
🌼Selamat membaca🌼
Nino masuk terlebih dahulu ke ruang perawatan kakeknya. Tuan Hanafi masih diluar ruangan mengatur nafas, jantungnya berdebar kencang. Hampir 26 tahun dia bermusuhan dengan ayahnya. Dengan langkah bergetar tuan Hanafi masuk kedalam ruangan tempat sang ayah dirawat.
Keduanya saling menatap. Tubuh gagah sang ayah terlihat ringkih dan rapuh. Pria tua itu menatap putra yang telah lama pergi dengan mata yang berkaca kaca, begitupun tuan Hanafi. Dadanya serasa sesak melihat kondisi sang ayah. Tanpa komando tuan Hanafi menghambur memeluk tubuh sang ayah. Nino ikut menitikkan air mata melihat dua anggota keluarganya yang tersisa kini berkumpul bersatu kembali.
"Mana istrimu ..?" tanya tuan Kusuma dengan lemah.
"Dia ada diluar ayah .." Suara tuan Hanafi masih terdengar bergetar.
"Bawalah dia kemari!" Ujar tuan Kusuma, tuan Hanafi pun segera bergegas keluar mencari keberadaan sang istri.
"Sayang, kemarilah! Ayah ingin bertemu denganmu."
Nyonya Arimbi mengangguk, ia pun dengan langkah yakin menemui sang ayah mertua. Saat berada di dalam kamar rawat tuan Kusuma, nyonya Arimbi segera mendekat lalu meraih jemari tuan Kusuma dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Maafkan keegoisanku selama ini. Aku terlalu meninggikan harta yang kumiliki. Hingga aku melupakan harta yang sebenarnya yang Tuhan titipkan padaku." Ujar tuan Kusuma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah ..!" Arimbi sudah sesenggukan, penantian panjangnya untuk diakui oleh sang ayah mertua akhirnya kini telah usai.
"Nino, terimakasih kau sudah membawa keluarga kakek kembali." Ujar tuan Kusuma.
"Mereka juga keluargaku kakek."
Semua orang yang ada dalam ruangan itu tersenyum. Kini kebahagiaan tersirat di wajah mereka.
"Dimana putri kalian?" tanya tuan Kusuma, wajah tuan Hanafi dan nyonya Arimbi tampak sedih. Mereka menatap ke arah Nino.
"Kakek, jika kakek sembuh, aku akan membawa cucu kakek beserta bonusnya."
Ketiga orang itu tampak terkejut. Terlebih nyonya Arimbi dan tuan Hanafi. Namun kakek Kusuma langsung tersenyum mendengar perkataan Nino.
"A-apakah putriku sudah ..?" nyonya Arimbi tidak dapat meneruskan ucapannya. Usia putrinya bahkan baru menginjak 21 tahun.
Tuan Hanafi mengepalkan tangannya. Apa yang terjadi dengan putrinya, saat kecil putrinya memiliki cita cita menjadi seorang dokter. Dan dia tau Dian adalah anak yang pandai. Tapi mengapa sekarang diusianya yang masih muda dia harus memiliki anak, bagaimana bisa?
"Segeralah bawa cucu perempuanku itu Nino!!"
"Baiklah, asal kakek berjanji setelah ini kakek harus sembuh." Ujar Nino, dan tuan Kusuma mengangguk dengan semangat.
.
..
...
Sementara itu, pagi ini Dian sudah keluar rumah tanpa berpamitan pada Gerry.
Dian membawa kedua bayinya ke taman di dekat komplek perumahan Gerry. Semenjak tinggal di kediaman Gerry Dian memang terbilang jarang keluar dari rumah mewah itu. Sekarang Dian disini bergelut dengan lamunannya.
Dian akan berusaha membentengi hatinya agar tak semakin terperosok dalam rasa cinta. Saat dirinya masih termenung terdengar keributan di dekatnya, yang memaksa dirinya harus menoleh, alangkah terkejutnya Dian, ia berlari menghampiri kedua pengasuhnya.
"Ada apa ini bi?" tanya Dian cemas. Melihat dua pengasuhnya di hadang 3 orang pria berpakaian sangar.
