
Viana dan Sean baru saja masuk ke dalam rumah setelah pergi dari acara pernikahan teman mereka yaitu Didi dan Stevi. Malam itu rasanya sangat melelahkan. Terlebih lagi, mereka sempat berdansa karena dipaksa oleh pengantin baru itu.
"Aku rasa aku sudah semakin tua." Sean merebahkan dirinya ke atas ranjang.
"Kau tidak hanya tua. Kau juga jarang olahraga, Sayang." Viana membantu melepaskan sepatu Sean dari kakinya.
"Iya, semenjak bisnis Papa berkembang, aku tidak pernah lagi olahraga. Apa aku merekrut orang kepercayaan saja, ya, agar aku punya waktu lebih."
"Orang kepercayaan? Siapa yang mau diembankan tugas oleh orang galak seperti mu? Apa kau tidak ingat, sekretaris yang sementara menggantikan sekretaris barumu? Dia langsung sakit demam karena kau memarahinya habis-habisan."
"Dia saja yang terlalu bodoh! Hampir saja perusahaan mengalami kerugian kalau saja aku tidak memeriksa lebih detail lagi."
"Ya, tapi sikap arogan mu itu perlu dipertimbangkan. Kau hanya manis di depan keluarga saja. Tapi di depan para bawahan mu, kau selalu saja galak. Apa kau sudah memandang kasta sekarang?" Viana menarik tangan Sean agar ia duduk agar Viana dapat melepaskan jas yang masih dipakai Sean.
"Bukan begitu. Kau tahu kan bagaimana jika aku bersikap lembut pada bawahan? Kau tidak ingat bagaimana Lisa mengganggu ku karena aku bersikap baik padanya. Itu juga salahmu karena mempercayainya begitu saja."
"Iya, aku tahu aku salah. Tapi pelakor itu sudah mendapatkan ganjarannya setelah aku menipunya dengan tas KW." Viana melepaskan dasi yang masih membalut kerah kemeja Sean.
"Kau memang kejam."
"Aku menikahi Tuan Muda yang kejam. Jadi, kejamnya, menurun padaku." Viana beralih membuka kemeja putih Sean.
"Lepaskan, aku hanya tidak ingin kau tidur dengan kemeja putih. Air liur mu akan mengotorinya seperti waktu itu." Viana berdiri dari pangkuan Sean setelah ia berhasil melepaskan diri darinya.
"Kau terlalu banyak alasan dan terlalu jual mahal. Padahal kata Papa, dulu ibu Lusi sangat baik dan suka merendah."
"Dia memang ibuku, tapi bukan ibu kandung ku. Jadi, aku tidak menuruni sifatnya yang baik itu."
"Oh iya, aku sampai lupa, hahaha. Katakan padaku, bagaimana ibu kandung mu semasa hidup!"
Wajah Viana tiba-tiba berubah. Air mukanya menunjukkan ketidaksukaan saat Sean menanyakan hal itu.
"Setahuku itu bukan urusanmu." Viana beralih ke kamar ganti dan mengganti bajunya.
Sean merasa heran dengan ucapan Viana. Dulu ia pernah menyelediki tentang ibu kandung maupun ibu tiri Viana. Keduanya meninggal karena sakit, tidak ada yang aneh.
"Dia kenapa? Apa semasa hidup, ibunya memperlakukannya dengan sangat buruk sehingga dia marah seperti itu?"
Tak berselang lama, Viana kembali dari ruang ganti dengan piyama. Ia langsung merebahkan dirinya dan membelakangi Sean yang semakin kebingungan dengan sikapnya.
Hingga tengah malam, tanpa sengaja Sean mendengar isak tangis di sebelahnya. Ternyata Viana sedang menangis sesenggukan. Sean ingin bangun dan memeluknya, namun ia urungkan karena tidak ingin Viana marah seperti tadi. Dan kini i punya PR baru. Yaitu menelusuri apa yang terjadi pada Viana dan ibu kandungnya. Yaitu melalui ayah Viana sendiri, yaitu Hendra.