
Hai gaes, numpang Promo dulu ya, nanti siang updateya ðŸ¤
Ini adalah kisah Alezha, anak pertama Reyza dan Alea sudah tamat di aplikasi hijau.
Yuk kepoin novelnya. Babnya nggak panjang kok, cuma 33 bab. Yang 10 gratis, yang 23 terkunci. Tapi isi babnya dijamin panjang lho 😊
Judulnya : Rahasia Pengantin.
Berikut ini beberapa bab Di novel tersebut.
Prolog
Alezha Armadja, seorang gadis cantik, anak dari pasangan Reyza Armadja dan Alea Prasetya. Berumur dua puluh lima tahun. Memiliki watak yang periang, ramah, supel, namun selalu menyembunyikan masalah ataupun kesedihannya.
Diumur yang sudah matang, Alezha tak kunjung mau menikah karena sesuatu di masa lalunya yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun, membuatnya enggan mengenal pria.
Tak ada pilihan lain, ayah dan ibunya memilih menjodohkannya dengan seorang pria yang bernama Kaysan Anderson, seorang CEO Anderson Group.
Karena tidak ada cinta diantara mereka, maka kesepakatan di atas kertas pun terjadi. Menjalani biduk rumah tangga yang seperti itu membuat Alezha merasa tertekan namun ia tidak bisa mengungkapkannya.
Hanya tawa dan senyum yang selalu menghiasi harinya. Hingga saat ia tak kuat menahan semua beban, ia memilih mundur dari sandiwara itu dengan tetap tersenyum dibalik rasa sakitnya.
Pengenalan pemeran.
Reyza Armadja : Papa Alezha
Alea Prasetya : Mama Alezha
Alezha Armadja : Anak pertama (25 tahun)
Rayden Armadja : Adik kembar Alezha (25 tahun)
Erlangga Armadja : Anak terakhir (20 tahun)
Bab 1. Dijodohkan
"Bagaimana, Sayang? Kau mau 'kan dijodohkan dengan Tuan Kaysan?" tanya Alea, yang merupakan ibu Alezha.
Alezha masih terdiam. Ia masih mencerna apa yang terjadi. Baru saja ia hendak pergi tidur, tiba-tiba saja kedua orang tuanya memanggil dan membicarakan pernikahan.
"Kenapa aku dijodohkan, Ma?" tanya Alezha yang masih memasang wajah tenangnya. Tidak ada raut kesedihan di wajah cantiknya itu.
"Umurmu sudah dua puluh lima tahun, Nak. Kau harus menikah," sahut Reyza, ayah Alezha.
"Bagaimana, Nak? Kaysan adalah pria yang baik. Dia sangat ramah dan sopan seperti Papamu," ujar Alea.
Alezha menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Setelah itu, ia kembali mengangkat kepalanya. "Baiklah, Ma, Pa, aku setuju."
Ucapan Alezha pun mampu membuat Reyza dan Alea tersenyum puas.
"Terima kasih, Sayang. Papa dan Mama akan merencanakan makan malam bersama keluarganya." Alea menatap Alezha dengan senyuman di wajahnya. Tentu saja Alezha juga membalasnya dengan senyuman.
"Bolehkah aku kembali ke kamar?"
"Boleh, Sayang, istirahatlah," ujar Alea.
Alezha pun segera pergi ke kamarnya. Setelah mengunci kamar, ia pun langsung menangis. Sangat sulit memang, menahan rasa kecewa di depan orang lain terlebih orang tua sendiri.
"Tidak, aku tidak boleh menangis! Tidak ada yang boleh melihatku menangis seperti ini." Alezha segera menghapus air matanya. Menatap cermin, lalu tersenyum.
Sangat aneh bukan? Disaat orang lain bersedih karena akan menikah dengan orang yang tak dikenal, ia justru tersenyum meski hatinya tidak menerima.
"Alezha!" Terdengar panggilan dari luar kamarnya. Ia pun membukakan pintu kamarnya.
"Rayden, ada apa?" tanya Alezha yang heran melihat ekspresi wajah Rayden yang terlihat sangat kesal.
"Ada apa kau bilang? Kenapa kau langsung menyetujui perjodohan ini? Apa kau sudah gila?" Rayden menatap Alezha dengan penuh amarah.
Alezha terdiam. Rayden bukanlah orang yang mudah marah. Jika ia marah seperti ini, artinya ia sangat kecewa. "Maafkan aku." Hanya Kalimat itu yang keluar dari bibir Alezha.
"Maaf? Apa kau kira dengan maaf bisa memperbaiki semuanya?"
"Lalu aku harus apa? Aku tidak ingin mengecewakan mama dan papa." Alezha hanya tersenyum getir.
"Maafkan aku, hanya saja,,,,kau berbeda sekarang. Aku rindu Alezha yang dulu. Mana Alezha yang selalu menjitak kepalaku saat kesal, mana Alezha yang selalu berteriak saat memanggilku. Dan mana Alezha yang ramah dan ceria? Kakakku bukanlah Alezha yang ini, penurut dan selalu tersenyum. Bahkan saat aku menghilangkan benda kesayanganmu pun, kau tetap tersenyum. Apa-apaan kau ini."
