Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Melamar


Sesampainya di kantor, Viana bernafas lega karena Sean belum kembali.


Dia bergegas duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.


1 Jam kemudian pintu ruangan di buka. Dan dia adalah Sean. Jantung Viana berdegup kencang. Dia sangat takut jika Sean tau apa yang dia lakukan tadi. Bisa - bisa Sean akan curiga kalau dia hendak mencari kakak tirinya.


"Vi" Sean tersenyum lembut. Dia melangkah mendekati Viana dan mencium keningnya.


"Bagaiamana disana? Apakah sudah beres?." Tanya Viana.


"Sudah" Jawab Sean. Viana mengangguk mengerti.


"Kenapa wangi bajumu berbeda?." Tanya Sean.


"Ah masa sih, tidak ini tetap sama kok" Jantung Viana semakin berdegup kencang.


Sean mengangguk dan ini sungguh membuat Viana lega.


Jam pulang kantor pun tiba. Sean dan Viana bergegas pulang. Sesampainya di rumah, mereka langsung membersihkan diri.


"Ayo ikut aku." Ajak Sean.


"Kemana?." Tanya Viana.


Sean hanya menatapnya.


"Iya" Jawab Viana.


Mereka segera bersiap. Mereka hanya memakai pakaian biasa. Viana menggunakan dress lengan panjang sedangkan Sean memakai kaos putih lengan panjang.



Mereka bergegas ke mobil dan melaju.


Sesampainya di tempat tujuan, Viana terkejut melihat sebuah arena Ice Skating.


"Sean ini?." Viana menutup mulutnya. dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia sangat suka sekali menantang adrenaline termasuk bermain Ice Skating.


"Kau seperti senang sekali." Sean memperhatikan ekspresi Viana yang sangat senang.


"Aku sudah lama tidak bermain Ice Skating" Ucap Viana.


"Ya sudah masuk dan nikmati lah" Kata Sean. Viana begitu senang, sangking senangnya dia mencium pipi Sean dan berlari kedalam. Dia berganti baju dan memakai perlangkapan Ice Skating. Sepanjang Viana bermain, Sean melihatnya dengan tatapan senang. Bagaimana tidak, Viana seperti anak kecil yang kegirangan habis mendapat kado.


Setelah puas bermain.


"Bagaimana sudah puas?." Tanya Sean.


"Puas sekali apalagi disini sepi dan tidak ada orang" Jawab Viana.


"Tentu saja, aku menyewa tempat ini hanya untukmu." Jawab Sean.


"Untukku?." Viana tidak percaya.


"Ganti lah bajumu." Kata Sean.


Viana langsung bergegas mengganti bajunya lalu kembali menemui Sean.


Sean mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak cincin.


Sean membukanya.


"Sejak dulu aku ingin melakukan ini. Viana maukah kau menikah denganku?." Tanya Sean dengan tatapan penuh cinta.


"Sean kita kan sudah menikah" Kata Viana.


"Oke, ehmm Baiklah Sean aku mau" Ucap Viana. Dia berusaha seserius mungkin.


Sean tersenyum, lalu memakaikan cincin di jari manis Viana.


"Singkirkan cincin itu" Kata Sean.


"Tapi ini kan cincin yang...."


"Kau membelinya sendiri. Aku hanya ingin kau memakai cincin yang aku berikan. Buang saja" Sean mengambil cincin itu dan mencampakkannya ke sembarang arah.


"Sean itu kan....."


"Diamlah, apa cincin itu lebih berharga dari pemberianku. Ini sangat mahal dan aku sengaja memesannya pada pembuat cincin terbaik."


Viana mengangguk.


Itu cincin Sean, bukan batu.


Sean memakaikannya. Lalu membelai wajah Viana sambil terus menatapnya dengan penuh cinta.



"Aku sangat mencintaimu." Sean semakin mendekatkan wajahnya .



Semakin dekat.




Dan sebuah ciuman penuh cinta pun terjadi.


Viana tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika Sean bisa seromantis ini. Dia ingin kemesraan ini tidak cepat berlalu. Jika dia bisa menghentikan waktu, dia ingin waktu berhenti saat ini juga.


Aku tidak menyangka dia melamarku saat ini.


"Ayo kita pulang" Ajak Sean.


Viana mengangguk lalu mereka melangkah bergandengan tangan menuju mobil.


Sepanjang perjalanan Sean terus tersenyum begitu juga dengan Viana.


Terima kasih Zein, karena pertanyaan bodohmu aku bisa melakukan hal ini. Karena kalimat yang keluar begitu saja dari mulutku membuatku ingin mempraktikkannya langsung.


Flashback On


Setelah membantu menyelesaikan masalah di kantor Zein.


"Sean, bagaimana saat kau melamar Viana?" Tanya Zein tiba - tiba.


"Kenapa? Kau ingin melamar Lyana?." Tanya Sean.


"Jawab saja." Kata Zein.


"Tentu aku melakukannya dengan sangat romantis. Aku mengajaknya ke tempat kesukaannya lalu melamarnya disana" Kata Sean berbohong.


"Benarkah kau bisa seromantis itu?". Zein seperti tidak percaya.


"Jika kau tidak percaya, itu urusanmu." Kata Sean yang langsung melangkah pergi.


Flashback Off