
Pagi hari pun tiba...
Sean sudah bangun dari tidurnya.
Dia melihat Viana masih tertidur di sebelahnya.
Dia memeriksa suhu tubuh Viana.
Panasnya sudah turun tapi dia masih pucat.
Sean segera ke kamar mandi dan bersiap untuk ke kantor.
"Hei bangun" Ucap Sean sambil mengguncang tubuh Viana.
Viana membuka matanya.
"Sean" Ucapnya dengan suara lemah
"Kau tidak usah bekerja saja hari ini" Kata Sean
Memangnya aku bisa bekerja dalam kondisi seperti ini?
"Iya" Jawab Viana
"Ya sudah aku berangkat dulu" Kata Sean yang hendak melangkah pergi
"Sean" Ucap Viana sambil menahan tangannya
Sean menoleh.
"Ada apa?" Tanya Sean
"Maafkan aku" Kata Viana dengan raut wajah penuh sesal.
Sean terdiam sejenak, ada perasaan bersalah dalam hatinya.
"Minumlah obatmu" Kata Sean lalu melangkah pergi meninggalkan Viana yang sedang terseyum.
Sean sudah sampai kantor.
"Selamat pagi Tuan" Sapa Kevin
"Hmm" Ucap Sean seperti biasa
"Tuan dimana Viana?" Tanya Kevin
Darah Sean langsung mendidih kala mendengar Kevin menanyakan Viana.
"Sepertinya kau menyukainya ya?" Tanya Sean dengan sorot mata curiga
"Hehe kelihatan ya Tuan" Kata Kevin sambil menunduk menahan malu
Dasar berengsek, berani sekali kau menyukai istri orang.
"Cari lah wanita lain, dia sudah punya pasangan" Kata Sean
"Selagi janur kuning belum melengkung saya masih punya kesempatan kan Tuan" Ucap Kevin dengan percaya dirinya.
"Jika sudah melengkung apakah kau akan tetap mengejarnya" Kata Sean
"Entah lah Tuan, dia sudah membuat saya tergila gila" Ucap Kevin
"Dia sedang sakit, jadi tidak masuk hari ini" Kata Sean
"Apa? Sakit apa Tuan? Tuan bolehkah saya meminta alamatnya? Saya ingin menjenguknya" Kata Kevin
Dasar tidak tau malu.
"Dia berobat di luar negeri" Kata Sean
"Di Negara mana Tuan?" Tanya Kevin
"Di Palestina" Kata Sean
Kevin mengernyitkan dahinya.
"Ya sudah jangan bertanya lagi, waktuku terbuang karenamu" Kata Sean yang melangkah kan kakinya menuju ruangannya.
Apakah cinta bisa membuat orang menjadi sebodoh itu? Dan apakah tidak ada wanita lain sehingga dia mencintai istri orang? Dasar sinting
Sean mulai bekeera dengan laptopnya. Namun dia tidak fokus dan terus memikirkan Viana.
Sedang apa dia ya? Bagaimana keadaannya? Dan apakah dia sudah minum obat?
Sean masih tidak fokus, jika dia terus memikirkan Viana, pekerjaannya akan terbengkalai.
Akhirnya dia memlilih menelpon Heni hanya sekedar untuk menanyakan keadaan Viana.
Dia sudah menekan nomor Heni dan sekarang sedang memanggil.
Tak butuh waktu lama, Heni langsung mengangkatnya.
"Halo Tuan" Jawab Heni
"Heni apakah Nona sudah makan?" Tanya Sean
"Sudah Tuan, Nona juga sudah meminum obatnya" Kata Heni
"Apakah dia sudah lebih baik?" Tanya Sean
"Sudah Tuan, pucatnya sudah mulai hilang" Jawab Heni
"Sedang apa dia sekarang?" Tanya Sean
"Sedang duduk di samping saya Tuan, saya sedang menemani Nona di taman belakang. Katanya beliau butuh udara segar" Kata Heni
Sean langsung mematikan Hpnya.
Pasti dia sudah tau kalau aku menanyakan keadaannya. Ahhh bodoh
Sementara itu...
"Apakah itu Sean?" Tanya Viana
"Iya Nona" Kata Heni
Viana membentuk sebuah senyuman di wajahnya. Tidak di sangka saat bekerja pun Sean masih mengkhawatirkannya.
Apakah kamu mencintaiku Sean? Tapi hanya belum menyadarinya saja? Aku tidak ingin terlalu berharap tentang itu. Biar lah waktu yang akan menjawabnya