
Siang pun tiba. Viana menjemput kedua anaknya yang baru saja pulang sekolah. Terlihat kedua anaknya itu tertawa riang karena mereka akan diajak jalan-jalan.
"Anak-anak, ayo kita ke mall!" seru Viana diiringi teriakan kegembiraan dari Sevina dan Reyza.
"Hai, Vi, mau kemana?" tanya Anggun yang juga sedang menjemput David, anaknya.
"Kami mau jalan-jalan. Ayo, bergabung lah bersama kami."
"Wah sepertinya seru, tapi aku tidak bisa. Klien Mas Kevin akan datang malam nanti. Aku harus menyiapkan jamuan untuk menyambutnya."
"Oh, begitu. Ya sudah, lain kali saja, ya,,,," Mendekati Anggun seraya berbisik, "Besan."
"Iya, bersenang-senanglah, besan," bisik Anggun yang cekikikan bersama Viana.
Anggun dan David pun pergi.
"Mama kenapa bicaranya bisik-bisik?" tanya Sevina.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ya sudah, ayo, kita pergi!" seru Viana sambil membimbing anak-anaknya ke dalam mobil dan mereka pun segera meluncur ke mall.
Sudah lama mereka tidak jalan-jalan karena
Sesampainya di sana, kedua bocil itu pun langsung menyerbu arena permainan. Viana meminta salah satu pengawal untuk menemani Sevina, sedangkan dia akan menemani Reyza yang tidak terlalu banyak tingkah.
Selagi menunggu Reyza yang sedang main lempar bola, Viana duduk di sebuah bangku panjang yang dapat memuat beberapa orang. Ia mengamati Reyza dan juga Sevina yang berada tak jauh darinya.
Namun, pandangannya teralihkan oleh sesosok wanita yang ia kenali sedang berjalan dengan santainya, sementara seorang pria tua yang ia lihat di sosial media berada di belakang Stevi sambil memegang belanjaan Stevi yang sangat banyak.
"Hah? Jadi benar mereka saling kenal?" Viana mengucek matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Benar, aku tidak salah lihat." Viana segera mengikuti mereka dan menyuruh pengawal lain untuk datang dan mengawasi Reyza.
Ia melangkah perlahan seperti seorang penguntit. Mencoba mendekat dan mendengar percakapan mereka.
"Iya, Sayang." Pria tua itu mempercepat langkahnya hingga hampir mengimbangi Stevi.
"Sudah aku bilang jangan berjalan beriringan denganku."
Pria itu pun memperlambat jalannya.
'Sayang? Kenapa pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang? Apa mereka pacaran?' batin Viana.
"Mas, jangan panggil aku Sayang."
"Maaf." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut pria tua itu.
"Lagipula kau jadi suami tidak berguna sih." Stevi mendengkus kesal.
Seketika Viana menghentikan langkahnya. Ia begitu terkejut mendengar ucapan Stevi barusan. Ternyata mereka bukanlah mertua dan menantu seperti dugaannya sebelumnya. Mereka adalah suami istri. Tetapi, kenapa harus berbeda usia begini? Jika dilihat? Pria itu sudah berumur lima puluhan, dan Stevi baru berusia tiga puluhan. Mereka sudah berbeda generasi.
"Jika Stevi sudah menikah? Lantas kenapa dia masih menggoda suamiku? Mau mengajak selingkuh karena suaminya sudah tua? Astaga Stevi, bermimpilah." Viana menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali ke anak-anaknya yang masih asyik bermain.
Puas bermain, mereka pun segera pulang. Sevina dan Reyza terlihat sangat puas hingga mereka pun kelelahan dan tertidur di samping Viana.
*****
Sementara itu, Stevi dan suaminya baru sampai di rumah. Ia terlihat sangat kesal pada suaminya yang baru membawa barang belanjaan saja sudah kelelahan.
"Stevi, aku keberatan dengan perlakuan mu yang semena-mena padaku. Aku adalah suamimu."
"Suami? Kau bukan suamiku. Kau hanyalah pria tua gila yang menikahi ku secara paksa karena video itu. Apa kau kira aku sudi menikah denganmu? Ceraikan saja aku!"
"Diam! Kalau kau ingin bercerai, silakan saja, maka video itu akan aku sebarkan dan seluruh orang di dunia ini akan tau siapa kau sebenarnya."
Mendengar hal itu, Stevi pun pergi ke kamarnya. melempar tasnya ke lantai dan berteriak menangis. "Kenapa aku harus hidup seperti ini! Kenapa?!!!"