
Suara Sean menggema di seluruh ruangan. Seisi restoran mendengar pernyataan Sean yang begitu mengejutkan.
Sedangkan Viana? Telinganya baru menangkap sebuah kalimat yang ingin dia dengar sejak dulu.
Sean sangat mencintaiku dan dia mengatakan di depan semua orang?. Viana hampir tidak percaya bahwa Sean bisa melakukan ini.
Lidya terbengong mendengar kalimat Sean tadi.
"Apa? Istri? Kamu sudah menikah dengannya?" Tanya Lidya masih dengan ekspresi tegang dan tidak percaya.
"Ya, kami sudah menikah dan jika kau tidak keberatan keluar lah karena kau tidak di harapkan disini" Kata Sean sambil menunjuk pintu keluar.
"Aku akan membatalkan kerja sama dengamu" Ancam Lidya.
"Apa menurutmu aku butuh itu?" Tanya Sean
Lidya sudah kalah, dia merasa sangat malu. Sekarang dia yang menjadi perbincangan di dalam restoran itu.
Lidya menatap penuh dendam ke arah Viana.
Dia melangkah menuju luar restoran.
"Fokus lah pada makanan kalian atau aku akan membuat kalian fokus pada hidup kalian" Ancam Sean. Yang dia maksud adalah fokus ke kehidupan mereka yang akan di hancurkannya.
"Sean sudah lah" Viana menenangkan Sean.
"Ayo kita pergi" Viana hendak menarik tangan Sean namun Sean malah menarik kembali tangannya hingga kini dia ada dalam pelukan Sean.
"Sean lepaskan banyak yang melihat" Kata Viana.
"Jika mereka berani melihat aku akan mencongkel mata mereka" Kata Sean.
Semua pengunjung restoran tidak ada yang berani menoleh pada mereka.
"Sean, ayo lah" Kata Viana dengan tatapan memohon.
Sean mengalah, dia melepaskan Viana dan pergi keluar dengannya.
Mereka masuk ke mobil dan bermaksud kembali ke perusahaan.
Di perjalanan.
Viana masih mengingat kata kata Sean tadi.
"Sean, apakah kata katamu tadi benar?" Tanya Viana
"Yang mana? Mencongkel mata mereka? Benar" Kata Sean.
"Bukan yang satunya" Kata Viana.
"Sean, ayolah kamu pasti tau" Viana masih belum mau menyerah.
"Kau yang berbelit belit katakan saja apa susahnya, menyebalkan" Dengus Sean kesal.
"Apa kalimatmu yang bilang kalau kamu sangat mencintaiku benar?" Tanya Viana
"Hmmm" Jawab Sean.
"Tidak bisakah kamu mengatakannya lagi" Pinta Viana
"Tidak" Jawab Sean datar.
"Kenapa?" Raut wajah Viana menjadi sedih.
"Karena aku tidak mau" Jawab Sean.
"Tadi kamu mau mengatakannya" Kata Viana.
"Berisik, diam lah atau kita akan berakhir di rumah sakit" Kata Sean yang masih fokus menyetir
Viana menundukkan wajahnya. Dia merasa sedih dengan sikap Sean yang tidak mau mengatakan perasaannya. Padahal tadi Sean bersikap manis dan dia bahkan memeluk Viana di dalam restoran itu.
"Aku tadi memelukmu karena ada anak rekan bisnis Papaku juga disana. Aku tidak mau dia menggangguku seperti Lidya" Kata Sean mengartikan pemikiran Viana.
Viana kembali tenggelam dalam kesedihannya. Dia banyak diam sepanjang jalan. Di tatapnya pepohonan yang berbaris rapi di sepanjang jalan. Tanpa sadar dia menitihkan air mata.
Sean melihat Viana berlinang air mata.
Dasar wanita bisanya hanya menangis saja. Gumam Sean.
Sean bilang apa? Bisanya hanya menangis saja, ingat lah Sean berapa kali Viana memelintir tanganmu?.
Sean menghentikan laju mobilnya lalu menepikan ke pinggir jalanan yang sepi.
Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Sean membalikkan badan Viana hingga kini menghadap ke arahnya. Dengan lembut Sean menghapus air mata Viana dengan tangannya.
"Hei, jika aku tidak mau mengatakannya bukan berarti aku tidak merasakannya. Aku bukan lah orang yang suka mengungkapkan perasaan dengan kata kata. Aku lebih suka menunjukkannya dengan tindakan. Tidak kah kau merasa perlakuanku padamu menunjukkan betapa besar rasa cintaku padamu? Hm? Viana, aku mencintamu. Jangan minta aku mengatakan ini lagi mengerti?" Ucap Sean sambil tersenyum lembut.
Mata Viana berkaca kaca. Hari ini Sean benar benar menyatakan cintanya. Tentu Viana sangat bahagia dan kini dia merasa sangat puas dengan apa yang terjadi hari ini.
Sean membelai rambut indah Viana dan dengan lembut mencium bibir Viana.
Lalu keningnya kemudian di akhiri dengan pelukan dia antara keduanya.