
Malam harinya.
"Papa! Papaaaa!" Viana memanggil-manggil suaminya yang entah dimana keberadaannya.
Namun saat melewati ruang keluarga, ia melihat sesosok Sultan sedang rebahan di atas sofa dengan baju khas tidur sembari memeluk bantal sofa.
"Sayang, kenapa di sini?" tanya Viana dengan tatapan heran.
"Aku akan tidur di sini malam ini," sahut Sean sambil menoleh ke Viana yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kenapa tidur di sini? Kau punya fasilitas rumah yang bernama ranjang empuk dengan istri cantik di sebelah mu."
"Aku masih marah padamu."
"Marah? Kenapa kau harus marah padaku?" Viana mengernyitkan dahinya.
"Ini kali keduanya kau membuat aku kebingungan dan merasa was-was setiap hari. Berbagai firasat mengikatku dalam belenggu kekhawatiran."
"Sean, maafkan aku. Aku akui bahwa yang aku lakukan salah. Aku hanya takut dia melakukan hal buruk padamu."
"Kau berpikir seolah kau adalah umpan yang akan menjadi sasaran kejatahan semua musuhku. Kau kira kau siapa? Kau kira aku dan anak-anak tidak membutuhkan dirimu? Kau kira kami bisa hidup tanpamu?" Sean menghela nafas panjang.
"Iya, aku tahu aku salah, maafkan aku telah merepotkan dirimu." Viana duduk di atas sofa tepat di samping Sean. Menaikkan kedua kakinya, serta menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak percaya bahwa kau tidak akan melakukannya lagi."
"Sean! Kenapa kau begitu manis malam ini." Menatap Sean dengan tatapan menggoda. Ia sangat hafal hal yang membuat mood Sean kembali bagus.
"Jangan menggoda ku. Aku tidak akan tergoda."
Viana pun bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan Sean yang kini beraut wajah kesal.
"Kenapa semua wanita egois sekali? Padahal aku hanya ingin dia membujukku, namun malah aku yang ditinggalkan dengan perasaan kecewa, aaarrrggghhh!" Sean menggaruk belakang kepalanya lalu bergegas ke kamar menemui Viana. Jual mahal pun percuma, Viana bukan tipe wanita melow yang akan terus memikirkan sikapnya.
Sean mencoba membuka pintu kamar, namun pintunya terkunci.
"Vi! Buka pintunya!" Sean mengetuk kamarnya sendiri dengan kesal.
Tak berapa lama, pintu pun terbuka. Viana tampak heran dengan kedatangan Sean.
"Berubah pikiran?" tanya Viana.
"Ti,,,tidak! Aku hanya ingin mengambil selimut ku." Sean nyelonong masuk ke dalam kamar. Ia mencari selimut di dalam lemari. Ternyata saat di depan Viana, rasa gengsinya kambuh lagi.
"Oh ya? Seingat ku, di bawah ada selimut. Kau juga bisa menyuruh kepala pelayan untuk mencarinya untukmu." Viana masih berdiri di tempatnya. Menatap Sean yang kesusahan mencari selimut yang ia sendiri tak tahu ada di mana.
"Berisik!"
"Sean, selimut tidak ada di dalam lemari. Adanya di dalam ruang ganti," ujar Viana sembari menunjuk ruang ganti.
Sean pun pergi ke ruang ganti dan mencari selimut. Begitu ia menemukannya, ia langsung berbalik dan bergegas keluar. Namun, Viana malah berdiri di ambang pintu dengan hanya memakai selimut. Membuat darah Sean berdesir, tak mampu bernafas dengan normal.
"Viana! Kenapa kau melakukan semua ini?"
"Kenapa? Aku istrimu, dan aku tahu inilah yang kau inginkan. Apa sekarang kau tetap ingin tidur di luar?" Menatap Sean dengan manja.
"Yang benar saja, tentu saja tidak. Baiklah, kau menang." Dengan perasaan tak menentu, Sean langsung menggendong Viana ke atas ranjang dan memulai pergumulan panas malam itu.
Sengaja tidak author jabarkan detailnya agar pikiran para reader tidak Travelling.
Bersambung................