
Sebulan kemudian. Hari ini Sean kembali meeting dengan Stevi di sebuah hotel karena permintaan Ayah Stevi yang merupakan sang pemilik perusahaan.
Sean, Viana dan Lisa pergi ke hotel itu. Sesampainya disana, mereka disambut hangat oleh Ayah Stevi yang bernama Stefan disebuah kamar hotel berukuran sangat luas Mereka duduk di sofa yang terletak di sisi jendela sehingga mereka dapat menyaksikan pemandangan kota dengan jelas. Stefan sendiri baru saja pulang dari Amerika. Dia ingin sekali bertemu dengan Sean sehingga ikut dalam meeting tersebut.
Mereka pun memulai meetingnya. Setelah selesai, Viana meminta izin untuk menjempu anak-anaknya sekolah. Sekarang tinggallah Sean, Lisa, Stefan dan Stevi. Mereka masih sibuk membaca berkas-berkas itu.
Tiba-tiba dering Hp Stefan terdengar. Stefan langsung mengangkatnya. Dia terlihat serius mendengar orang diseberang telepon berbicara.
Setelah panggilan itu mati. "Im sorry i have to go." ucap Stefan.
(Maaf saya harus pergi)
"No problem Sir. Take care." ucap Sean.
(Tidak masalah Tuan. Jaga diri anda)
Stefan pun berlalu pergi. Kini tinggallah Sean, Lisa dan Stevi.
"Sean silahkan diminum dulu." ucap Stevi.
Sean yang sejak tadi tidak minum, langsung meminum minuman itu. Kemudian dia fokus pada lembaran kertas yang ada di depannya.
Namun tak berapa lama, dia merasakan hawa yang aneh pada dirinya. Dia begitu kepanasan dan bagian bawahnya menegang.
Apa? Siapa yang menaruh obat perangsang pada minumanku? Pasti wanita sialan ini. Batin Sean. Tadi Stevi lah yang memberikan minuman padanya.
Aku harus berusaha menahannya. Batin Sean. Dia berpura-pura biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.
Sepasang mata memperhatikan Sean sejak tadi. Kenapa dia tidak terangsang juga? Apa aku kurang banyak menaruhnya?
Berkas telah selesai dibaca dan di tanda tangani. "Ini, terima kasih. Semoga proyek baru kita berjalan dengan lancar." ucap Sean.
"Terima kasih Sean. Aku pergi dulu ya sampai jumpa lagi." ucap Stevi yang segera melagkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Lisa ayo kita pergi." ucap Sean seraya beranjak dari sofa dan hendak melangkah.
Lisa yang berjalan di sampingnya tanpa sengaja tersandung kaki meja. Dia jatuh ke arah Sean dan mereka terjatuh diatas tempat tidur di ruangan itu dengan posisi Sean berada dibawah tubuh Lisa.
Lisa menatap Sean lekat. Tampan sekali. Pria ini harus jadi milikku. Batinnya.
Sean mendorong tubuh Lisa agar menyingkir dan dia bisa berdiri. Namun, saat Sean sudah berdiri, Lisa malah menarik tangannya dan membuatnya jatuh menindih tubuh Lisa. Kini Lisa dapat merasakan bagian bawah Sean yang menegang. Lisa mengalungkan tangannya di leher Sean dan hendak mencium bibirnya namun Sean segera menghindar. Dia berusaha melepaskan diri namun tubuhnya gemetar karena hasrat yang saat ini tengah ditahannya.
"Lepaskan." ucap Sean dengan tatapan tajam.
"Sudahlah Sean, aku bisa memuaskanmu sekarang. Kau tidak perlu menahannya." ucap Lisa yang terus menarik tubuh Sean.
"Kau gila. Kau pasti yang sudah menaruh obat perangsang itu ke minumanku kan." ucap Sean.
"Tentu sayang. Agar hari ini kita bisa menikmati hari yang indah." ucap Lisa.
Sean segera berdiri dan Lisa duduk diatas ranjang itu. "Huuu Viana aku bersyukur kau datang. Dia...Dia hampir memperkosakuuuu." ucap Lisa sambil menutup wajahnya dan berpura-pura menangis.
