
โ Selamat membaca โ
Lagi dan lagi Zafa kembali rewel. Kali ini Selena kebetulan datang untuk menemui Gerry. Pria itu tampak begitu berantakan. Dengan kantung mata yang terlihat menghitam. Genap 3 hari Dian pergi dari rumah. Dan yang membuat Gerry semakin frustasi melihat cara Selena mengurus Zafa. Sangat berbeda jauh dengan Dian, tidak ada lembutnya sama sekali.
"Jika kau tidak bisa menenangkan Zafa lebih baik pergilah. Lagipula siapa yang memberimu ijin kemari?." Ketus Gerry, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Selena memaksa menyodorkan botol ASI ke mulut Zafa padahal bayi itu terus meraung menolak botolnya.
"Tapi mas, Zafa butuh seseorang untuk mengurusnya. Selama istrimu belum ditemukan ijinkan aku merawat Zafa." Bujuk Selena. Namun Gerry bergeming, ia sama sekali tak menghiraukan ucapan Selena.
"Aku punya mama, Zafa juga sudah memiliki dua baby sitter. Dia tak memerlukan dirimu." Jawab Gerry berekspresi datar.
"Tapi mas, ijinkan aku mengurus Zafa untuk menebus waktuku dulu." Selena mulai memelas namun Gerry teguh pada pendiriannya. Ia tak ingin Selena menjadi penghancur rumah tangganya dengan Dian. Ia tak akan lagi membuat Dian ragu dengan perasaannya.
"Sebaiknya gunakan waktumu untuk mengobati penyakitmu. Itupun jika benar kau sakit. Tapi jika itu hanya akal - akalanmu saja, jangan sampai ucapanmu waktu itu menjadi bumerang untuk dirimu sendiri." Gerry segera merampas Zafa dari gendongan Selena dan menyerahkannya pada bi Esih. Lalu dengan kasar tangan Gerry menyeret Selena agar keluar dari kediamannya.
"Mas, beri aku kesempatan."
"Tidak, aku tidak akan memberi kesempatan padamu. Kau sendiri yang dulu memilih meninggalkan aku dan Zafa. Jadi sekarang nikmatilah kebebasanmu." Gerry langsung menghempaskan pintu rumahnya dengan keras. Hingga bunyinya begitu memekakkan telinga.
Selena tanpa tau malu mengetuk pintu rumah Gerry dengan keras.
"Mas, kamu ga bisa giniin aku. Mas, bagaimanapun Zafa anakku." Teriak Selena, Gerry yang geram kembali membuka pintu lalu mencengkeram dagu Selena yang lancip.
"Tutup mulutmu itu. Ya tidak dipungkiri kau memang ibu yang melahirkan Zafa. Namun semua itu sudah tidak ada artinya bagiku. Sejak kakimu melangkah menjauhi kami, sejak itu pula kau tidak memiliki hak apapun atas putraku." Tatapan mata Gerry benar benar membuat lutut Selena lemas. Bagaimana cinta sebesar dulu menghilang begitu saja. Kini hanya tatapan penuh kebencian yang Gerry tampilkan di hadapannya.
"Bu-kankah kemarin ka-mu bilang sendiri, jika kau memaafkanku dan memberiku kesempatan menemui Zafa?" ujar Selena terbata bata merasakan cengkeraman tangan Gerry begitu kuat membuat dagunya terasa nyeri.
"Bukankah kemarin kau sudah mendapatkan kesempatan itu? Jangan harap kesempatan itu datang berkali kali padamu."
"Aku akan rebut Zafa darimu mas, kau yang membuatku memilih jalan ini." Ujar Selena, hancur sudah harapannya membangun kembali mahligai pernikahannya dengan Gerry.
"Seujung kuku kau menyentuh putraku, jangan salahkan aku, jika aku bertindak lebih kasar dari ini." Gerry menghempas dagu Selena dengan kasar hingga kepalanya tertoleh ke samping.
.
..
...
Jika di kediaman Gerry terasa begitu panas, berbeda dengan situasi yang ada di mansion milik tuan Kusuma. Kehangatan keluarga itu mulai terbangun kembali. Dian sudah mengetahui kehamilannya saat kemarin dia memaksa memompa ASInya untuk di kirim ke kediaman Gerry. Namun nyonya Arimbi melarang Dian karena takut dengan kondisi kandungan Dian yang lemah. Meski dirinya sempat syok namun Dian tetap bertekad, dia akan tetap memberikan ASInya pada Zafa.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan dan mendatangkan ahli gizi untuk mengatur pola makan Dian. Hari ini dengan semangat Dian memompa ASInya di temani nyonya Arimbi.
