
********
"Kenapa menangis .." Lirih Dian, suaranya hampir tak terdengar, Gerry seketika mengangkat wajahnya saat jemari lemah Dian mengusap kepalanya.
Gerry menatap tak percaya, air matanya semakin deras mengalir. Dia menghujani Dian dengan ciuman di seluruh wajah Dian.
"Kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak." Desis Gerry, Dian tersenyum lemah seraya membelai wajah Gerry.
"Jika aku benar-benar tiada, kau tetap harus bertahan demi anak-anak kita." Gerry menggeleng mendengar ucapan Dian, dia tak kan sanggup jika kehilangan Dian saat ini.
"Tidak .. jangan katakan apa-apa. Kau akan sehat, kau akan melihat anak-anak kita tumbuh dan memiliki pasangan. Kau harus tetap menemaniku mendidik anak-anak." Jemari Dian mengusap air mata Gerry yang terus saja mengalir.
.
.
.
Dian menatap putra pertamanya dengan tatapan haru. Anak itu rela tidur di rumah sakit untuk menunggu dirinya. Jujur Dian sangat senang, namun hatinya juga miris melihat putranya meringkuk, rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak yang sehat.
"Mas, Zafa ga di suruh jemput Nino saja?"
"Tadi sampai di jemput mama sama papa yank. Tapi anaknya malah ga mau, dan malah nangis kejer."
Dian tersenyum mendengar cerita Gerry mengenai Zafa, karena biasanya anak itu akan selalu menurut pada mama Arini.
Yang jadi bahan obrolan mereka terbangun mendengar suara Dian. Ia mengucek matanya menatap brankar sang mama, Zafa langsung terlonjak dari ranjang menghambur memeluk Dian. Tangis Zafa pecah di perut Dian.
"Mama .. "
"Iya sayang, mama disini. Zafa jangan nangis lagi ya." Dian mendekap putranya itu dengan erat. Ia tau ketakutan yang Zafa rasakan saat ini.
"Mama jangan tinggalin Zafa! Zafa janji akan jadi kakak yang baik untuk adik-adik. Tapi mama jangan sakit lagi ..!" Gerry tersenyum, namun matanya terasa panas melihat ketakutan putranya. Apa jadinya jika suatu saat anak ini tahu jika Dian bukan ibu kandungnya. Tapi tidak, dia tak akan membiarkan itu terjadi.
.
.
.
Keluarga Selin sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap. Didi masih berada diluar bercakap-cakap dengan Pablo dan Diego. Mendengar kronologi yang diceritakan Diego membuat jantung Didi berdebar keras. Ia tak membayangkan betapa takutnya Judy saat berada di tangan Archel.
"Aku berhutang nyawa pada bos kalian." Ujar Didi. Dari cerita Pablo sebelumnya ia tahu jika Rian lah yang menembak Archel hingga tewas.
Setelah anak buah Rian pergi dari sana, Didi kembali masuk kedalam ruangan perawatan istri dan anaknya.
Ia melihat Selin duduk di samping Judy. membelai wajah putrinya dengan air mata yang tak pernah surut sejak tadi. Didi merutuki semuanya. Semua salah dirinya, seharusnya dia tetap menemui Archel pagi tadi. Sehingga tidak akan terjadi hal-hal seperti ini.
Didi memeluk Selin dari belakang. Mengecup puncak kepala istrinya berulang-ulang.
"Maafkan aku tidak bisa menjaga dan melindungi kalian." Desis Didi, dia berjongkok dihadapan istrinya menggenggam erat jemari Selin. Berusaha saling menguatkan satu sama lain.
Selin menggeleng lemah, semua bukan salah siapapun. Ini memang takdir yang sudah Allah gariskan untuk mereka.
"Tidak perlu merasa bersalah, seperti yang Gerry bilang. Jika semua sudah takdir, kita tidak akan tahu takdir mana yang menuntun kita."
"Jika begitu jangan menangis lagi ..! Kau butuh istirahat yang cukup. Pikirkan juga kesehatanmu dan Janin yang ada di dalam sana. Biar aku yang menjaga putri kita.
Selin mengangguk, tubuhnya seketika terasa melayang saat lengan kokoh Didi mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membaringkannya dengan perlahan dan hati-hati.
"Tidurlah ..! Aku akan menemani Judy."
Selin memejamkan matanya. Dan langsung tertidur. Didi menatap istrinya dengan hati teriris. Disaat seharusnya mereka bahagia menyambut anggota keluarga baru, tapi malah justru saat ini mereka berada di tempat yang tak seharusnya.
.
.
.
Aldo dan Veni berjalan menuju ruangan dimana Selin dan Judy berada. Mereka baru tahu kabar buruk yang menimpa keluarga Sahabatnya itu.
Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan ijin, Aldo dan Veni masuk ke ruangan itu.
Pemandangan yang begitu menyayat hati, Sahabatnya tampak duduk dengan lemah berada di tengah-tengah antara brankar Judy dan Selin.
"Hei bro .." Aldo memeluk Didi, dan tanpa di duga Didi menangis dalam rangkulan Aldo.
"Gue be*go banget Do, ga bisa jagain putri gue sendiri." Isak Didi sudah seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Sshh .... Sudah jangan salahkan diri Lo sendiri" Aldo menepuk punggung Didi, memberikan semangat pada pria itu.
Tak lama terdengar bunyi mesin EKG yang begitu nyaring. Jantung Didi langsung seperti terlempar jauh. Ia justru tertegun tak bergerak namun Aldo dengan sigap menekan tombol emergency.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