
Viana dan Anggun baru sampai di rumah. Viana mengantarkan Anggun ke kamarnya untuk beristirahat karena Viana sudah menganggap Anggun seperti saudaranya sendiri.
"Anggun, kau istirahat saja ya. Aku akan menelpon wakilmu dan menjemput David." ucap Viana.
"Terima kasih Vi." ucap Anggun. Matanya masih basah karena sepanjang perjalanan dia terus menangis.
"Jangan menangis. Aku akan memastikan bahwa Niko mendapatkan hukuman yang berat." ucap Viana mencoba menghibur.
"Dia bahkan tidak membiarkan Mas Kevin melihat David lahir." ucap Anggun. Rasanya sungguh menyakitkan kehilangan suami yang bahkan belum sempat melihat putranya.
"Dia akan mendapatkan ganjaran. Kau tenang saja. Pembunuhan berencana ini hukumannya sangat berat. Kami akan membuatnya di penjara seumur hidup." ucap Viana dengan penuh keyakinan. Anggun pun mengangguk mengerti.
"Sekarang jangan bersedih lagi. Jangan sampai David mengetahui hal ini." ucap Viana mengingatkan.
"Iya kau benar. Terima kasih ya." ucap Anggun sambil menghapus air matanya.
Viana pun pamit dan pergi ke kantor. Sesampainya disana, dia menceritakan tentang informasi kecelakaan Kevin kepada Sean. Sean terlihat sangat murka. Dia ingin mendatangi lapas dan menghajar Niko namun Viana mencegahnya. Dia takut Sean akan mengamuk dan membuat kekecauan yang lebih parah lagi.
***
Sevina sedang bersama teman-temannya. Dia menceritakan tentang pengalamannya melawan orang jahat secara langsung. Teman-teman yang mendengarkan terlihat begitu antusias.
"Dasar tukang ghibah." Cibir David yang merasa terganggu dengan cerita Sevina. Karena beberapa anak menghampirinya dan menanyakan perihal cerita Sevina. Tapi David sangat malas menanggapi mereka.
"Terus saat kau melawan preman itu kemana David?" tanya Chika.
"Aku menguncinya di kamar agar tidak merepotkanku." jawab Viana.
"Wah kau berani sekali Sevina." puji Andi.
"Kita harus menjadi berani untuk menyelamatkan orang yang kita sayang." ucap Sevina.
David hanya diam saja. Dia terus fokus pada bukunya.
***
Viana sedang menunggu di luar gerbang sekolah. Dia duduk disalah satu bangku disana. Tiba-tiba ada yang mendatanginya. Dan ternyata dia adalah Lisa. Viana terkejut dengan kehadiran Lisa. "Lisa." ucapnya sambil menatap Lisa dengan serius.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Lisa meminta izin.
Viana mengangguk dan Lisa pun langsung duduk disampingnya. "Apa kabar?" tanya Lisa.
"Baik." jawab Viana.
"Aku sudah bercerai dengan Mas Hans." ucapnya.
Viana terkejut mendengarnya. "Aku turut prihatin." ucap Viana.
"Tidak masalah, ini bukan salahmu. Aku dan dia tidak berjodoh." ucap Lisa sambil menatap ke sembarang arah dan tersenyum.
"Apa Selly sekolah disini?" tanya Viana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dia diambil Papanya." ucap Lisa.
"Maafkan aku." ucap Viana yang merasa bersalah.
"Aku kesini bukan untuk melihatmu mendengarkan nasibku yang malang ini. Aku masih bisa menemuinya setiap akhir pekan. Aku kesini untuk menemuimu dan meminta maaf karena selama ini aku sudah bersikap tidak baik padamu." ucap Lisa dengan tatapan penuh penyesalan.
"Sudahlah Lisa. Aku sudah memaafkanmu." ucap Viana.
"Sampaikan maafku pada Anggun juga ya. Sepertinya waktuku tidak banyak untuk menemuinya juga." ucap Lisa.
"Kau mau kemana?" tanya Viana.
"Aku mau kembali ke kota asalku. Aku tidak bisa hidup disini tanpa pekerjaan dan penghasilan." ucap Lisa.
"Lalu Selly? Apa itu artinya kau tidak akan menemuinya lagi?"
"Jarak kami sangat jauh. Sepertinya aku akan sangat merindukannya." ucap Lisa lirih.
"Tidak Vi. Aku tidak mau merepotkanmu." ucap Lisa.
"Anggap saja ini sebagai tanda hubungan baru kita sebagai teman." ucap Viana.
"Kau sangat baik Vi. Aku menyesal pernah jahat padamu." ucap Lisa yang kini mulai menitihkan air matanya.