"Ini non, mereka minta uang keamanan. Saya sudah kasih lima puluh ribu. Tapi mereka ga terima." Cerita bi Esih, memang keadaan taman masih sepi hanya ada Meraka dan beberapa pesepeda yang enggan mendekat.
Tatapan ketiga pria itu tampak nyalang menatap Dian penuh hasrat.
"Jadi kalian mau berapa bang?" tanya Dian dengan suara lembut, yang membuat ketiga pria itu semakin blingsatan menahan nafsunya.
Salah seorang dari mereka mendekat ke arah Dian, bi Esih dan bi Yuni semakin gemetaran.
Karena dua pemuda yang lain menahan stroller kedua bayi yang mereka asuh.
"Aku akan lepaskan kedua pengasuh dan anak anak itu, asalkan kau mau melayani kami." Seringai licik menghiasi wajah pria itu.
Saat situasi sedang memanas tiba tiba muncul sosok pria tinggi dengan wajah yang begitu tampan dengan manik mata biru menghampiri mereka. Dian terpaku menatap kedatangan pria itu. Dibelakang pria itu berdiri 4 orang bodyguard dengan tubuh tegap dan wajah datar.
"Beraninya kalian mengganggu kenyamanan pengunjung disini." Ujar Rian menatap dingin ke arah tiga pria itu.
Dian menatap Rian dengan tatapan sendu. Selalu pria ini yang hadir disaat dirinya sedang terancam bahaya.
Melihat penampilan Rian dan para bodyguard nya membuat nyali para preman itu ciut.
"Maafkan kami tuan, wanita ini yang menggoda kami duluan." Ujar kepala preman tanpa berpikir panjang. Rian menatap Dian yang menggelengkan kepala.
"Apa baru saja kau merendahkannya?" Ujar Rian dengan datar.
"Mereka berbohong tuan, bahkan mereka mengancam akan mencelakai den muda dan nona kecil." Ujar bi Yuni, merasa mendapat perlindungan dengan berani bi Yuni berucap lantang.
Mendengar ucapan pengasuh itu membuat mata Rian berkilat marah. Beraninya mereka akan melukai putrinya.
"Kalian bereskan mereka ..!" tegas Rian, sontak para preman itu berlutut di kaki Rian.
"Kamu pulanglah ..!" lanjut Rian menginterupsi Dian yang masih tertegun.
Dian mengangguk dan mengajak kedua pengasuhnya berlalu dari taman. Namun saat stroller Zafrina mendekati posisi Rian berdiri, gadis kecil itu menangis dengan kencang. Dian mencoba memberi Zafrina dengan botol susu namun gadis kecil itu malah menampik dan terus menangis. Rian menatap Zafrina sebentar, ia lalu mendekat dan mengusap kepala Zafrina dengan lembut. Ajaibnya bayi itu langsung terdiam. Bahkan berceloteh riang. Hati Rian terasa berdesir. segaris senyum tercetak di bibirnya.
Setelah Zafrina tenang Dian langsung pergi dari sana. Tanpa ia sadari sejak tadi interaksi antara dirinya dan Rian di lihat oleh sepasang mata yang menatap keduanya penuh amarah.
Ia langsung memiliki pikiran yang buruk terhadap Dian. Mungkinkah mereka janjian bertemu disini. Jika Dian mengijinkan pria itu menemui Zafrina maka ia pun tak akan masalah jika Selena bertemu Zafa.
Ya sepasang mata itu adalah Gerry. Sebenarnya dirinya merasa bersalah dan ingin mencari Dian untuk meminta maaf. Tapi dirinya harus melihat pemandangan yang sama sekali tak mengenakkan. Akhirnya dia kembali menjalankan mobilnya menuju perusahaan dengan perasaan tak menentu antara cemburu dan sakit hati merasa tak dihargai.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Maaf ya telat up. Jangan lupa like, vote dan hadiah untukku. Siapa tau dari situ karya ini bisa terbit. Atau seenggaknya bisa masuk nominasi. karena aku ikutan You are the writer seasson 5 dan karya ini sebagai peserta