Sorot mata yang sangat tajam.


"Bukan begitu Sean. Saat Raya terbangun karena haus atau buang air kecil dia akan menyadari ketidakberadaanku dan dia akan panik karena aku tidak ada di kamarnya" Viana mencoba memberi pengertian kepada Sean.


"Oh ya aku lupa mengatakan bahwa Raya adikku yang manja dan cerewet itu adalah tukang tidur terbaik di dunia" Kata Sean.


Viana mengernyitkan dahi mendengar kalimat Sean.


"Saat dia sudah benar-benar terlelap, dia bahkan tidak akan mendengar suara ledakan petasan disebelahnya." Kata Sean.


"Maksudmu dia akan tidur sampai tidurnya benar-benar puas?" Tanya Viana.


"Hmm, dia tidak akan bangun saat dirinya masih mengantuk. Apalagi sekarang. Bahkan suara petir tidak akan membangunkannya." Kata Sean.


Viana tersenyum dan menggeleng mendengar penjelasan Sean tentang betapa payahnya Raya soal urusan tidur.


"Dan sekarang kau sudah menjadi tawananku. Sudah saatnya aku menyiksa sanderaku." Sean menyeringai.


"Apa? Menyiksa? Sean apa salahku? Baiklah maafkan aku karena dulu aku selalu menyumpahimu."


"Apa?." Melotot tidak percaya.


"Maafkan aku karena aku sering menjelekkanmu dalam batinku saat kalah berdebat denganmu."


"Apa???" Semakin melotot tajam.


"Maafkan aku karena aku....." Viana menyadari sesuatu.


Sean menatapnya tajam.


"Apa yang barusan kau katakan ha? Kau sudah bosan hidup ya?." Sean mencengkram bahu Viana kuat hingga Viana meringis kesakitan. Sean melepasakan cengkramannya lalu membuang badan dan membelakangi Viana dalam tidurnya. Rasanya sangat malas jika dia harus berdebat malam ini. Dia memutuskan untuk menyimpan amarahnya sampai besok.


"Sean maafkan aku." Viana mencoba menyentuh tangan Sean namun Sean segera menepisnya.


Ayo pikir Viana. Apa yang membuat Sean tidak marah lagi. Ayo pikiiiiir......Ah aku tau.


Viana memaksa Sean membalikkan tubuhnya. Tentu saja Sean langsung terlentang karena tenaga Viana cukup kuat. Dan Viana juga tau kalau Sean tidak benar-benar marah. Karena jika Sean marah, maka akan sangat sulit membalikkan tubuhnya.


Viana beralih menaiki tubuh Sean.


"Mau apa kau?" tanya Sean masih dengan tatapan tajam.


"Aku mau kamu memaafkan diriku" Ucap Viana.


"Tidak" Sean membuang muka.


"Tidak Tuan Muda. Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Akan sangat sulit bagiku karena aku akan selalu kalah saat berdebat denganmu" Viana menahan kedua tangan Sean sekuat tenaga.


Sean terpancing dengan aksi Viana. Bukan terpancing emosi, namun terpancing hawa nafsunya. Dia membalikkan tubuh Viana hingga kini Viana berada di bawahnya.


"Apa kau sedang memancingku?" Sean menatap penuh hasrat.


"Katakan saja begitu. Memangnya apa tujuanmu menculikku selain ini? Kamu tidak mungkin menculikku hanya untuk menemanimu tidur bukan?" Viana tersenyum lalu mengalungkan tangan nya ke leher Sean.


Sean segera mendaratkan ciuman di bibir Viana. Menikmati dan meresapi sensasi kenikmatan yang dia dapatkan walau hanya dari sebuah ciuman nakal. Sean terus menyusuri setiap lekuk tubuh Viana. Membuat keduanya hanyut dalam kemesraan.


Viana memang benar, tujuan Sean menculiknya adalah untuk ini. Hasrat yang memang tidak bisa dia tahan saat gairah sedang menguasai dirinya. Hanya Viana, Viana, dan Viana yang bisa memuaskan hasratnya.