
Beberapa hari kemudian.
Alya, Rangga dan Sean sedang berada diruangan Viana. Alya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Viana.
"Vi, terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga kami. Mama bersyukur kamu yang menjadi menantu keluarga kami. Maafkan Mama karena kamu harus begini." ucap Alya dengan raut wajah sedih.
"Tidak apa-apa Ma. Tujuan awal Vi kan untuk melindungi Sean." jawab Viana.
"Apa Kau bilang? Kau adalah Istriku sekarusnya Kau yang aku lindungi. Lihat sekarang kau jadi begini" gerutu Sean.
"Sean terlalu mencintaimu sehingga dia seperti ini. Maklumi saja ya." ucap Rangga tersenyum geli. Sean menundukkan kepalanya karena malu.
"Oh ya Sean apakah setelah ini aku boleh bertemu dengan Kenzie? Aku ingin memberikannya foto Ibu. Mungkin sekarang dia sudah sadar dibalik jeruji." tutur Viana.
Semua terdiam dan saling pandang. Sean memberi isyarat pada kedua orang tuanya untuk keluar.
"Vi, Mama dan Papa keluar dulu ya. Kalian mengobrol saja." ucap Alya yang langsung keluar bersama Rangga.
Viana merasa ada yang aneh dengan tingkah kedua mertuanya. Dia kembali menatap Sean dengan penuh selidik. "Ada apa Sean?"
Sean masih diam. Dia berjalan mendekati Viana lalu duduk disamping ranjang yang ditiduri Viana. Raut wajahnya sangat bingung. Bagaimana dia menyampaikan berita kematian Kenzie?
"Vi, sebenarnya setelah dia menembakmu. Dia......" Sean tampak ragu.
"Dia kenapa Sean?" Viana tidak sabar. Bahkan dia sudah menangkap gelagat aneh dari Sean.
"Dia....menembakkan pistol itu ke kepalanya dan meninggal di tempat itu."
Mata Viana berkaca-kaca. Rasanya dia sudah benar-benar gagal mengabulkan permintaan terkahir Lusi, Ibu tirinya. "Tidak...tidak. Kamu pasti bohong kan Sean. Ini tidak mungkin." Viana pun menangis. Sean memeluknya dan mengusap kepalanya.
"Kau harus sabar Vi. Ini semua bukan keinginan kita. Kita sudah berusaha tapi takdir berkata lain." ucap Sean.
"Tapi aku sudah gagal menjalankan amana Ibu, Sean."
"Tidak, kau tidak gagal. Kau sudah berusaha menyadarkannya. Bahkan dia sudah tau kalau dia salah namun dia masih menyangkal." Sean berusaha menenangkan Viana.
Setelah lama menangis Viana kembali tenang. Dia mulai menerima kepergian Kenzie yang terbilang tragis.
****
2 minggu kemudian.
Sean sedang menemani Viana diruangannya. Sejak Viana dirumah sakit. Sean memang tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit. Semua keperluannya dibawa oleh Daniel.
"Sean kapan aku bisa pulang?" tanya Viana.
"Mungkin besok." jawab Sean sambil membelai rambut Viana.
"Lama selali. Aku mau sekarang." ucap Viana yang memang sudah merasa bosan berada di rumah sakit. Padahal dia sudah sembuh namun keluarga Sean ingin dia benar-benar pulih agar bisa kembali ke rumah.
"Kau belum pulih."
"Aku sudah pulih Sean. Bahkan sekarang aku sudah bisa memukul samsak. Bawalah kesini aku akan menunjukkannya." ucap Viana.
Sean geleng-geleng kepala melihat istrinya. Dia berdiri dan berbalik menghadap Viana yang sedang duduk. Dia membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Viana.
"Jika kau sudah pulih, itu artinya kita bisa bertarung di ranjang ini bukan?" Sean tersenyum nakal dan membuat Viana menjadi gugup.
"Tidak, ini dirumah sakit." tolak Viana.
"Siapa bilang ini dihotel." Sean mulai mendekatkan wajahnya. Viana berusaha menghindar namun Sean terus mendekat.
"Oh ayolah apakah tidak bisa menunggu sampai pulang?"
Sean membenarkan posisinya begitu juga dengan Viana.
"Kenapa harus aku yang melihat ini? Kau sengaja ya. Kau tau aku akan datang dan Kau ingin pamer?" Zein menggelengkan kepalanya.
