Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Ikut


Hari ini Anggun sudah resmi menjadi seorang Manager di restoran itu. Sean sudah memperkenalkannya. Semua pegawai restoran itu menyambutnya dengan suka cita. Bukan tanpa alasan. Manager mereka yang lama adalah orang yang bertindak sesuka hati dan memotong gaji karyawan dengan seenaknya dan tanpa alasan yang jelas. Karena itu Sean memecatnya dua minggu yang lalu namun dia mengatakan pada para karyawannya untuk merahasiakan ini dari Anggun.


Anggun mulai membuat kreasi-kreasi makana baru di restoran itu setelah mendapat izin dari Sean. Dia ingin menyalurkan hobinya yang sebenarnya sangat bermanfaat itu.


Pagi itu, Viana sedang berada di kantor Sean.


"Sean haruskah aku dan Reyza disini?" ucap Viana yang sedang duduk di sofa ruang Sean.


"Maaf sayang. Pagi ini pekerjaanku banyak sekali dari Papa. Jika kalian ada disini itu akan membuatku semangat bekerja." ucap Sean.


"Alasan macam apa itu? Kenapa kau seperti anak ABG?" tanya Viana. Dia heran melihat Sean yang semakin hari semakin manja dan banyak tingkah.


"Sudahlah. Hanya hari ini saja." ucap Sean.


"Bukannya konsentrasimu akan buyar jika ada kami disini. Aku baru tau jika ada orang yang bisa bekerja saat ruangannya berisik." ucap Viana saat melihat Reyza yang sedang memainkan mobil-mobilan yang di belikan Sean. Dia menirukan suara deruman mesin mobil dan itu membuat ruangan menjadi berisik.


"Dia kan anakku. Meskipun berisik, tapi hatiku senang melihatnya disini. Itu membuatku tambah semangat." ucap Sean.


"Ya baiklah sayang kau menang. Oh ya, bisakah aku titip Reyza disini? Aku mau ke pentri membuat susu Reyza." ucap Viana.


"Bagaimana bisa kau menitipkan anak pada Papanya sendiri. Dia kan anakku. Tanpa kau bilang pun pasti aku akan menjaganya. Lagi pula ruangan ini aman untuknya bermain. Aku sudah mengganti barang-barang yang tajam dan berbahaya disini. Lagi pula kenapa kau tidak menyuruh OB saja yang membuatkannya?" tanya Sean.


"Aku tidak percaya pada siapapun termasuk dirimu jika ini menyangkut apa yang akan dikonsumsi anakku." jawab Viana.


"Iya Nyonya kau benar. Silahkan Nyonya aku akan menjaga anakku."


Sean berjalan dan membukakan pintu untuk Viana layaknya seorang pelayan.


"Hentikan Sean. Kau ini." Viana mencubit pipi Sean yang suka sekali usil padanya. Dia pun berjalan menuju pentry dan membuatkan susu untuk Reyza. Semua yang ada di pentry paham jika Viana memang suka sekali melakukan semua sendiri. Meskipun dia adalah menantu keluarga Armadja namun sifatnya yang penuh kesederhanaan tetap melekat dalam dirinya.


Viana berjalan menuju ruangan atas. Dia membawa segelas susu dan teh untuk Sean. Jujur saja, dengan posisinya yang begitu dia seperti Office Girl dengan baju bagus dan sepatu mahal.


Viana hendak melangkah menuju lift namun langkahnya terhenti saat beberapa orang menerobos masuk ke lift tersebut. Beberapa orang itu terdiri dari 3 orang wanita berpakaian rapi. Mereka terlihat masih muda dan cantik. Seragam mereka juga sangat ketat.


Viana hendak masuk ke lify namun salah satu dari ketiga wanita itu menyetopnya. "Eh, stop. Office Girl naik tangga saja." ucapnya.


Viana mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat anah itu. "Maaf tapi semua karyawan disini bebas memakai lift. Lagipula saya bukan O...."


"Sudahlah. Berisik sekali. Naik tangga saja." ucapnya sambil memencet tombol lift dan meninggalkan Viana.


"Pakaiannya bagus dan sepatunya seperti sepatu yang lagi trend yang harganya mencapai puluhan juta." ucap Salah satu wanita itu.


"Halah, paling juga barang KW. OG seperti dia mana bisa beli barang branded. Jika dia orang kaya pasti dia tidak akan membawa nampan."


