
Viana tengah menyiapkan sarapan pagi itu. Tak seperti biasanya, ia hanya memasang wajah datar.
"Kak, Mama kenapa?" bisik Reyza.
"Mungkin Mama sedang sakit," sahut Sevina yang juga berbisik.
Reyza pun turun dari kursinya lalu menghampiri Viana. "Mama." Ia menarik-narik tangan Viana.
Viana menoleh ke arah bawah, melihat Reyza menatapnya dengan sedih. "Ada apa, Sayang?"
"Ma, coba duduk," ujar Reyza.
Viana mengangguk lalu duduk di kursi. Dengan sedikit berjinjit, Reyza menempelkan punggung tangannya ke kening Viana untuk mengecek suhu tubuh wanita yang sangat ia sayangi itu. "Tidak panas, Mama masuk angin, ya?"
Viana tersenyum dan mengusap kepala Reyza. "Mama tidak sakit, Sayang."
"Terus kenapa Mama seperti orang sakit? Kenapa tidak tersenyum seperti biasa?"
"Mungkin karena Mama sedikit lelah."
"Mama jangan bekerja terlalu keras, nanti sakit. Jangan sakit, ya, Ma." Reyza memeluk Viana dengan manjanya.
"Mama berjanji setelah ini akan istirahat." Mengusap pipi Reyza. "Lanjutkan sarapanmu, Sayang," ujarnya.
Reyza mengangguk dan kembali ke kursinya lalu melanjutkan sarapannya. Tak berselang lama, Sean pun datang namun tidak ikut sarapan.
"Anak-anak, maaf, ya. Papa ada pertemuan penting pagi ini jadi tidak ikut sarapan bersama."
"Apa sebegitu pentingnya sampai tidak sempat sarapan?" tanya Viana dengan sedikit kesal. Padahal ia sudah memasak makanan kesukaan Sean demi mendapat persetujuan ulang tahun di rumah ayahnya.
"Maafkan Papa, memang rapat pagi ini sangat penting. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi atau mereka akan pulang ke negaranya, sudah dulu, ya." Sean mencium kening Viana dan juga anak-anaknya. Ia pun segera pergi ke kantor guna menghadiri rapat pentingnya.
*****
"Kalau aku ceritakan pada Mama pasti Sean akan semakin marah. Dan Papa belum tentu setuju, beliau juga sangat over protective pada Sevina dan Reyza. Dan juga, ini masalah pribadi, kenapa harus melibatkan mertua. Yang ada malah menambah beban pikiran mereka. Apalagi kalau sampai mereka berbeda pendapat, pasti yang ada mereka akan bertengkar seperti aku dan Sean." Viana kembali menyimpan ponselnya di dalam kantong dan kembali merenung.
"Memang sulit mengajak mereka merasakan hidup seperti ku meski sehari saja. Terkadang aku tidak menyadari bahwa mereka adalah darah Armadja yang pasti sangat dijaga." Menyandarkan tubuhnya dan menghela nafas panjang.
*****
Siang harinya, saatnya menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Sevina dan Reyza masih melihat wajah ibu mereka yang lesu.
"Mama tidak istirahat, ya?" tanya Reyza penuh selidik.
"Iya, Mama belum istirahat, maaf, ya." Viana mengusap kepala Reyza sambil tertawa kecil.
"Bagaimana aku bisa lupa untuk memasang wajah ceria di depan anak-anak? Aku tidak boleh membuat anak-anak merasa khawatir.' batin Viana.
"Mama bertengkar dengan papa?" bisik Sevina.
"Tidak, Sayang, kami baik-baik saja. Yang dikatakan adikmu benar, Mama hanya kurang istirahat."
"Mama jangan khawatir, kami akan selalu ada untuk Mama." Sevina memeluk tubuh Viana dengan erat.
Viana membalas pelukan itu sambil mengusap kepala putrinya. "Terima kasih, Sayang."
Reyza yang tak mau kalah juga ikut memeluk mamanya agar tak direbut kakaknya.
'Meski Mama galak dan suka membanting, tetapi Mama tetap Mamaku.' batin Reyza yang semakin mempererat pelukannya.