Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Jalan-Jalan #2


Keesokan paginya, Raya sudah bangun dari tidurnya. Dia melirik jam yang menunjukkan pukul 6 pagi. Dia meregangkan otot tubuhnya.


"Emmmhhh selamat pagi kakak Ipar." Kata Raya yang belum menyadari bahwa Viana tidak ada di sampingnya.


Raya mengucek matanya sambil sesekali menguap. Dia meoleh ke samping namun yang di lihatnya hanyalah sisi ranjang yang kosong.


"Kakak Ipar." Raya beranjak dan keluar kamar mencari keberadaan Viana. Langkahnya beralih ke dapur saat dia mencium aroma wangi masakan yang langsung membuatnya lapar.


"Kakak Ipar." Raya kaget saat mendapati Viana sedang memasak didapur.


"Raya sudah bangun? Mandi lah dulu, setelah itu kita sarapan bersama." Kata Viana.


Raya mengangguk dan kembali menuju kamar untuk mandi. Kini Raya mengerti jika Viana sudah bangun duluan sehingga dia tidak berada di kamar saat Raya bangun. Padahal kenyataannya Sean sudah menculikanya tadi malam.


Setelah membersihkan diri, Raya keluar dan pergi ke ruang makan. Dia atas meja makan, menu makanan lezat sudan tersusun rapi dan memenuhi meja makan itu.


"Ini semua kakak yang masak?." Tanya Raya.


Viana mengangguk sambil tersenyum.


"Wah, hebat sekali. Kak Sean sangat beruntung." Puji Raya.


"Kamu bisa saja, ya sudah duduk dulu sebentar lagi kakak kamu akan turun." Kata Viana.


Tak lama kemudian Sean turun dengan wajah berseri-seri. Bagaimana tidak? Pertempuran tadi malam sungguh memuaskan. Bahkan Viana terpaksa menambah cutinya karena kakinya masih gemetaran. Meskipun begitu, dia tetap memasak menu sarapan demi mengelabui Raya. Rasanya memang melelahkan, tapi bekerja di kantor akan jauh lebih melelahkan.


Mereka sarapan bersama. Suapan demi suapan sangat memanjakam lidah Raya.


"Emmm ini sangat enak kak." Ucap Raya sambil terus menyendokkan makanan ke mulut mungilnya.


"Pelan-pelan saja, kau bisa memakan semuanya jika kau kau." Kata Sean.


Raya mencebikkan bibirnya. Rasanya setiap kata-kata yang keluar dari mulut Sean sangatlah menyebalkan.


"Terima kasih Raya. Ayo makan lagi." Kata Vaian sembari tersenyum.


Raya kembali tersenyum dan mulai mengunyah kembali makanannya.


Sean heran melihatnya. Dia adalah kakak kandung Raya namun Raya malah bersikap manis pada Viana.


Selesai sarapan, Sean segera berangkat ke kantor setelah sebelumnya berpamitan kepada Viana.


1 Jam setelah Sean berangkat bekerja.


"Kak, ayo temani aku jalan-jalan ke mall." Ajak Raya.


"Sekarang?." Tanya Viana.


"Tidak, setelah makan siang saja." Kata Raya.


"Ya sudah kakak pamit dulu sama kak Sean ya." Ucap Viana sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Sipp" Ucap Raya yang masuk ke kamarnya.


Viana sudah sampai di kamarnya. Dia mengambil Hpnya dan mengetikkan pesan lalu mengirimkannya kepada Sean.


"Sean, Raya mengajakku ke mall nanti siang. Bolehkah?."


Tak lama kemudian, ada balasan dari Sean.


Isinya sangat tidak mengenakkan hati.


"Bawalah pengawal. Jika aku mendengar kau melirik pria lain, aku akan mengurungmu di kandang macan dengan 10 ekor macan di dalamnya."


"Apakah begini caramu menyayangi istrimu? Kenapa selalu ada ancaman di setiap kata-katanya? Apa benar aku istrinya?" Viana menggelengkan kepalanya.


.


.


.


Setelah makan siang, Viana dan Raya pergi ke mall dengan di kawal oleh 2 orang pengawal (Daniel dan Harry) dengan mobil berbeda.


Viana telihat cantik dengan balutan dress dan make up tipis.




Mereka segera melajukan mobil menuju mall.


Sesampainya di mall, Raya dan Viana masuk dengan diikuti Daniel dan Harry. Raya mengajak Viana berbelanja baju, tas, sepatu dan aksesoris lainnya. Raya memilihkan beberapa pakaian yang sangat seksi. Awalnya Viana menolak namun setelah bujukan Raya, Viana mengalah dan menerimanya.