"Karena itu menikahlah agar kau tau bagaimana rasanya merindukan istri." cibir Sean.
"Diamlah, aku masih terlalu muda untuk menikah. Lyana juga bilang begitu." ucap Zein.
"Apa? Lyana? Berarti kalian sudah pacaran?" Sean terlihat kaget dengan penuturan Zein yang sebenarnya keceplosan.
Zein menjadi salah tingkah karena kini Sean dan Viana tau kalau dia dan Lyana sudah berpacaran. "Diamlah. Kalian lanjutkan saja yang tadi." Zein keluar dari ruangan itu sambil mengutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh hingga membeberkan rahasianya dengan Lyana.
Sean kembali menoleh ke arah Viana.
"Seperti katanya, ayo kita lanjutkan lagi." ajak Sean.
"Apa? Tidak. Aku tidak mau ada lagi yang memergoki kita." Viana berusaha mendorong tubuh Sean namun Sean terlalu cepat dan berhasil mencuri sebuah ciuman.
Sean melepaskan ciumannya saat Viana mencubit lengannya kuat. Viana langsung berlari ke kamar mandi. "Hoeeeeek Hoekkk."
Sean bergegas ke kamar mandi. "Vi, kau kenapa?" Sean tampak khawatir.
"Aku tidak tau. Kepalaku pusing dan perutku sangat mual."
Viana selesai mencuci mulutnya. Sean menuntunnya kembali ke ranjang.
"Apa aku bau mulut sehingga Kau mual-mual?" tanya Sean.
Viana menggeleng. Tidak ada kesegaran yang mengalahkan aroma mulutmu Sean.
"Lalu kenapa?" Sean masih terlihat cemas.
"Ya sudah aku akan panggil dokter untuk memeriksamu." Sean pergi keluar dan menemui dokter wanita.
Dokter itu masuk ke ruangan Viana dan memeriksanya. Setelah itu dia tersenyum dan berkata "Selamat Tuan, Nona. Kalian akan menjadi orang tua."
Raut wajah Sean berubah drastis. Yang tadinya cemas kini menjadi gembira. Viana baru ingat bahwa sebelum penculikan dia memang tidak sempat melakukan suntikan KB.
"Terima kasih dokter." Sean menjabat tangan dokter itu.
"Saya akan berikan vitamin penguat kandungan. Jika berhubungan mohon pelan-pelan dan jangan lama. Karena kandungan Nona masih sangat muda." ujar dokter.
"Iya Aku mengerti." ucap Sean. Sepertinya rasa senangnya mengalahkan segalanya.
Tak lama kemudian. Keluarga Armadja datang dan Sean memberitahukan kabar gembira ini. Semua tampak senang terlebih Alya dan Rangga karena akan mendapatkan cucu.
"Viana." Suara seseorang mengagetkan mereka. Ternyata dia adalah oma Laura. Dia menghambur dan memeluk Viana. Semua terkejut namun turut senang dengan tindakan oma Laura.
"Maafkan Oma ya sayang. Ternyata hatimu begitu mulia sama seperti Mama Alya. Maafkan sikap Oma selama ini sayang." Oma Laura tampak menangis didalam pelukan Viana.
"Tidak apa-apa Oma." ucap Viana tersenyum lembut.
"Bersiaplah Mami. Mami akan segera punya cicit." tutur Rangga.
"Benarkah?" Mami terlihat begitu gembira. Dia mencium kening cucu menantunya itu.
"Terima kasih sayang. Kamu memang pembawa kebahagiaan dalam keluarga ini." Oma Laura tersenyum lembut.
Kini semua tampak Bahagia. Mereka akan menantikam kehadiran malaikat kecil dari dalam rahim Viana. Tidak ada lagi yang akan mengancam keselamatan keluarga Armadja. Semua masalah dan ketegangan seolah sirna sudah. Viana memang menikahi Tuan Muda yang kejam. Namun kekejaman itu sudah dihapus oleh cinta dan pengorbanan Viana.
///////TAMAT//////
Masih ada EXTRA CHAPTER YA. BAGAIMANA REMPONGNYA SEAN SAAT VIANA HAMIL HINGGA MELAHIRKAN. AKAN DI UPDATE SORE INI BESERTA INFORMASI NOVEL TERBARU YAITU MENIKAHI TUAN MUDA YANG KEJAM 3.
DITUNGGU YA 😊