Viana menghela nafas pelan. "Nyonya. Naik lift khusus saja." ucap salah seorang karyawan yang melihatnya masih berdiri didepan lift menunggu lift terbuka.


Viana menoleh ke lift yang berada diujung. "Oh iya aku sampai lupa. Terima kasih ya." ucap Viana sambil melangkah menuju lift khusus yang sering digunakan suami dan rekan bisnisnya.


Viana sudah sampai diatas. Lift pun terbuka. Viana berjalan keluar. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti saat ketiga wanita itu juga keluar dari lift. Mereka terkejut melihat Viana keluar dari lift khusus.


"Kau? Kenapa bisa keluar dari sini?" ucapnya heran.


Viana tidak menjawab. Dia melangkah menuju ruangan Sean karena takut susu dan tehnya akan segera dingin.


"Hei, aku bicara padamu." ucap salah satu wanita itu sambil memegang bahu Viana agar dia berhenti.


"Tidak. Aku tidak peduli. Yang aku tau Sean itu tampan. Aku tidak begitu tertarik melihat wajah istrinya itu. Yang aku lihat hanya Sean saja."


"Aku istrinya." ucap Viana.


"Apa? Istri? Hahaha imajinasimu luar biasa." Mereka tergelak.


"Carilah pencarian nama Viana Armdja dan kau akan tau." ucap Viana.


"Kami tidak percaya padamu. Sudahlah kami ada janji dengan Sean." Mereka pun pergi meninggalkan Viana menuju ruangan Sean.


Viana hanya bisa geleng-geleng kepala. "Semoga Sean tidak tau apa yang kalian lakukan padaku." ucapnya sambip ikut melangkah masuk.


Ketiga wanita yang sudah duduk di depan Sean menatap terkejut saat Viana masuk tanpa mengetuk.


Viana menaruh teh di meja Sean. "Terima kasih sayang." ucapnya.


Ketiga wanita itu terkejut setengah mati saat mendengar kata sayang keluar dari mulut Sean. Viana hanya tersenyum dan pergi menemui Reyza lalu memberikan susu padanya. Reyza meminum susu itu sampai habis.


"Sayang, aku tunggu di ruang private saja." ucap Viana yang menggendong Reyza menuju ruangan disamping ruangan Sean. Ruangan itu dipakai jika Sean atau keluarganya ingin istirahat.


"Jangan sayang. Disini saja. Lagipula aku tidak akan mau bekerja sama dengan mereka." ucap Sean sambil menatap tajam ke arah tiga wanita itu.


Ketiga wanita itu terlihat pucat.


"Berani sekali kalian menghina istriku. Berkacalah. Bahkan setelah melahirkan dua anak istriku masih sangat cantik. Sedangkan kalian? Belum menikah pun sudah terlihat tidak menarik. Jangan berpikir aku akan tergoda dengan kalian. Sekarang pergi!!" Bentak Sean.


Ketiga wanita itu pun pergi. Mereka terlihat ketakutan. Ternyata sedari tadi Sean melihat rekaman CCTV sejak Viana dibawah hingga ke atas. Dia melihat semua perlakuan ketiga wanita itu.


Setelah semuanya pergi. "Sayang, kenapa kau kasar sekali." ucap Viana yang berjalan menuju Sean dan mengusap punggungnya karena Sean masih terlihat emosi.


"Aku tidak bisa membiarkan istriku dihina seperti itu." ucap Sean.


"Terima kasih." Viana mengecup lembut kening Sean.


Sean menariknya hingga jatuh kepangkuannya lalu mencium bibirnya.


"Sean lepaskan. Ada Reyza." ucap Viana.


"Dia sedang asyik bermain dibalik sofa itu. Tidak akan kelihatan." ucap Sean yang kembali mencium bibir Viana.


"Hentikan." Viana mendorong tubuh Sean.


"Siapa suruh kau memancingku duluan." ucap Sean.


"Aku hanya meredam emosimu. Bukan memancingmu dasar mesum." Viana berdiri dan berjalan mendekati Reyza.


Sean terlihat kecewa. Raut wajahnya seketika berubah.


"Lanjutkan pekerjaanmu sayang. Kita bisa lanjutkan nanti malam." ucap Viana sambil menoleh kearahnya dan tersenyum.


Mendapat janji seperti itu, Sean langsung semangat kembali. Dia melanjutkan pekerjaannya sementara Viana menemani Reyza bermain.