"Kenapa kamu masih memikirkan putra suamimu?" tanya nyonya Arimbi lembut.
"Ibu, aku tidak bisa membiarkan Zafa begitu saja. Selama ini, sejak bayi itu lahir ke dunia ini Dian yang menyusui Zafa. Pernah mereka membeli Asi di bank ASI tapi Zafa hanya minum sedikit karna saat itu Zafa kondisinya tidak bagus." Kata Dian di sela kegiatannya.
"Tapi kau punya putri, tidak seharusnya kau berbagi Asimu dengan anak laki-laki. Kau tau resikonya dalam agama?"
"Dian tau Bu, tapi ibu tidak tau kan. Putraku itu adalah anak yang lahir cacat bawaan karena pengaruh alkohol, menurut ibu apakah Dian harus diam saja?"
"Maafkan ibu nak, ibu hanya khawatir dengan keadaanmu." Ujar nyonya Arimbi merasa bersalah.
Tuan Hanafi membayar kurir khusus. Untuk langsung membawa ASI Dian untuk di serahkan pada nyonya Arini.
"Tolong berhati-hatilah jangan sampai ada yang mencurigaimu." Dian menyerahkan box untuk menjaga suhu ASInya agar terjaga kualitasnya. Ia pun menyerahkan sebuah amplop untuk diserahkan pada nyonya Arini.
Kurir itupun segera berangkat ke kediaman Gerry. Beruntung pria itu sedang keluar jadi kurir tersebut langsung menyerahkan box dan surat itu pada Nyonya Arini.
Setelah kepergian kurir itu nyonya Arini tampak berkaca-kaca. Betapa hati menantunya begitu baik. Ia menyerahkan box itu pada bi Esih agar segera menyimpan ASI Dian kedalam kulkas khusus milik Zafa.
Nyonya Arini membuka amplop yang dititipkan Dian pada kurir ASI itu.
...*Teruntuk mama...
Maafkan Dian mah, Dian pergi tanpa pamit. Mama harus tau, jika Dian sangat menyayangi Zafa dan mama. Tapi jika keberadaan Dian sudah tidak berarti bagi mas Gerry, Dian bisa apa?
Mah, Dian akan tetap memberikan ASI Dian buat Zafa. Tapi jika mamah dan mas Gerry sudah mendapatkan pengganti Dian sebagai ibu susu Zafa, Dian juga tidak masalah. Asalkan Zafa tetap sehat dan baik baik saja itu sudah cukup bagi Dian.
Mama jangan sedih jika Dian tidak ada di dekat mama, tapi percayalah mah! Dimana pun Dian berada Dian tetap akan selalu merindukan kalian*.
Jatuh sudah air mata nyonya Arini. Jika saja putranya bisa melihat ketulusan menantunya semuanya tidak akan seperti ini, wanita paruh baya itu terisak.
Tok .. tok .. tok
Pintu kamar nyonya Arini diketuk, ia segera mengusap air matanya. Lalu mengusap wajahnya perlahan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya, Bi Esih tersenyum pada nyonya besarnya.
"Nyah, non Dian mengirim 8 pack ASI buat den Zafa." Lapor bi Esih pada nyonya Arini, wanita itu tersenyum lembut. Menantunya memang begitu baik.
"Bibi tolong rahasiakan semuanya dari Gerry, kalo Gerry tanya sama bibi, bilang saja bibi ga tau karena saya yang bawa." Ujar nyonya Arini.
Dia ingin melihat sejauh mana perasaan Gerry pada Dian. Dan sejauh mana usahanya untuk mencari keberadaan Dian.
.
..
...
Ruangan Rian terasa begitu membekukan karena kini Rian dan Gerry saling menatap dingin satu sama lain.
"Apa perlumu, hingga pria terhormat sepertimu menginjakkan kakinya di perusahaan milikku?" Sarkas Rian, pasalnya baru kali ini Gerry menginjakkan kaki ke perusahaannya.
"Dimana kau sembunyikan Dian?" tanya Gerry tanpa basa-basi.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
terimakasih yang sudah mau mampir. Hari ini othor lagi pelit up cuma satu aja. Bagi kalian yang penasaran tetap pantengin karya othor ini dan pencet ๐ agar kalian bisa dapet notifikasinya kalo othor up.
see you ๐