
⛅ Selamat membaca ⛅
Dian baru saja selesai menyusui baby twins. Mereka tampak terlelap setelah kenyang menyusu.
Setelah menyerahkan kedua bayinya pada perawat. Gerry duduk di samping ranjang Dian. Dian bersandar di dada bidang Gerry.
"Mas .."
"Hmm .. ada apa sayang?" tanya Gerry tangannya mengelus rambut Dian dengan perlahan.
"Kemarin mama Santika datang bersama dia. Dia sempat mengatakan jika dirinya belum sepenuhnya menceraikanku. Karena belum mengucapkan talak padaku." Kata Dian dengan suara bergetar, Gerry tau istrinya pasti sedang menahan tangis. tangan Gerry berpindah memeluk perut Dian yang masih sedikit bergelambir.
"Apa sejak kemarin kamu kepikiran soal ini?" tanya Gerry dan Dian mengangguk.
"Mereka juga meminta Zafrina untuk tinggal bersama mereka. Aku takut mas, aku takut mereka akan menguasai Zafrina dan tidak memperbolehkan kita untuk menemuinya." Bahu Dian mulai bergetar, Gerry dapat mendengar isakan lirih dari bibir Dian.
Jadi ini yang menganggu pikiran Dian. Jelas saja jika dia sampai seperti ini.
"Sayang, mas tau betul hukum pernikahan dibawah tangan. Rian sudah jelas menjatuhkan talak padamu saat dia menolak mengakui pernikahan kalian. Dan yang kedua selama 3 bulan berturut-turut jika dirinya tidak menafkahi mu baik lahir maupun batin maka jatuhlah talak. Aku tidak mungkin menikahimu jika statusmu masih istri Rian." Kata Gerry menenangkan Dian. Ia menopang dagunya diatas pundak Dian.
"Tapi dia bilang ..!"
"Ssshh .. kau tidak perlu berpikir yang macam-macam. Kau hanya cukup fokus pada kesembuhanmu dan anak-anak kita. Aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit lagi." Kata Gerry.
"Lalu bagaimana dengan Zafrina mas?"
Gerry mengambil ponselnya dan menghubungi Rian. Begitu tersambung, Gerry langsung berucap
"Bawa ibumu kemari. Ada yang harus aku bicarakan denganmu."
Setelah mengatakan itu Gerry kembali menutup ponselnya. Dian menoleh menatap suaminya dengan perasaan takut.
"Apa mas marah?" tanya Dian ragu.
Gerry mengusap pipi Dian lalu menciumnya.
"Mas tidak marah. Asalkan kamu harus selalu menceritakan apa yang kamu rasa. Jangan pernah memendamnya sendirian." Ujar Gerry.
"Aku janji mas."
Tak lama berselang nyonya Santika dan Rian sudah ada di ruangan Dian.
"Maaf mengganggu waktu anda nyonya." Kata Gerry menyambut kedua tamunya.
"Tidak apa-apa nak. Tante juga kebetulan ingin membahas sesuatu pada kamu." Kata nyonya Arini.
"Silahkan .. Katakan saja apa yang ingin anda sampaikan jangan sungkan!" Ucap Gerry. Tubuhnya yang tegap menyembunyikan Dian yang gemetaran. Gerry tau perasaan istrinya saat ini. Tapi Gerry harus bersikap tegas demi kesehatan Dian.
"Tante berharap bisa lebih sering menghabiskan waktu Tante dengan Zafrina. Bolehkah jika Zafrina lebih sering tinggal bersama Tante." Tanya nyonya Santika penuh harap.
"Maaf sebelumnya Tante. Saya akan mengijinkan Zafrina sering bertemu dengan anda, tapi bukan untuk tinggal bersama. Karena jujur saja. Saya tidak bisa menyerahkan putri saya yang berharga di tangan orang yang pernah menolak keberadaannya." Ucap Gerry lembut namun penuh ketegasan.
"Tapi nak Gerry .."
"Maaf tante, keputusan saya sudah bulat. Dua minggu sekali Zafrina akan menginap di rumah Tante dengan pengasuhnya. Namun jika Tante meminta lebih saya tidak bisa memenuhi permintaan tante." Kata Gerry.
"Kau hanya ayah sambungnya jangan seolah-olah kau memiliki hak atas putriku." Ujar Rian emosi. Sedang Dian semakin bergetar tubuhnya. Gerry mengusap tangan Dian yang melingkar di dadanya.