Puas berbelanja, mereka memutuskan untuk ngopi sejenak sambil mengobrol ringan.


"Kak, kenapa kakak suka sama kak Sean?." Tanya Raya.


Viana tersenyum.


"Karena apa ya? Mungkin karena Sean sangat baik dan tampan." Viana merasa geli dengan kata-katanya sendiri.


"Hahaha kak Sean memang tampan, tapi kalau baik..." Raya tampak ragu.


"Dia sangat baik padaku." Jelas Viana.


Raya tersenyum mendengarnya. Dia turut senang jika kakaknya memperlakukan istrinya dengan baik.


Saat sedang bercanda ria, tiba-tiba seorang wanita datang dari arah belakang Raya. Kini dia berdiri di belakang Raya. Bahkan dia tidak tau jika Viana sedang bersama Raya.


"Hai Vi." Sapa wanita itu.


"Lisa?" Viana berdiri dan terlihat terkejut dengan kedatangan Lisa yang merupakan teman kuliahnya yang sering membully nya saat dibangku SMA karena dia miskin."


"Aku dengar kamu sudah menikah dengan pria kaya raya ya? Selamat ya sekarang kamu tidak miskin lagi." Ucap Lisa dengan tatapan sombong.


"Lisa jika kamu hanya ingin membully aku lagi, sebaiknya kamu pergi." Usir Viana.


"Berani sekali kamu mengusirku." Lisa melipat tangannya didada. Dia melangkah mendekati Viana tanpa melihat ke arah Raya yang masih duduk diam sambil menyaksikan mereka.


"Maaf Lisa, sepertinya kamu tidak berubah." Kata Viana.


"Berubah? Tentu saja aku berubah. Aku bertambah cantik dan sukses. Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan tanpa meminta kepada siapapun. Tidak seperti kamu yang menikahi pria kaya agar tidak hidup susah lagi. Dasar wanita matre yang miskin." Ejek Lisa.


"Jaga bicaramu Lisa, pergilah." Usir Viana lagi.


"Enak sekali kamu mengusirku. Siapa dirimu? Lihat lah, sekarang kamu sudah punya teman baru untuk di ajak berfoya-foya. Aku yakin kedua mertuamu tidak merestui. Dasar miskin." Lisa kembali menghina Viana.


"Cukup hentikan!!!" Raya berdiri di belakang Lisa yang masih bertatap tajam dengan Viana.


"Siapa kamu yang berani...." Lisa menggantung kata-katanya setelah tau siapa yang sedang berhadapan dengannya.


"Ra....Raya." Lisa terkejut karena yang sedari tadi Raya mendengar semua hinaannya terhadap Viana. Dia ingat betul pemberitaan tentang orang-orang yang bernasib malang karena berurusan dengan putri keluarga Armadja. Putri yang selama ini di jaga ketat bak Ratu melebihi Sean.


"Kenapa diam? Ayo lanjutkan." Tantang Raya.


Lisa terdiam. Dia tidak berani menatap Raya.


"Asal kau tau ya, kakak iparku ini adalah kesayangan keluarga kami. Kedua orang tuaku sangat menyayanginya. Apalagi kakakku? Dia sangat mencintainya. Karena apa? Kakak ipar punya hati yang baik. Dia tidak sombong sepertimu." Raya menunjuk wajah Lisa sambil terus menatap tajam.


Lisa menunduk diam. Dia tidak menyangka bahwa Viana begitu akrab dengan keluarga Armadja.


"Sekarang minta maaf pada kakak iparku atau ku buat kau jatuh miskin dalam semalam." Ancam Raya.


Lisa berbalik menghadap Viana.


"Maafkan aku Viana." Lisa menunduk. Seketika harga dirinya runtuh. Mau bagaimana lagi, dia lebih memilih kehilangan harga dirinya daripada kehilangan semua kekayaannya. Dia merasa sangat bodoh karena berpikir bahwa Viana di benci oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya yang miskin.


"Kakak, apa kakak memaafkannya?." Tanya Raya.


Ingin rasanya Viana bilang tidak. Namun itu sama saja menambah musuh.


"Ya, aku memaafkannya" Jawab Viana singkat.


"Pergilah."


Lisa langsung pergi sebelum Viana berubah pikiran. Raya dan Viana kembali duduk.


Viana tertegun sejenak. Rasanya tanpa sadar dia melupakan fakta bahwa dia dikelilingi orang-orang hebat seperti keluarga Armadja. Raya yang baik dan ceria pun biaa terlihat menakutkan saat sedang marah. Memang tidak bisa di pungkiri. Sebaik dan selembut apapun Raya, dia tetap keturunan Rangga Armadja.