Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Episode Spesial - Ketahuan


Sean baru saja sampai di rumahnya. Ia berjalan menuju kamar. Setelah membuka pintu kamar, ia melihat Viana sedang duduk manis di atas kursi sembari melihatnya dengan tatapan tak biasa.



"Hai, Sayang, kenapa melihat ku begitu?" tanya Sean dengan tatapan penuh keraguan.



"Tidak ada, aku hanya melihat seorang suami yang baru pulang sehabis meeting dengan Zein yang sudah berada di rumah saat kau bilang kalian sedang bersama." Menatap dengan tajam sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.



Sean terkejut karena Viana mengetahui bahwa ia berbohong.


"Tidak, Sayang, aku dan Zein memang,,,,,"


Belum selesai Sean berbicara, Viana langsung memperdengarkan rekaman suara saat ia menelepon Lyana tadi.


"Halo, Vi, ada apa?"


"Lyana, apakah Zein sudah pulang?"


"Sudah, kenapa?"


"Sejak kapan?"


"Sejak setengah jam yang lalu."


"Apakah dia ada acara lagi setelah ini?"


"Tidak, kenapa Vi?"


"Tidak ada, katakan padanya, dia harus berguru pada Gilang. Bahkan Gilang pun berperan lebih baik darinya."


"Hah? Apa maksudnya?"


"Tidak ada, oh ya, katakan padanya juga, bahwa aku ingin mengajaknya berkendara di sirkuit."


"Wah, itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita ke sana? Sudah lama aku tidak balapan denganmu."


Rekaman pun berakhir. Sean hanya diam dengan keringat dingin yang bercucuran. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya bahwa ia habis dari rumah Ayah Viana dan menelusuri tentang baju jahitan ibunya.


"Aku menunggu, Sayang." Viana menyilangkan tangannya di dada.


"Sebenarnya kami tidak jadi meeting karena Zein sialan itu tiba-tiba mendadak ingin pulang."


"Lalu, selama kau berbohong, apa yang kau lakukan?" Berjalan mendekati Sean dan melingkarkan tangannya ke leher Sean.


"Aku,,,,emmm sebenarnya aku,,,,,membelikan sesuatu untukmu. Dan butuh waktu lama menemukan ukiran yang cantik."


"Membelikan apa? Perhiasan? Kau kira aku bodoh dengan mempercayai alasan klasik seperti itu?" Viana terlihat heran.


"Tidak, bukan, aku membelikan mu samsak tinju yang baru dan yang ini lebih tahan dari yang sebelumnya. Dilengkapi sensor keamanan sehingga ketika ada anak-anak, dia tidak akan menabrak mereka seperti waktu Reyza ditabrak samsak yang kau pukul."


Mendengar ucapan Sean, mata Viana berbinar-binar mendengarnya. "Benarkah? Mana?"


"Ada di depan pintu." Sean menunjuk luar pintu.


Viana langsung bergegas keluar kamar diikuti Sean. Ia terlihat sangat senang dengan pemberian Sean.


"Terima kasih." Viana memeluk samsak dengan senangnya.


"Apakah samsak itu lebih berharga dariku? Apa aku tidak boleh dapat pelukan?" Sean merentangkan tangannya.


"Baiklah, terima kasih, suamiku." Viana menghambur memeluk Sean.


"Batalkan acara di sirkuit, ya."


"Tidak, kami akan tetap balapan." Viana melepas pelukannya dan mengangkat samsak ke dalam ruang olahraganya.


Namun sebelum ia pergi, ia sempat berbalik dan berkata, "Kau kira aku bisa tertipu? Jelas sekali kau membelikan ini untuk alibi. Lihat kwitansi pembayaran mu. Kau membelinya beberapa jam yang lalu." Viana melepaskan kwitansi dari kotak, lalu menyerahkannya pada Sean. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi. Tapi ketika aku mendengar ada yang aneh, aku tidak akan segan-segan melakukan pertandingan gulat denganmu."


Viana tersenyum, lalu pergi. Meninggalkan Sean yang kini kembali tegang. Viana memang tidak bisa dibodohi sejak dulu. Sean meremas kertas kwitansi dengan kesal. "Pegawai bodoh itu kenapa malah menuliskan jam pembeliannya juga. Ahhhh, kenapa aku tidak teliti dan membuangnya saja tadi!" Mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia pun masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya. Habis sudah, jika Viana sampai tahu rencana ini, pasti ia akan semakin marah. Sebisa mungkin Sean akan bermain cantik. Karena ia yakin, ketika rencananya berhasil, maka Viana tidak akan marah dan bersedih saat melihat hasilnya.