"Aku hanya ingin membahagiakan mama dan Papa, itu saja," Alezha menghela nafas pelan.
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin istirahat." Alezha menunjuk pintu kamarnya sebagai israrat Rayden harus pergi.
"Baiklah aku akan pergi. Dan perlu kau tahu, Alezha tidak pernah mengusirku dengan cara halus seperti ini. Dia akan mendorongku atau bahkan menarik paksa tanganku atau rambutku hingga ke sana." Menunjuk luar pintu.
"Kalau begitu, kau harus mulai terbiasa dengan ini."
Rayden menatap Alezha tidak percaya. Ia pun melangkah keluar meninggalkan kamar itu.
Sepeninggal Rayden, Alezha menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan agar ia tidak menangis.
Rayden menuruni anak tangga dengan setengah berlari menuju kedua orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga.
"Ma, Pa, kita harus bicara." Rayden duduk di depan kedua orang tuanya sambil menatap serius.
"Ada apa, Sayang?" tanya Alea yang keheranan melihat putranya yang biasa kalem menjadi berisik seperti ini.
"Kenapa mama dan papa menjodohkan Alea pada orang yang tidak dia cintai?" Rayden mulai membuka pembicaraan.
"Kami hanya ingin yang terbaik untuk Alezha," sahut Alea.
"Tetapi tidak harus menjodohkannya juga 'kan?"
"Sejak kapan kau peduli pada percintaan orang lain, Rayden. Coba kau lihat dirimu yang masih sendiri sampai sekarang." Reyza menatap Rayden dengan serius.
"Bukan begitu, Pa. Hanya saja,,,,,," Rayden kesulitan menyampaikan isi di pikirannya kepada orang tuanya.
"Hanya saja apa? Alezha sendiri setuju dengan perjodohan ini. Tidakkah kau senang melihat perubahannya sekarang? Ia menjadi lebih penurut dan selalu sabar selama dua tahun ini. Mama tidak pernah melihatnya memukul atau menjambak rambutmu lagi. Harusnya kau senang dengan perubahan yang terjadi pada kakakmu." Alea menjelaskan.
Rayden kehabisan kata-kata lagi. "Baiklah, Ma, Pa, aku ke kamar dulu." Rayden meninggalkan kedua orangtuanya yang masih heran melihat sikapnya.
"Mereka kan kembar. Wajar saja jika perasaannya ikut terluka dengan keputusan kita. Aku yakin Alezha tidak sepenuhnya menerima perjodohan ini." Alea berpendapat.
*****
Rayden masih merenung di kamarnya. Ia masih memikirkan tentang sikap Alezha yang berubah setelah hari itu. Tepat dua tahun yang lalu. Ia masih ingat saat Alezha baru saja pulang dari acara reuni SMA. Setibanya di rumah, Alezha langsung meminta izin pergi ke Amerika untuk liburan sekaligus menjenguk keluarga papanya yang tinggal di sana.
Dan sepulang dari liburan, Alezha tampak sangat berbeda. Jarang marah dan lebih banyak diam. Entah apa yang terjadi, namun Alezha tak mau memberitahu dirinya.
Bab 2. Pertemuan
Beberapa hari kemudian, Alezha dan kedua orang tuanya pergi ke sebuah restoran. Mereka akan bertemu dengan calon suami Alezha, yaitu Kaysan Anderson dan juga orang tuanya. Rayden dan Erlangga tidak ikut karena ini khusus pertemuan untuk kedua calon suami istri itu.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera turun dari mobil. Alezha menatap restoran yang sangat sepi. Ia yakin bahwa keluarga Anderson sudah mereservasi tempat itu demi makan malam ini.
Perlahan, mereka melangkahkan kaki menuju dalam restoran. Mereka di sambut oleh pelayan dan menajer restoran bak tamu agung.
"Silakan masuk, Tuan, Nyonya, Nona," ucap sang manajer sambil menunduk memberi hormat.
Mereka pun dibimbing menuju sebuah ruangan yang berisi sebuah meja dengan enam kursi. Sepertinya ruangan itu hanya di khususkan untuk tamu penting mereka.
Terlihat tiga orang sedang berdiri menyambut mereka. Dua orang yang sudah tua tersenyum ramah. Sedangkan anak mereka hanya menyunggihkan sedikit senyuman seakan tidak peduli.
Alezha dapat melihat bahwa pria yang bernama Kaysan itu juga mengalami keterpaksaan. Memang wajahnya sangat tampan, apalagi dibalut dengan setelan jas yang rapi dan tubuh tinggi nan kekar. Namun tetap saja, Kaysan adalah orang asing yang baru pertama kali Alezha temui.
"Silakan duduk, Tuan Reyza, Nyonya Alea, dan Alezha," ucap ibu Kaysan yang bernama Kayla.
"Terima kasih, Kay," sahut Alea.
Alezha merasa heran mendengar Alea memanggil dengan akrab begitu. Apa mungkin mereka adalah teman?
