Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Selamat Ulang Tahun


Pagi pun sebelum. Viana baru saja bangun dari tidurnya saat suara adzan subuh berkumandang. Cepat-cepat ia mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat subuh. Setelah itu, Viana membersihkan rumah seperti menyapu lantai, mencuci piring dan pakaian, menyapu halaman, dan tidak lupa sedikit mencangkul rerumputan yang masih terlihat.


Selesai dengan semua itu, Viana pun menyelesaikan mandi karena acara ulang tahun akan diadakan jam delapan pagi.


Selesai mandi dan bersiap-siap, Viana melihat banyak sekali anak-anak yatim dan kaum duafa berdatangan. Itu bisa mengobati sedikit rasa sedihnya karena ketidakhadiran Sean dan kedua anak mereka.


"Vi, sepertinya sudah bisa dimulai," ujar Hendra saat melihat para tamunya sudah banyak.


Viana pun mengangguk. Dengan segera, ia pun membuka acara dengan kata sambutan dan harapannya.


"Assalamualaikum wr wb. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir di acara ulang tahun saya ini. Saya berharap kita semua selalu dalam lindungan Allah, diberi kesehatan dan keselamatan."Semua mengaminkan.


"Dan teruntuk orang yang teristimewa di hidup saya, yaitu ayah saya."Memandang Hendra."Dan untuk,,,,,,," Viana terhenti ucapannya saat menyadari bahwa orang yang akan ia sebutkan tidak ada, yaitu Sean


"Baiklah, mari kita mulai acara peniupan lilinya," sambung Hendra. Ia pun menoleh ke arah dapur karena si pembawa kue datang dari dapur. Sedangkan Viana masih memandangi para tamunya yang kebanyakan adalah anak-anak.


"Ini, Vi, ayo tiup." Hendra mengarahkan kue dengan lilin diatas kuenya ke depan wajah Viana agar segera meluncurkannya.


Viana akan meniup lilin, namun, ia terkejut saat melihat tangan yang memegang kue bukan tangan ayahnya. Itu seperti tangan seseorang yang selalu memanjakan dirinya. Dengan perlahan Viana menoleh ke samping dan melihat ternyata yang memegang kue adalah Sean.


"Sean." Mata Viana berkaca-kaca saat melihat Sean ada di sampingnya saat ini.


"Mama!" teriak dua anak kecil yang muncul dari belakang Sean.


"Sevina, Reyza." Viana tak mampu membendung air matanya lebih lama lagi. Ia pun menangis saat itu juga.


"Kau selalu merusak suasana haruku." Viana menyeka air matanya, kemudian meniup lilinnya.


"Kenapa tidak membuat permintaan?" tanya Sean.


"Karena apa yang aku inginkan sudah terkabul." Menatap Sean lalu beralih ke Sevina dan Reyza sembari tersenyum. "Melihat orang-orang yang aku sayangi ada di sini."


Sean menaruh kuenya, menarik Viana tempat yang disediakan Hendra untuk berfoto, lalu memberikan sebuah berlian yang sudah terukir inisial V. Viana kembali menangis saat melihat Sean memakai cincin di jarinya.


"Ini indah sekali."


"Selamat ulang tahun, Sayang. Kau adalah mustahil, nafasku, sampai kapanpun aku akan selalu ada untukmu." Sean juga menyerahkan bunga yang ia taruh di dekat dekorasi itu kepada Viana. "Aku cinta kamu."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Viana pun langsung memeluk Sean dengan sebuah senyum kebahagiaan.



Semua yang langsung melihat bertepuk tangan melihat keromantisan keduanya.


*****


Acara telah selesai. Sean dan Viana sedang duduk berdua di ruang tamu rumah Hendra. Sedangkan kedua anaknya dibawa jalan-jalan oleh kakek mereka dengan menggunakan delman yang terdapat di daerah itu. Agar aman, Hendra mengajak dua pengawal Sean untuk ikut naik ke delman tersebut.