Gerry tersenyum miring mendengar ucapan Rian. "Aku memang ayah sambungnya. Tapi apa kau tahu aku memang memiliki hak sepenuhnya atas Zafrina. Bahkan di akta Zafrina tertulis namaku sebagai ayahnya. Dia Zafrina Ayunda Ardana. Bukan Zafrina Al Fares." Ujar Gerry telak membuat Rian bungkam.
"Maaf tante, saya tidak ingin merusak hubungan kekeluargaan yang telah terjalin. Jika tante mau, maka akan seperti yang saya bilang tadi. Tapi jika tidak maka saya tidak akan mengijinkan Zafrina bertemu kalian." Kata Gerry pada nyonya Santika. Dengan berat hati akhirnya nyonya Santika menyetujui persyaratan Gerry.
"Baiklah nak, Tante tidak keberatan asalkan masih bisa menemui Zafrina." Ujar nyonya Santika kemudian.
"Ma .." Seru Rian tidak terima.
"Sudahlah Rian, ini salah kamu juga. Lebih baik seperti ini daripada mama tidak bisa bertemu cucu mama." Ucap nyonya Santika geram.
Rian mendengus kesal. Sedangkan Gerry semakin erat mendekap tangan Dian.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya nyonya Santika, ia merasa aneh Dian terus menyembunyikan dirinya di belakang Gerry.
"A-aku baik-baik saja ma."
"Dia hanya sedang merindukanku nyonya. Karena kemarin seharian aku meninggalkan dirinya." Ujar Gerry memecah kecanggungan yang mulai tercipta.
Nyonya Santika tersenyum mendengar jawaban Gerry.
"Baiklah jika begitu. Aku tidak akan mengganggu waktu kalian." Kata nyonya Santika. Ia segera mengajak putranya untuk segera beranjak dari ruangan perawatan Dian.
.
.
.
"Sayang, boleh aku tau kenapa kamu bisa pingsan di kamar mandi?" tanya Gerry selepas kepergian nyonya Santika dan Rian. Dian mencoba mengingat kejadian di kamar mandi.
"Entahlah mas aku tidak ingat." Jawab Dian. Sebenarnya Dian takut mengatakan apa yang ada dalam ingatannya. Jika benar seperti yang ada didalam ingatannya. Bukankah itu hal yang mengerikan? Batin Dian.
"Apa kau yakin tidak mengingatnya?" tanya Gerry curiga.
"Aku tak tau mas. Apakah ini hanya halusinasi atau kenyataan. Seingatku aku sedang ada didalam bathtub tapi tiba-tiba aku merasakan pusing yang teramat sangat. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi mas." Ungkap Dian.
Gerry memeluk tubuh Dian. "Lain kali kau harus ditemani seseorang jika berada di kamar mandi. Kau hampir saja membuat jantung mas terlepas. Melihat banyak dokter yang berusaha menyelamatkanmu, saat mas masuk ke ruangan ini." Kata Gerry sembari mengecupi puncak kepala Dian.
"Maaf kalo aku sudah membuat mas cemas." Kata Dian.
"Jangan memendam semuanya sendiri. Kau memiliki aku dan semua keluarga kita."
Gerry tersenyum. Ia mengusap bibir Dian dan mengecupnya berulangkali. "Cepatlah pulih aku sudah tidak sabar ingin membuatkan adik untuk Zayn dan Zayana." Ujar Gerry sambil tersenyum. Dian hanya menatap tajam wajah gerry. Pria itu terkekeh melihat raut wajah Dian.
Gerry berharap Dian akan selalu sehat dan baik-baik saja, begitupun dengan anak-anak mereka. Kelimanya adalah sumber kebahagiaan Gerry.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Mendekati ending kuy. Semoga kalian masih semangat menyambut kisah baru Rian nanti.
Terimakasih untuk semua yang sudah berbaik hati mengikuti kisah ini dengan sabar menanti. Dengan segala apresiasi kalian dari hadiah, like vote dan juga komentar² kalian. Hanya ucapan terimakasih yang bisa othor katakan. Semoga nanti di pertengahan kisah Rian Othor Sudah bisa mengadakan GA (give away) agar kalian semakin semangat mendukung othor.