Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Gym


Gedung Gym Viana telah selesai. Sudah diresmikan beberapa hari yang lalu. Sudah banyak wanita-wanita muda yang datang ke tempat itu. Viana juga membuka senam untuk para ibu-ibu.


Tempatnya menjadi sangat ramai sekali. Bukan hanya karena baru buka, tetapi juga karena harga masuknya yang sangat murah, karena Viana sudah punya suami sultan, jadi tidak perlu mengumpulkan rupiah lagi.


"Ma, Sevina ingin mencoba itu." Sevina menunjuk sebuah alat fitness yang bekerja dengan mengangkat besi dengan posisi tubuh yang berbaring.


"Tidak, Sayang. Kau belum cukup kuat untuk itu."


"Ayolah, Ma."


"Tidak, jika kau mau, kau hanya boleh memakai samsak saja. Kau masih kecil untuk alat berat itu. Sangat berbahaya untuk tubuhmu yang masih kecil."


"Baiklah, tetapi kenapa Reyza boleh?" Viana menujuk Reyza yang sedang menaiki salah satu alat fitness.


"Astaga, Reyza!" Viana berlari ke arah Reyza, lalu menurunkannya. "Jangan memanjat itu, Sayang, sangat berbahaya."


"Maaf, Ma, habisnya alat ini sangat menarik untuk dipanjat."


Viana memijit pelipis matanya. "Harusnya aku tidak bawa keduanya. Tidak ku sangka di sini malah Reyza yang sangat agresif."


"Sayang, bagaimana kalau kau keluar bersama Paman Daniel. Di depan ada arena permainan anak-anak, ajaklah dia bermain, pasti dia akan sangat senang."


"Benar, juga, Ma. Aku akan mengajak Paman Daniel untuk ikut bermain perosotan, ayunan, dan jungkat-jungkit!" seru Reyza sembari berlari menghampiri Daniel yang kini sedang memaksakan senyuman. Ini bukan pertama kalinya ia disuruh mengikuti permainan anak-anak. Bahkan ia pernah membuat dirinya ditertawakan oleh para ibu-ibu yang menjaga anaknya di taman bermain. Setelah helaan nafas pasrah, Daniel pun pergi bersama Reyza menuju luar gedung.


Sedangkan ia dan Sevina mencoba alat yang mudah digunakan Sevina.


Sedang asyik-asyiknya berolahraga, tiba-tiba saja Viana berhenti dari aktivitasnya ketika melihat seorang wanita yang ia kenal memasuki tempat itu. Ia pun segera menghampiri wanita yang tak lain adalah Stevi.


"Aku tahu dari suamimu. Dia sangat baik, memberitahu ku bahwa kau membuka tempat ini, dia sangat memperhatikan aku." Stevi tersenyum bangga.


"Sean tidak seperti itu. Dia tidak akan memberitahu mu jika kau tidak bertanya. Suamiku bukanlah pria yang mudah berbicara dengan wanita lain kecuali aku, mamanya, dan adiknya."


"Kau sangat percaya pada suamimu. Dengarlah, se-setia apapun suami pada istrinya, yang namanya khilaf pasti pernah terjadi. Apalagi jika disekitarnya ada wanita cantik dan seksi, tentu sedikit banyaknya dia pasti akan melirik atau sekadar mengagumi. Suami bukan malaikat, yang tidak punya hawa nafsu. Percayalah."


"Kalau kau sudah selesai membicarakan hal tidak penting, lebih baik kau katakan kenapa kau kemari." Viana menatap dengan datar.


"Aku hanya ingin mencoba alat di tempat ini. Wanita cantik seperti ku harus menjaga bentuk tubuhku."


"Kau seperti sudah menikah saja, sehingga ingin terus mempercantik diri demi suamimu." Viana menatap sambil tersenyum.


"Aku belum punya suami, jadi maaf, kau salah." Stevi terlihat gugup.


"Oh, kenapa tidak segera menikah? Menikahlah, jika jodohmu adalah pria kaya, miskin, tampan, jelek, muda, atau TUA, syukuri saja."


Stevi tampak semakin gugup. Jelas sekali ia sangat terpengaruh dengan ucapan Viana.


"Kalau kau sudah berbicara, aku ingin menggunakan salat satu alat di sini, karena aku sudah membayar." Stevi meninggalkan Viana yang masih tersenyum melihat tingkahnya yang sangat memperlihatkan kegugupan.


"Sampai berapa lama kau akan menyembunyikan statusmu? Kita lihat saja nanti." Viana tersenyum penuh makna. Ia segera menghampiri Sevina yang masih asyik berlatih.


Sedangkan Daniel sedang bermain jungkat-jungkit bersama Reyza sembari mendengar tertawaan dari para ibu-ibu yang sedang menunggui anak mereka yang juga sedang bermain.


'Kenapa sekarang aku seolah merangkap jadi supir dan babysitter? Hiks,' batin Daniel.