"Tidak sayang bukan begitu. Dialah yang menarikku ke atas ranjang." ucap Sean.
Lisa berdiri. "Bohong!!! Selama ini dia selalu mencuri kesempatan saat kau pergi Vi. Aku temanmu. Mana mungkin aku menghianatimu." ucapnya.
Sean tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Lisa memutar balikkan fakta.
Viana masih diam saja. Dia menatap tajam ke arah Sean dan berjalan mendekat. Saat sudah berada di depan Sean, dia melayangkan sebuah tamparan.
Plakkkk. "Dasar tidak tau malu!!!" Bentak Viana.
"Viana kenapa kau menamparku?" Lisa memegangi pipinya yang memar karena tamparan Viana begitu kuat.
"Kenapa? Karena kau adalah penghianat dan pembohong besar." ucap Viana yang masih menatap tajam.
"Apa?" Lisa terlihat tidak percaya.
"Setelah kau meminta maaf pada hari itu apa kau kira aku akan percaya? Aku menyelidikimu. Dan Selly? Bukan Hans yang mengambilnya. Tetapi kau yang menyerahkannya pada Hans karena kau tidak mau repot mengurus anak. Kau bahkan mendapat uang dari Hans setiap bulannya. Dan kau masuk ke perusahaanku agar bisa mencari celah menggoda suamiku dan menghancurkan rumah tanggaku kan?" tutur Viana.
Lisa terkejut. Viana mengetahui semua rencananya.
"Aku tau suamiku seperti apa. Dia tidak mungkin menyukaimu. Dasar tidak tau malu. Untung saja aku sudah mewanti-wanti dan menaruh penyadap di tasmu." ucap Viana.
"Tas? Tas yang kau berikan ini?" tanya Lisa.
"Ya, itu tas limited edition. Yang hanya ada 20 di dunia. Aku tau kau pasti akan memakainya setiap hari karena ingin pamer. Karena itu aku memasang penyadap sebelum memberikannya padamu." tutur Viana.
Sean terkejut mendengarnya. Viana bahkan sampai membeli tas yang sangat mahal untuk mendapatkan bukti penghianatannya.
"Ya sudah kalau kau sudah tau. Aku akan keluar dari perusahaanmu. Ya setidaknya aku sudah mendapatkan tas langka ini." ucap Lisa dengan tatapan sinis.
"Kau sangat bodoh." ucap Viana.
"Apa?"
"Kau bahkan tidak bisa membedakan mana tas asli dan tas KW. Hanya karena aku yang memberikannya kau langsung percaya bahwa tas itu asli. Yang asli tentu saja ada di rumahku. Aku menyuruh orang membuat replikanya agar sama persis. Enak saja mau dapat yang asli. Aku saja sampai rebutan dengan tante Celin. Tapi akhirnya aku mendapatkannya karena tante Celin ternyata sudah dibelikan duluan oleh Om Dirga. Bahagia sekali ya keluarga kami." Viana tersenyum sambil menatap sinis ke arah Lisa.
Lisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Viana benar. Karena Viana yang memberikannya, Lisa menganggap itu asli karena Viana yang kaya dan baik hati. Namun ternyata itu hanya tipu muslihat. Sekarang sudah tidak dapat suaminya, tas ori pun tidak dapat.
Lisa menghentakkan kakinya dan pergi keluar dengan perasaan kesal. Di luar, dia mengambil barang-barang di dalam tasnya dan membuang tasnya ke tempat sampah.
Viana tersenyum puas. Sean berjalan dan mengunci pintu. "Sudah cukup basa basinya. Sekarang kau harus bertanggung jawab karena membiarkan aku meminum obat perangsang itu." ucap Sean yang berjalan mendekati Viana dan menariknya lalu mendorongnya ke ranjang.
Sean langsung menerkamnya saat itu juga. Karena pengaruh obat perangsang Sean melakukannya cukup lama. Seharusnya dia berterima kasih pada Lisa. Karena Lisa, dia bisa bercinta dengan istrinya sampai benar-benar merasa puas.