Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Trauma


Malam harinya. Sean dan Viana sedang berdiskusi tentang Sevina.


"Sean apa menurutmu Sevina sangat nakal?" tanya Viana.


"Tidak, siapa yang bilang?" tanya Sean.


"Tidak ada, hanya saja ketika dia sedang diganggu dia pasti memberikan pukulan." jawaban Viana.


"Jadi untuk apa kau melatihnya bela diri? Kau yang sudah membuat dia menjadi sekuat dirimu kan." ucap Sean.


"Aku hanya ingin agar dia bisa melindungi dirinya. Lagi pula dia yang duluan tertarik pada seni bela diri." ucap Viana.


"Tentu saja dia kan juga anakmu. Sedikit banyaknya pasti dia menuruni sifatmu yang suka sekali memelintir orang." Gerutu Sean.


"Ya, tapi wajah dan sifat arogannya itu adalah jiplakanmu. Yang penting dia sangat berprestasi dan menurut jika di nasehati. Dan dari cara temannya mengganggunya itu wajar jika dia marah. Tapi masalahnya dia kan anak perempuan. Dia seorang Armadja dan dia begitu arogan." ucap Viana sambil memegangi kepalanya.


"Apakah bodyguard cocok untuknya?" tanya Sean memberi saran.


"Apa kau mau melihat bodyguard memelototi anak TK yang menganggunya?. Kau hanya akan membuatnya tidak mempunyai teman." Gerutu Viana.


"Apa karena kejadian dua tahun lalu membuatmu mengajarinya bela diri? Apa kau masih takut?" tanya Sean.


"Aku hanya tidak ingin seseorang melukainya seperti dulu." ucap Viana yang kembali mengingat kejadian saat Sevina masih berumur dua tahun.


*Flashback On*


2 Tahun yang lalu saat Sevina masih berusia tiga tahun.


Saat itu Viana baru beberapa bulan melahirkan Reyza. Viana sedang berbelanja susu di supermarket didekat rumahnya. Dia membawa Sevina bersamanya. Hari itu Viana memutuskan untuk membeli sendiri karena dia ingin merasakan menjadi ibu yang sesungguhnya. Dia hanya mengenakan pakaian rumahan biasa dan berjalan kaki saja.


Sesampainya di supermarket itu, Viana melepaskan gendongannya dan menuntun Sevina agar dia berjalan bersamanya.


Namun saat tengah sibuk memilih susu, Viana melepaskan pegangannya pada tangan Sevina. Itu membuat Sevina berjalan kearah lain.


Saat sudah selesai memilih, Viana baru sadar jika Sevina tidak ada didekatnya. Dia pun berkeliling di dalam supermarket itu dan memanggil-manggil Sevina. Para petugas yang sedang bekerja juga ikut mencarinya.


Viana panik dan dia mulai menangis. Namun seketika matanya menyorot pemandangan yang mencengangkan. Sevina berada di luar supermarket dan seorang bocah berusia 13 tahun berusaha menarik tangannya. Sevina menangis dan berusaha melepaskan tangannya dari bocah itu.


Sevina memang tidak pernah keluar sekalipun. Karena Sean melarang wajah Sevina untuk di ekspos di televisi atau diketahui orang-orang. Karena itu Sevina hanya mengenal keluarga dan para pelayannya saja. Itu sebabnya saat ada orang yang tidak dikenalnya menariknya dia menangis.


Viana berlari mengejar bocah itu. Dia mendorong bocah itu dan menarik Sevina ke dalam gendongannya. Sedangkan satpam setempat memegangi bocah itu. "Apa maumu." ucap Viana pada bocah itu.


"Siapa yang menyuruhmu ha?" Mata Viana memelototi bocah itu.


"Bos saya tante. Dia sindikat penjual bayi." ucap bocah itu.


"Apa? Lihat saja aku tidak akan mengampuni bos mu itu." Viana mengambil ponselnya dan menelpon polisi. Dua puluh menit kemudian, polisi datang dan menangkap bocah itu.


"Tangkap bos anak ini dan berikan hukuman setimpal padanya." ucap Viana.


"Baik Nona, apakah anak anda baik-baik saja? Izinkan kami mengantar Nona." ucap Polisi itu.


"Tidak, aku sudah menelpon pengawalku. Itu mereka sudah sampai." ucap Viana menujuk sebuah mobil yang merupakan mobil pengawalnya.


"Baik Nona. Kalau begitu kami permisi. Kami akan segera menangkap pelakunya." ucap Polisi itu. Mereka membawa bocah itu untuk dimintai keterangan karena mereka tidak bisa menahannya karena dia masih dibawah umur. Dan seminggu setelahnya, pelakunya tertangkap dan diberi hukuman setimpal.


Sejak saat itu Viana mulai melatih Sevina bela diri agar dia bisa melindungi dirinya dari orang-orang yang ingin menculiknya. Tidak disangka Sevina malah tertarik dan giat berlatih dengan ibunya.


*Flashback Off*


"Tenanglah, dia akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani mengganggunya." ucap Sean sambil mengusap punggung Viana.


"Apa kau yakin?" tanya Viana ragu.


"Tidak ada yang berani menyentuh keluarga Armadja." ucap Sean penuh keyakinan.


"Semoga saja." ucap Viana tersenyum sedikit memaksa.


"Sudahlah sebaiknya lupakan yang pahit - pahit, dan ingat yang manis - manis." ucap Sean tersenyum nakal.


Viana tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar kalimat Sean yang sebenarnya ingin meminta jatah. Untung saja Reyza dan Sevina sudah tidur dikamar masing -masing, jadi mereka tidak akan mengganggu orang tuanya.


Sean membaringkan tubuh Viana dan mulai mencium dan menc*mbunya.



Meskipun mereka sudah 6 tahun menikah, namun keromantisan Sean tidak pernah pudar. Bahkan sekarang dia semakin romantis dan semakin mencintai Viana. Dia lebih banyak bersabar menghadapi kecerewetan Viana karena sedikit rempong dengan dua anak yang aktif seperti Sevina dan Reyza adiknya.


Mereka pun menikmati malam itu dengan penuh cinta dan hasrat yang membara.