
Pagi pun menjelang. Viana sudah bersiap pergi ke rumah ayahnya. Anak-anak sudah berangkat sekolah, sedangkan Sean masih di rumah karena meeting akan di mulai tiga jam lagi. Ia masih memakai baju santainya.
Viana sudah mencapai handle pintu utama tanpa berucap, namun hatinya merasa tidak enak kalau pergi tanpa berpamitan dengan Sean. Ia merasa tidak enak hati.
Segera ia berbalik dan berkata, "Aku pergi dulu," ucapnya sambil menatap Sean dengan wajah cemberut.
"Aku kira kau tidak akan berpamitan." Sean menatap Viana dengan datar.
"Aku bukan istri durhaka."
"Sepertinya kau bersemangat sekali sampai tidak sarapan."
"Aku sudah berjanji akan makan di rumah ayah."
"Pergi dan bersenang-senanglah. Ku rasa aku akan sangat merindukanmu." Sean kini menyunggihkan senyumannya sedikit.
"Jagalah anak-anak. Jangan biarkan Sevina memukul samsak tinju tanpa pemanasan, dan jangan biarkan Reyza minum air es terlalu banyak. Anak-anak tidak boleh tidur di atas jam sembilan, dan ingatkan Reyza untuk menggosok gigi sebelum tidur. Jangan berikan mereka uang jajan melebihi biasanya, dan yang terpenting, jangan biarkan Reyza melihat ulat."
"Kau berkata seakan ingin pergi lama saja."
"Seperti halnya dirimu, aku juga ingin yang terbaik untuk anak-anak. Karena uang saja tidak cukup membuat mereka bahagia. Kasih sayang dan perhatian, itu juga penting."
"Iya, aku mengerti. Pergilah."
Viana pun pergi dari rumah itu dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya, ia pergi tanpa memulai pertengkaran dengan Sean.
Di perjalanan, Viana tampak merenung. Ia melihat pohon yang lalu lalang akibat laju mobil. 'Kenapa kita harus berselisih karena hal ini? Aku mengerti kita beda kasta. Kau berasal dari keluarga yang agung, sedangkan aku dari keluarga miskin. Aku kira kau dapat menerima kekuranganku. Aku kira cintamu padaku sangat besar. Namun nyatanya aku salah, kita tetap berbeda dan cintamu padaku tidak sebesar dulu.' batin Viana sambil menyeka air matanya.
Hendra menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat.
"Akhirnya kau sampai, Nak. Ayo kita masuk, Ayah sudah menyiapkan sarapan untukmu." Hendra membimbing Viana masuk ke dalam rumah.
Mereka pun segera sarapan bersama dengan menu yang dimasak Hendra. Viana begitu menikmati masakan yang sudah lama tidak ia rasakan. Rasa asin pun menyeruak di dalam mulutnya. Membuat Viana memicingkan matanya dan mengeluarkan lidahnya.
"Ayah, kenapa asin sekali? Ayah menaruh garam terlalu banyak, ya?" tanya Viana.
"Benarkah?" Hendra pun menyicipi makanan yang berupa nasi goreng itu. "Benar, asin sekali. Sepertinya Ayah salah menaruh bumbu." Menjulurkan lidahnya lalu meminum air.
"Ya sudah biar aku saja yang memasak." Viana pun bergegas ke dapur berukuran kecil itu.
"Kenapa Ayah tidak mau menerima tawaran Sean untuk merenovasi rumah ini? Bahkan dia juga sudah menyiapkan rumah yang dekat dengan rumah kami agar kita tidak berjauhan," ucap Viana dengan setengah berteriak agar suaranya di dengar ayahnya.
"Rumah ini berisi kenangan manis dengan ibumu. Bentuk dan tata letaknya tidak akan Ayah rubah," ujar Hendra.
Mendengar ucapan Hendra, Viana hanya bisa tersenyum. Memang rasa cinta ayahnya pada ibu sambungnya sangat besar. Bagaimana tidak, ibu tirinya itu memberikan limpahan kasih sayang pada Viana meski mereka bukan ibu dan anak kandung.
"Ayah, Ayah." Viana geleng-geleng kepala.
"Vi, apa Sean malu dengan keadaan Ayah sehingga dia tidak mau kesini?" tanya Hendra yang kini menghampiri Viana di dapur.
Mendengar ucapan Hendra, Viana langsung menepisnya. "Tidak, Ayah. Sean hanya sedang sibuk saja."
"Ya kalau malu pun Ayah maklum. Dia itu bos besar, sedangkan Ayah hanya tukang urut."
"Ayah, jangan berpikir yang macam-macam. Sean itu baik." Viana berusaha menghibur ayahnya meski kini ia merasa ragu telah mengatakannya.
"Ayah percaya padamu." Hendra pun kembali ke meja makan menanti masakan Viana yang hampir matang.
Tepat setelah makanan itu matang, mereka pun segera sarapan bersama.