Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Jalan-jalan


Keesokan harinya, Sean dan Viana berjalan-jalan berdua ke sebuah gedung tinggi untuk makan siang di atasnya.


Hendra mengajak anak-anak ke pantai, sedangkan Viana dan Sean akan menyusul nanti.


"Sean, aku mau naik itu, pegang tanganku, ya!" seru Viana sambil menunjuk bibir gedung yang lebih tinggi.


"Apa? Kau sudah gila, ya?" Sean menatap Viana dengan heran.


"Tidak, itu tidak berbahaya. Di bawahnya ada jaring yang akan menampung jika kita jatuh. Ayolah, aku ingin sekali naik itu. Aku janji ini permintaan terakhir ku." Viana menangkupkan kedua tangannya, memohon kepada Sean.


"Kau ini aneh-aneh saja permintaannya? Atau jangan-jangan kau hamil?" Sean menatap penuh selidik.


"Apa? Tidak, aku tidak hamil. Kenapa kau selalu menghubung-hubungkan permintaan ku dengan kehamilan?"


"Entahlah, mungkin karena tingkah mu sangat aneh." Sean masih menatap heran.


"Aneh bagaimana? Aku hanya ingin naik itu!" Viana kembali menunjuk.


"Kau aneh, kemarin saat akan pergi ke rumah Ayah, kau berkata seolah kau ingin pergi jauh. Dan sekarang, kau berkata bahwa ini permintaan terakhir, jangan menakut-nakuti! Aku bisa mati tanpamu!" Sean menatapnya dengan serius.


"Iya, aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi."


"Ya sudah, ayo!" Sean dan Viana berjalan menuju bibir atap gedung. Viana pun naik ke atasnya, sedangkan Sean memegangi tangannya dari bawah.


"Bagaimana? Kau senang?" tanya Sean.


"Aku merasa seperti terbang." Viana tersenyum senang, begitu juga dengan Sean.



"Kau tidak pernah takut," ujar Sean.


"Kenapa aku harus takut? Aku sangat suka ketinggian. Sesekali, ayo kita olahraga terjun payung, pasti sangat mengasyikkan," ujar Viana.


"Lupakanlah! Aku lebih suka hidup tenang daripada mencoba bunuh diri."


"Kau terlalu pesimis."


"Berhenti menghinaku dan perhatikan langkah mu!" Sean mengingatkan.


"Bagaimana kalau aku jinjit kan kedua kakiku seperti ini?" Menunjukkan salah satu kakinya yang sudah dalam posisi berjinjit.



"Lakukanlah!" Sean tersenyum, lalu kemudian senyuman hilang. "Maka aku akan pergi."


"Iya, iya!" Viana pun melompat tepat di hadapan Sean.


"Sudah selesai?" tanya Sean.


"Sudah, aku tidak ingin mendengar omelan mu lagi. Aku kira berjalan di sini bisa memicu adrenalin ku, ternyata hanya membuat telingaku penuh dengan omelan mu," gerutu Viana.


"Kau yang berjalan di sana, aku yang takut."


"Ya sudah, bagaimana kalau berfoto? Kau tidak akan takut, 'kan?" goda Viana.


"Apa?"


Viana hanya tertawa melihat ekspresi Sean. Ia pun mengambil ponselnya dan mengajak Sean berfoto.


"Ayo!"


Sean menghela nafas panjang. Ia pun berusaha tersenyum demi mendapatkan foto yang bagus.



"Yang benar saja, ini bukan tersenyum." Viana menatap layar ponselnya, melihat hasil foto tadi.


"Bagiku itu sudah tersenyum. Ayolah, kita harus makan atau cacing di perut ku akan berdemo."


"Iya, ayo. Aku juga sudah lapar." Viana menarik tangan Sean menuju meja makan yang tersedia tepat di tengah-tengah atap gedung. Ada sebuah tenda payung yang tinggi dan nyaman yang membuat mereka tetap sejuk saat makan.


Selesai makan, mereka pun pergi ke pantai, menemui anak-anaknya dan juga Hendra. Terlihat Hendra sedang menemani Reyza membuat istana pasir, sedangkan Sevina sedang berenang dengan dijaga oleh dua pengawal yang juga harus ikut berenang, agar bisa selalu berada di dekatnya.


Sean ikut bergabung dengan Reyza, dan tentu saja Viana ikut berenang dengan Sevina.