"Sudahlah Lisa. Aku juga seorang Ibu. Bagaimana mungkin aku menbiarkan seorang Ibu terpisah dari anaknya." ucap Viana.
"Terima kasih." Lisa memeluk Viana dan terus menangis. Dia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini dia jahati malah berbaik hati padanya saat sedang susah begini.
Viana menjelaskan pada Lisa tentang posisi dan pekerjaannya nanti. Kebetulan sedang ada penerimaan karyawan baru. Dan Lisa yang kebetulan satu jurusan dengannya cocok menjadi salah satu karyawannya.
"Apa suamimu tidak akan marah Vi?" tanya Lisa yang kembali merasa ragu.
"Suamiku akan mendengarkanku. Dia bukan Sean yang dulu. Dia pasti akan bersedia menolongmu." ucap Viana dengan penuh keyakinan.
Lisa menghembuskan nafas lega. Kini dia tidak khawatir tentang Sean lagi. Baik Viana maupun Sean adalah orang yang baik, tentulah mereka akan membantu.
Setelah Lisa pamit pulang, Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa terlihat berhamburan keluar. Sevina dan Reyza menghampirinya dan memeluknya. Tak lama kemudian David juga keluar.
"David, kau pulang dengan tante ya." ucap Viana.
"Mama kemana tante?" tanya David.
"Mama sedang istirahat dirumah." jawab Viana.
"Mama kenapa tante? Apa Mama sakit?" David terlihat begitu khawatir.
"Tidak, Mama hanya ingin istirahat saja di rumah." ucap Viana berusaha menenangkan David.
David menghela nafas lega. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan Mamanya.
Setelah itu Viana pun mengantar mereka pulang. Pertama menyinggahi rumah David dan melihat keadaan Anggun dulu. Setelah memastikan Anggun sudah baik-baik saja, mereka pun pulang ke rumah.
Setelah mengantar anak-anaknya, Viana pun kembali ke kantor.
Sesampainya dikantor, ternyata diruangan Sean sudah ada klien mereka yang bernama Nela. Umurnya tiga puluh tahun dan berwajah cantik. Saat melihat kedatangan Viana, dia berceletuk. "Saya salut dengan Nyonya Viana yang masih sempat mengantar jemput anak sekolah saat tengah bekerja." ucapnya.
Viana tersenyum mendengarnya. "Itu kewajiban saya sebagai seorang Ibu untuk memberi perhatian meskipun saya sibuk." ucap Viana.
"Namun Nyonya jadi tidak terlihat profesional ya." ucap Nela sambil tersenyum. Sean yang sedang fokus dengan berkasnya mengangkat wajahnya karena tidak senang dengan ucapan Nela yang menyudutkan istrinya.
Namun belum sempat Sean menjawab Viana sudah membuka suara. "Ya, itulah kekurangan saya. Namun saya lebih prihatin dengan Ibu yang menelantarkan anaknya dan lebih mementingkan pekerjaannya. Tidak diantar jemput, orang tua pulang malam, betapa egoisnya orang tua yang tidak punya waktu untuk anaknya." jawab Viana.
"Tetap saja tidak profesional." ucapnya
"Nyonya Nela. Ini berkas anda saya kembalikan." ucap Sean sambil menyerahkan berkas Nela yang harusnya dia tanda tangani.
"Loh kenapa di kembalikan Tuan?" tanya Nela heran.
"Saya ingin semua nama saya hurufnya besar semua. Jangan kecil seperti ini." ucap Sean.
"Tapi ini banyak Tuan. Dan Bos saya sudah menunggu. Dia mengandalkan saya karena pekerjaan saya sangat cepat." ucap Nela dengan raut wajah gelisah.
"Bukankah kau itu profesional. Masa begini saja jadi masalah untukmu. Bawa dan selesaikan dalam dua puluh menit karena saya akan pergi dalam tiga puluh menit." ucap Sean.
Nela langsung keluar dan berlari ke bawah. Dia bahkan berlari menuruni tangga karena Lift sangat penuh. "Rasakan. Enak saja mau mengatai istriku." ucapnya sambil tersenyum sinis.
"Kau jahil sekali sayang." ucap Viana sambil mendekati suaminya dan menarik hidungnya.
"Aku tidak akan begini kalau dia bisa menjaga mulutnya." ucap Sean.
Viana pun mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Lisa tadi. Sean mangut-mangut. "Tidak masalah jika dia tidak membuat kekacauan disini dan bekerja dengan baik." ucap Sean.
Viana tersenyum. Sean memang selalu menuruti semua keinginannya selama itu bukan hal yang aneh. Dan menolong orang bukanlah perbuatan yang aneh.