Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Penyusup


Doorrrr


Sebuah tembakan pun terdengar.


"Aaaakhhh!" Seseorang memekik kesakitan saat peluru berhasil menembus tangan kanannya.


Semua pengawal menoleh ke sumber suara, tepatnya di belakang para pengawal yang tadi di todong pistol.


Terlihat seorang pria jatuh dari balik pohon di dekat jalan itu.


"Tangkap dia!" Si pemegang pistol pun menyuruh mereka menangkap orang tersebut yang diketahui lompat dari dalam truk saat mobil oleng dan jatuh ke jurang.


"Siap, Tuan!" seru semua pengawal. Mereka pun langsung menangkap orang tersebut dan membawanya ke hadapan si pemegang pistol.


"Kau kira siapa dirimu yang berani mencelakai istriku?" tanya Sean sambil mencengkram kerah baju orang tersebut.


Orang itu hanya diam dan terus tersenyum.


"Jawab, Gilang!" Sean mengguncang tubuh Gilang dengan kuat.


Gilang hanya tersenyum licik sambil menatap Sean dengan tatapan penuh kebencian.


"Kau kira, setelah aku keluar dari penjara, aku tidak akan akan mencari mu? Kau dan keluarga mu adalah sasaran pertama yang aku tuju!"


"Kau sudah gila!" Sean meninju Gilang yang langsung tersungkur karena kondisinya yang sudah terluka akibat luka tembak.


"Sekarang kau telah kehilangan istrimu!" Gilang mengelap mulutnya yang berdarah akibat tinju Sean. Ia tersenyum menyeringai seperti setan.


"Kau pikir pakai otakmu. Jika istriku ada di bawah sana, apakah aku akan diam di sini? Apakah menurutmu kau lebih penting dari istriku?" Sean menatapnya dengan senyuman Devil.


Seketika senyum di wajah Gilang pun hilang. Ia menatap Sean tidak percaya. "Jangan berhalusinasi! Istrimu sudah jatuh ke jurang bersama dengan mobilnya!"


"Benarkah itu, Sayang?" tanya Sean sembari menoleh ke kanan dengan tetap menatap Gilang.


"Tidak!"


Betapa terkejutnya Gilang saat melihat Viana keluar dari dalam mobil yang sama dengan Sean.


"Kenapa? Kenapa dia,,,,,"


"Kau terlalu bodoh untuk melawanku. Sebenarnya istriku sudah mengetahui tentang rencana busuk mu itu. Hanya saja dia baru memberitahuku tadi malam. Dan kami merencanakan semua ini untuk mu dasar bodoh!"


Flashback On


"Vi, beritahu padaku, kenapa kau bersikap seperti ini? Jangan pernah sembunyikan apapun dariku. Kau ingat saat kau menyembunyikan fakta Kenzie dariku? Kau harus berkahir dengan peluru yang menembus tubuhmu." Sean mengingatkan Viana.


"Aku,,,,," Viana tampak ragu.


"Katakanlah, Sayang." Sean terus memaksa.


"Aku tidak yakin, tetapi sepertinya Gilang sudah bebas dan mengintai ku." Akhirnya Viana berkata jujur.


"Apa?" Sean terkejut mendengarnya.


"Aku beberapa kali melihat seseorang mengintai dari balik gerbang rumah. Awalnya aku kira hanya orang gila. Namun saat kita berkunjung ke rumah ayah, aku melihat dia mengerjai mobil kita. Akupun yakin dia adalah Gilang saat mengintip dari jarak dekat."


"Karena itu kau yang memilih menyetir?" tanya Sean.


"Ya, aku hanya tidak ingin kita kenapa-kenapa, tapi sepertinya dia hanya meletakkan penyadap di mobil kita."


"Lalu, ada apa dengan besok?" tanya Sean lagi.


"Aku khawatir dengan pertemuan besar besok. Karena itu aku memutuskan untuk pergi ke makam ibu agar dia mengejar ku. Bisa gawat kalau sampai dia menghancurkan kalian secara bersamaan."


"Bagaimana dia tahu kalau kau akan pergi besok?"


"Di balkon kamar, aku menemukan sebuah penyadap di bawah bangku yang aku dorong bersamamu."


"Karena itu kau mendorongku agar penyadap itu hancur tanpa dicurigai?"


"Benar, dan dia telah mendengar semuanya."


"Bagaimana bisa dia masuk dan memasang penyadap di balkon kamar kita?"


"Dia melakukannya saat kita pergi ke rumah ayah. Beberapa pengawal kita bawa. Membuat penjagaan kosong di beberapa titik."


Sean menghela nafas panjang. "Aku akan absen dalam rapat itu. Zein pasti bisa menggantikan ku."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Kita susun rencana untuk menjebaknya. Aku tidak ingin mengandalkan polisi karena dia akan menyadarinya. Sedikit orang yang tahu, maka itu akan semakin bagus." Sean tersenyum penuh makna.