Reyza dan Alezha pun ikut duduk bersamaan dengan keluarga Anderson.
"Tidak menyangka ya, waktu begitu cepat berlalu. Anak-anak sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menikah." Kayla mulai membuka pembicaraan.
"Ya, dan kau masih sangat cantik seperti dulu. Benar 'kan, Pak Zaki?" tanya Alea pada suami Kayla, yaitu Zaki.
"Benar, tidak sangka rambut kita semua sudah putih sekarang, hahaha," sahut Zaki yang langsung mendapat anggukan dan tawaan dari mereka semua.
Sedangkan Alezha dan Kaysan hanya diam saja tanpa saling memandang.
"Alezha sangat cantik sekali seperti dirimu, Alea." Kayla menatap Alezha dan tersenyum.
"Terima kasih, Kayla. Kau selalu saja memuji." Alea membelai rambut Alezha. "Dia ini putri kebanggaan kami. Dia Armadja kami," sambungnya.
"Ya, aku sudah dengar prestasinya. Dia menamatkan S2 dengan cepat, ya." Kayla melirik Kaysan, ingin melihat bagaimana ekspresi Kaysan saat tahu calon istrinya adalah orang yang sangat pintar.
Benar saja, Kaysan langsung terbelalak menatap Alezha yang ternyata sangat pintar. Sedangkan dirinya saja butuh waktu lama menyelesaikan pendidikan itu. Sekarang isinya sudah dua puluh tujuh tahun dan setahun lalu baru meluluskan S2nya. Sedangkan Alezha yang katanya dua tahun lebih muda darinya sudah menamatkan pendidikannya begitu cepat? Benar-benar mengagumkan.
"Ya jelas saja, papa dan pamanya orang yang pintar, tentu anaknya juga pintar," sambung Zaki.
Mendengar semua pujian itu, Alezha tersenyum pada mereka meskipun itu adalah senyuman palsu. Sebenarnya ia tidak butuh pujian. Yang ia butuhkan adalah melewati makan malam ini dengan cepat.
"Langsung saja ke intinya agar anak-anak tidak canggung. Alezha, Kaysan, kalian akan kami jodohkan, bagaimana? Apa kalian setuju?" tanya Kayla pada dua muda mudi itu.
Kaysan tampak diam, namun seketika ia terkejut saat Alezha mengatakan setuju untuk dijodohkan. Ia menatap Alezha dengan tatapan tidak percaya.
"Aku setuju," sahut Alezha dengan senyuman di wajahnya.
'Bagaimana seseorang bisa menurut seperti itu?' batin Kaysan.
"Ya ampun, anakmu ini penurut sekali, ya. Beruntung sekali Kaysan memiliki calon istri penurut seperti ini," puji Kayla.
"Dia memang putri kebanggaan kami yang tidak akan pernah mengecewakan kami." Reyza menatap Alezha dengan tatapan penuh kebanggaan.
'Seandainya kalian tahu bahwa anak yang kalian banggakan ini hanyalah pembohong besar.' batin Alezha.
"Bagaimana denganmu, Kaysan?" tanya Zaki pada anaknya.
"Bolehkah aku berbicara dengan Alezha terlebih dahulu, Ma, Pa?" tanya Kaysan.
"Boleh, tetapi jangan lama-lama, ya. Kita akan segera makan," ujar Kayla.
Kaysan mengangguk. Ia dan Kayla pun pergi ke luar ruangan, menuju ke kursi pengunjung lain.
"Kenapa kau setuju saja dengan perjodohan ini?" Kaysan mulai membuka pembicaraan.
"Aku hanya ingin menjadi anak yang penurut. Karena apapaun yang menjadi keputusan orang tuaku, maka itulah yang terbaik," sahut Alezha dengan senyuman.
"Tetapi kita tidak mungkin menjalani biduk rumah tangga tanpa cinta."
"Jika kau punya kekasih yang kau cintai, kau bisa terus bersamanya." Alezha menatap Kaysan dengan serius.
"Tidak mungkin. Jika aku menikah, mana mungkin aku berpacaran dengannya."
'Ternyata benar, dia punya seorang kekasih.' batin Alezha.
"Nikahi dia setelah kita menikah dan bahagialah bersamanya."
"Apa?" Kaysan menatap Alezha seakan tak percaya.
"Jangan kau korbankan hatimu dengan perjodohan ini. Nikahi dia, aku akan menyetujuinya."
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"
"Aku sadar, dan aku ingin kau menikahi dia. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian. Aku akan menjaga rapat rahasia ini."
"Kenapa kau mengorbankan perasaanmu dengan perjodohan ini? Apa kau tidak punya kekasih?"Â
Mendengar kata kekasih, Alezha menjadi emosional. "Kekasih? Tidak, aku tidak punya." Meremas roknya yang tertutupi meja.
"Baiklah, kita akan bicarakan ini lagi nanti. Sebaiknya kita kembali," ujar Kaysan sambil menatap Alezha dengan tatapan heran.
Bisa-bisanya ada wanita seperti Alezha yang mau mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan masa lalu Alezha.
Bersambung.....